SAROLANGUN - Tiga Pengcab olahraga Taekwondo menilai kepemimpinan juri cabang olahraga taekwondo curang dan memihak ke salah satu kontingen. Puncaknya, pada partai final, Minggu (24/6), dua pelatih taekwondo yakni Tebo dan Kota Jambi mengamuk di lokasi dengan melemparkan kursi karena kesal dengan keputusan juri yang dinilai merugikan mereka.

Pelatih taekwondo Kota Jambi Eprial misalnya. Pada partai final kelas under putri 68 kg dan kelas under 48 kg, Eprial mengamuk karena merasa dicurangi dengan keputusan wasit yang tidak memberikan poin kepada anak asuhnya ketika pukulan masuk ke musuh. Tapi pada kenyataannya, bukan atletnya yang mendapatkan poin dari juri, tetapi atlet yang menertima pukulan yang diberikan poin.

"Jelas pukulan atlet kami mendarat ke kepala musuh dan terjatuh pada saat melawan Batanghari, tapi kenapa poin malah diberikan kepada yang terjatuh, ini jelas tidak masuk akal, seharusnya pada partai itu atlet kami yang menang," ujar Eprial.

Dilanjutkannya, bukan hanya hari ini saja kami dicurangi, sehari sebelum ini atlet lainnya juga mengalami nasib yang sama, melayangkan pukulan telak ke musuh tapi tidak mendapatkan poin, yang anehnya lagi dikatakannya, lagi-lagi musuh malah mendapatkan poin pada waktu itu.

"Sehari yang lalu saya masih sabar dengan keputusan juri, tapi lama-kelamaan keputusan mereka yang jelas merugikan saya membuat saya tidak bisa menahan emosi, makanya saya protes dan saya ributkan," katanya.

Eprial menjelaskan, seharusnya jika memang fair mereka sebagai juri menghentikan pertandingan ketika kondisi sedang tidak kondusif, karena banyaknnya protes yang diajukan. Tapi pada saat itu juga mereka malah memberikan keputusan memenangkan salah satu atlet, padahal pertandingan belum selesai.

"Kalau saya nilai ini sebuah kesalahan, karena mereka langsung mengambil keputusan dan menyatakan pemenang ditengah kondisi itu," kesalnya.

Dengan tegas Eprial akan melaporkan hal ini ke PBTI Provinsi Jambi, karena merasa dirugikan. Selain itu, Eprial jugamempertanyakan SK juri yang diindikasikan tidak sah dan tanpa sepengetahuan PBTI Provinsi.

Sementara, Palatih Taekwondo Tebo, Roby Harja juga mengeluhkan hal yang sama usai ribut pada saat atletnya bertanding. Dirinya mengatakan, pada saat atletnya mendaratkan pukulan ke musuh dan poin, tapi pada saat itu juga poin malah diberikan kepada atlet lain dan dinyatakan menang.

"Jelas terlihat, pukulan atlet kami mendarat dan poin, tapi kenapa poin diberikan kepada musuh, inikan keputusan aneh dan tidak profesional," katanya.

Dilanjutkan Roby, jika penilaian yang dilakukan juri seperti ini, Taekwondo tidak akan menciptakan atlet yang berbakat, tapi hanya faktor kepentingan yang berbicara dengan memihak kepada salah satu pengcab untuk mencari keuntungan.

"Mereka yang ditunjukkan orang berpengalaman, tapi kok tidak bisa memberikan penilaian yang jelas dan malah salah memberikan penilaian, apakah itu sengaja, kalau dilihat dari kasat mata, itu jelas sengaja," sebutnya.

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Official taekwondo Muaro Jambi, Widi. Dirinya mengatakan, juri taekwondo saat ini terlalu mudah memberikan penilaian tanpa melihat kepastian atlet yang seharusnya mendapatkan poin. Bahkan keputusan wasit kerap kali merugikan mereka. (infojambi.com/SAR)