images/berita/opini-hutan.jpgSORE itu cerah namun tidak demikian bagi beberapa anak yang keluar dari sela-sela semak dipinggir sungai kecil di daerah sungai Innuman Muara Kilis. Mereka adalah Gabok, Upadan, Tampung, dan Suni. Mereka duduk di jembatan yang dibuat untuk memudahkan para pembalak liar membawa kayu ke Saki Mili.
Dulu di tempat itu orang tua mereka bergantung hidup dalam memenuhi kebutuhan mencari makan. Yah…….mereka dulu tidak mengenal uang, mereka hidup dengan sangat sederhana. Yang dimiliki hanya tombak, parang, dan kain panjang sebagai harta kekayaan dan alat untuk survive di dalam hutan yang merupakan habitat mereka.
Dulu meraka gembira, makanan selalu terpenuhi walau tidak memiliki rumah karena mereka selalu berpindah-pindah (nomaden).
Kami berusaha mendekati mereka. Karakter mereka sangat pemalu. Dengan usaha kami akhirnya mereka berhasil diajak ngobrol. Ternyata mereka baru pulang dari mencari Labi-Labi untuk dijual.
Teman saya bertanya pada Gabok yang paling besar diantara temannya. “Dimano ado labi?”
Dengan pandangan yang layu Gabok menjawab “Dulu disiko banyak tapi lah abih” ucapnya dalam diskusi yang sangat kaku dengan kami. Tempat kami berbincang sekitar 25 KM dari Desa Muaro Kilis Kec, Tengah Iir, Kab, Tebo. Di lokasi perumahan yang baru diresmikan oleh Deputi KEMENSOS ini memang diperuntukkan bagi KAT, berada di tengah perkebunan milik perusahaan yang menanam karet dan sawit, tidak lagi hutan belantara seperti dulu. Tidak ada lagi pohon-pohon besar, binatang buruan. Wilayah kekuasaan kini telah berganti dengan hamparan perkebunan orang bermodal besar.
Berawal dari diskusi tesebut, kami semakin tertarik untuk dekati mereka, sosok lugu, sederhana, dan begitu polos. Mereka berusaha keras mencari makan demi bertahan hidup.
Mereka tidak pernah sekolah seperti anak-anak desa pada umumnya. Mereka tidak bisa membaca menulis apalagi mengaji. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi mereka tidak mengenal Negara Indonesia. Mereka selalu membantu orang tua mereka dan berpisah jika telah dianggap dewasa.
Laju deforestasi yang tidak terbendung membuat lahan mereka semakin hilang. Perambahan besar-besaran oleh perusahaan perkebunan, tambang dan kebutuhan masyarakat akan lahan untuk berkebun memaksa mereka untuk hidup berdampingan dengan masyarakat pada umumnya. Namun perubahan yang begitu drastis membuat mereka sulit menyesuaikan diri.
Kondisi ini tentu saja semakin memojokkan posisi SAD. Memang ada bantuan perumahan sebanyak 50 unit untuk 50 KK, dengan jumlah 503 Jiwa dari Dinas Sosial untuk perubahan pola hidup mereka yang nomaden, namun tidak sesuai sehingga rumah-rumah itu sering ditinggalkan.
Setelah beberapa hari mempelajari kebiasaan mereka, kami memberanikan diri memulai program pendampingan. Dimulai dengan mengumpulkan anak-anak usia sekolah, dibantu ketua kelompok mereka dan pendamping Dinas Sosial. Ketika kami memberikan baju seragam dan seperangkat alat tulis, raut wajah mereka kebingungan.
Dengan tubuh yang dekil, mereka sangat serius menyimak kata perkata yang kami ucapkan, walaupun masih malu–malu tetapi terbesit harapan dan cita-cita di diri mereka.
Lagu Bintang Kecil yang pertama kami ajarkan, merupakan sebuah impian yang harus mereka wujudkan, meski sulit. Dan tentunya mereka juga punya impian layaknya anak-anak seusia mereka.
Saya percaya lahirnya PELITA KITA merupakan harapan bagi mereka untuk memperoleh hidup lebih baik. Sangat jelas di ingatan saya ketika rekan Firdaus mengajak mereka menyanyikan bintang kecil, nampak keceriaan di wajah mereka dengan pendidikan alam yang mereka dapat.
Ketika kami bertanya, “Suni dimano Bintang?” Suni lalu menjawab “di Kiun(disana)! “ sambil menunjuk ke langit.
Betapa sedihnya kami mendengar jawaban itu. Betapa jauh langkah yang harus mereka tempuh untuk menggapai mimpi. Padahal dalam UUD 1945 Pasal 32 yang berbunyi “fakir miskin dan rakyat terlantar dipelihara oleh negara”, hak mereka untuk dilindungi itu ada. Namun jangankan mendapat perhatian, bahkan mereka tidak mengenal Indonesia sebagai negara mereka.
(Penulis: Oktaviandi Mukhlis/ketua PELITA KITA).
Follow twitter kami @infojambidotcom |
