KUALATUNGKAL - Atap tambatan perahu yang berada di Pelabuhan Ampera roboh, Rabu dini hari (23/5). Akibatnya, satu unit pompong tambang, tertimpa material atap. Hingga saat ini belum satupun petugas Dinas Pekerjaan Umum (DPU) meninjau ke lokasi.

" Jam 2 Subuh ambruknya. Ini sudah kedua kali ambruk, sejak dibangun 2008 lalu," kata Bani, salah satu penambang pompong.

Pompong yang tertimpa material kayu itu diketahui milik Ateng. Akibatnya, dia tidak bisa menggunakan perahu mini itu untuk mencari penumpang. Material akhirnya dievakuasi warga pada siang tadi secara bergotong royong. Runtuhan atap dan kayu ditumpuk diatas dermaga tersebut.

" Kami tidak berani ngambil materialnya, karena masih punya Pemkab," kata Bani.

Selain atap, pondasi tambatan perahu terlihat miring dan nyaris ambruk. Sejak dibangun, penambang hanya menggunakan tambatan perahu untuk tempat beristirahat. Keterangan yang dihimpun di lokasi, akibat reruntuhan atap tambatan perahu, tidak ditemukan korban jiwa. 

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Tanjabbar, Ahmad Jakfar mengatakan robohnya tambatan perahu di pasar ampera adalah tanggungjawab Dinas Pekerjaan Umum Tanjabbar. Tahun ini, DPU punya anggaran Rp 9 miliar untuk perawatan jalan dan jembatan.

Menurut Politisi dari Partai Golkar ini, dengan kondisi darurat, DPU harus menggunakan anggaran perawatan itu untuk memperbaikinya, meskipun tidak masuk dalam kategori jalan dan jembatan.

" Nanti kan bisa di desaign lagi, melalui anggaran tahun berikutnya. Urgensi-nya, anggaran Rp 9 miliar itu kan ada. Dan sampai saat ini, kita tidak tahu, jalan dan jembatan mana saja yang sudah diperbaiki. Laporan ke dewan juga tidak ada," terang Jakfar.

Kata dia, tambatan perahu adalah sarana transportasi publik, untuk menyokong ekonomi masyarakat. " Ya, itu tanggungjawab DPU," timpalnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaa Umum Tanjabbar, Ir Djadjang Djuhri ST MM, tidak berkomentar banyak. Kata dia, akan melakukan peninjauan ke lokasi robohnya tambatan perahu.(infojambi.com/dam)