RINDUNYA HAUS SEHAUS RINDU
oleh Abu Fanna
Dalam tidurnya wajah bulan sepenggalah
Seberkas sinar temaram entah darimana
Menggandeng nestapa menuju sahara
Tubuhnya terkapar bersimbah putus asa
Walau sempat menggeliat namun semakin sekarat
Hoi…malam nan bisu berkelambu pilu
Tengoklah wajah bulan sepenggalah
Jari jemarinya terburai di awang-awang
Lantaran keperihan tak jua usai
Bahkan belati waktunya kian menghunjam jantung
Apatah lagi mesti diujarkan
Jika rindunya haus sehaus rindu
Bersolek bak pujangga melantunkan syair-syair
Lalu berkisah matinya rindu di pelukan nestapa
Hoi…mata hati nan tak lagi tajam
Berfikir dan berdzikirlah di atas rerumputan basah
Karena mentari sebentar lagi kan menghilangkan embun rerumputan
Biarkanlah seberkas sinar temaram entah darimana
Menggandeng nestapa menuju sahara
Tafakkurlah seraya mengunci mati : “Isyhadu bianna muslimuun”
(“sigma nostalgia”, Muharram 1431 H)






