GOSIP (Bagian 1)
Karya : Astrid
Dari balik meja kerjanya, menembus kaca jendela yang dibentengi terali besi pengaman, Fresca mengamati Dinah dan Ledia berbincang di areal parkir motor. Dia sudah hafal mimik Ledia kala membicarakan hal yang amat serius, atau gawat, menurut ukurannya sendiri. Bersemangat, meletup-letup dan puas jika orang lain terkesima mendengarnya. Pasti itu lagi yang diulang-ulangnya dan kali ini Dinah yang jadi sasarannya.
“Nan…, tolong bereskan lap top ini ya?” dengan matanya menunjuk ke arah laptop yang tadi dipakainya.
Laptop berwarna biru itu adalah satu-satunya benda cantik di ruang kerjanya. Semua meubel, kursi, printer dan desktop dan gambar dinding berumur setidaknya lima tahun. Ruang kerjanya dan ruang lain di kantor ini tidak pernah ditata designer interior profesional.
Duahari lalu Fresca pulang dari perjalanan dinas ke Merangin. Tubuhnya. masih capek, digoncang perjalanan 12 jam bolak balik ke salah satu kabupaten di ujung barat provinsi. Adegan Ledia dan Dinah yang baru lewat membuatnya tambah lunglai.
“Aku tak boleh terintimidasi oleh mereka…,” Fersca berbisik pada dirinya sendiri. Kakeknya memberinya nama Fresh Catarina, tigapuluh enam tahun lalu, agar dia menjadi perempuan yang selalu cantik dan tegar seperti Catarina, seorang ratu yang hidup di Eropa sana entah pada abad berapa.
Aku tidak akan mengecewakan kakekku, dia bertekad.
Ditinggalkannya ruang kerja Divisi Program yang sederhana, disesaki tumpukan dokumen anggaran dan laporan evaluasi kegiatan dinas. Hanya personil terbaik di kantor ini yang ditunjuk menjadi kepala divisi program. Namun si tegar Fresca telah menemui pucuk pimpinan dinas empat bulan lalu dan mengungkapkan niatnya mengundurkan diri. Ia ingin merahasiakan hal itu namun berita tersebar dengan cepat. Kadis memintanya bertahan hingga ditemukan calon pengganti yang tepat.
Sore itu lalu lintas di kawasan Mayang cukup padat. Jarak kantor dan rumahnya tak jauh, hanya 10 menit bermobil. Dulu dengan motornya, dia hanya butuh waktu 3 menit. Fresca mulai merasa nyaman dengannya kendaraannya yang baru, sebuah sedan berwarna metalik.
“Sorry, bukan aku yang mengatur acara pertemuan itu. Mereka benar-benar lupa mengundangmu,” percakapannya dengan Susan sekitar dua pekan lalu berkelebat. Susan mengelak disalahkan karena tidak menyertakannya pada pertemuan sosialisasi dengan pejabat pusat beberapa waktu sebelumnya.
“Karena itu aku tidak bisa menjelaskan mengapa anggaran pembangunan pasar tani itu diblokir…. Tak ada informasi apapun tentang itu yang kuperoleh. Silakan tanya kepada pejabat yang datang waktu itu,” ucap Fresca.
Dari pancaran mata Susan tampak ia tidak senang dengan jawaban itu. Complain Susan berhubungan dengan sesuatu yang dari awal tidak melibatkan dirinya. Terserahlah jika Susan akan menggunakan pengaruhnya terhadap Kadis. I can explain it, bisik hati Fresca .
Kilasan percakapan dengan Susan melintas sementara Fresca mengendari mobilnya pulang. Perbedaan pendapat acap terjadi antara dirinya dengan pejabat teknis dan seringkali dia harus berkata tidak untuk permintaan-permintaan mereka. Apa karena itu dia disebut keras bahkan rude... kasar.
Enam tahun di divisi Program telah merubahnya. Fresca yang dulu fresh menjadi Fresca yang mengkerut digerus pekerjaan dan usia. Ia ingat penampilannya sepulang sekolah S2 dari Denmark. Kadang dia mengenakan gaun musim seminya, katun dengan motif bunga-bunga kecil, terlihat nyaman dan anggun di tubuhnya yang tinggi. Lebih sering sebenarnya dia mengenakan celana jeans warna biru muda dipadu kemeja corak kotak-kotak. Sepatu yang dikenakannya bertumit dua atau paling tinggi tiga centi. Wajahnya yang putih kemerahan dipupuri powder tipis dan seulas lipstick warna pink di bibirnya yang segar. Mereka bilang penampilannya mirip Elle Mcpherson, si mantan foto model itu.
Pandanglah dia sekarang. Hampir setiap hari mengenakan seragam pegawai negeri abu-abu dan sepatu pansus warna hitam. Paras wajahnya tegang. Lipstick tipisnya tidak sempat dipoles ulang, memperjelas garis-garis bibirnya yang belakangan makin kerap menghirup hitamnya kopi. Matanya sering berkaca-kaca karena kelelahan menatap layar komputer.
Akhir-akhir ini dia diganggu pertanyaan sampai kapan hidupnya begini?. Membawa pekerjaan kantor ke rumah dan menomorduakan kehidupan sosialnya. Selain pesta perkawinan atau aqeqah yang dihadirinya bersama suaminya, Fresca tidak punya waktu lagi menghadiri arisan erte, yasinan setiap Jumat atau pertemuan para istri di organisasi para lawyer dimana suaminya bernaung.
Minggu lalu, dia menyempatkan diri untuk mendampingi Ocean putrinya mengikuti pelatihan penulis cilik. Alangkah gembiranya Ocean, sebentar-sebentar melirik ke barisan belakang, mencari-cari dirinya di barisan orangtua yang mendampingi anak-anaknya. Ketika putrinya berhasil menyelesaikan ceritanya satu halaman folio, dia berlari mendekat dan memeluknya. ”Mama, lihat tulisanku. Bagus kah?”.
Dia bertekad untuk hidup lebih balans, terutama bagi putri tunggalnya yang sangat membutuhkan kehadirannya. Kantornya yang memiliki staf perempuan lebih banyak dari staf laki-laki itu membuatnya mulai muak. Terlalu banyak perempuan, dan terlalu banyak gosip. Kini gosip itu mencekiknya, pelan dan pasti . (***)






