Acara dialog yang dilanjutkan dengan panen sapi Bali itu dihadiri pula oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Ahmad Junaidi.
Dalam wawancaranya HBA menginginkan masyarakat mengerti mengenai daging yang sehat dan toyyib serta juga memperlakukan ternak yang baik akan mempengaruhi kualitas daging. Masyarakat juga harus mengerti cara memotong yang baik, sehingga daging yang dipotong halal.
Melihat usaha peternakan yang dilakukan masyarakat Desa Kasang Pudak, HBA merasa yakin Jambi akan aman terhadap pangan dan melepaskan diri dari ketergantungan pasokan luar. Kalau saja semua daerah berfikir seperti itu, kebutuhan pangan di Jambi bakal tercukupi.
Direktur Kesmavet dan Pasca Panen, Ahmad Junaidi menjelaskan, ketahanan pangan harus memenuhi syarat dan kualitas sehat konsumsi. Bukan kuantitasnya, tapi kualitasnya, agar tidak mengandung penyakit.
Junaidi menyatakan sangat mendukung integrasi sapi dan sawit (sasa). Bagaimana mencukupkan tanah air dengan sapi sendiri. Indonesia kurang mengoptimalkan potensi dalam negeri. Buktinya, kedele tidak ada sedikit saja, sudah susah dibuatnya. Ia berharap integrasi sasa yang sedang dilakukan di Jambi menjadi contoh daerah lain.
Bupati Muaro Jambi, H Burhanuddin Mahir, menyebutkan, kondisi Kabupaten Muaro Jambi sangat cocok untuk integrasi sapi dan sawit. Di daerah itu ada 130 ribu hektar kebun kelapa sawit yang bisa dibuat integrasi sapi dan sawit. Jika dua sapi bisa untuk satu hektare, maka kebutuhan daging bisa teratasi.
“Jika memungkinkan dapat dijadikan daerah sentra peternakan terbaik. Kami butuh bantuan pemerintah pusat untuk dijadikan sentra. Tidak perlu lagi mendatangkan sapi dari Lampung, Sumbawa atau Amerika,” ujar Burhanuddin.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Jambi, Ir H Sepdinal MM, panen sapi Bali siap potong dan daging ASUH di daerah Kasang Pudak merupakan program 2011. Dalam kurun waktu sembilan bulan mampu menghasilkan paling rendah 250 kilogram dan paling tinggi 400 kilogram daging.
Hasil dari peternakan sapi tersebut 70 persen diperuntukkan bagi petani dan 30 persen untuk pemerintah. Bagi masyarakat daerah Kasang Pudak, peternakan itu merupakan usaha sampingan yang mampu memberi hasil maksimal.
“Keseriusan dan kelanjutan program ini akan mampu memenuhi atau swasembada daging di Provinsi Jambi dengan cara membangun kepercayaan masyarakat tentang kualitas daging ASUH yang juga halal,” ujar Sepdinal. (infojambi.com/HMS)






