Pasar bedug di Kuala Tungkal tahun lalu. (DAM)Pasar bedug di Kuala Tungkal tahun lalu. (DAM)

KUALATUNGKAL — Sehari menjelang 1 Ramadhan 1433 Hijriyah, tercatat baru 60 lapak yang dipesan oleh pedagang untuk berjualan di pasar bedug, di Jalan Melati, Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar). Padahal, pemerintah setempat menyiapkan 112 lapak.

Rendahnya minat pedagang berjualan di pasar bedug diperkirakan salah satunya gara-gara naiknya tarif sewa lapak. Tahun lalu sewa lapak dipatok Rp 130 ribu, namun tahun ini naik menjadi Rp 140 ribu. Sementara fasilitas yang disediakan dinilai sangat tidak memadai.

Seorang pedagang pasar bedug, Tena, menyatakan akan melakukan protes jika terpal di lapak yang sewanya masih bocor seperti tahun lalu. Ia menuntut kenaikan tarif sewa diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan.

Kasi pasar Kantor Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Tata Bangunan (PPKTB) Tanjabbar, Khairul Saleh, mengakui, hingga H-1 Ramadhan baru 60 pedagang yang memastikan akan berjualan di pasar bedug.

Menurut Khairul, kenaikan sewa lapak berukuran 1,2 meterpersegi tersebut disesuaikan dengan kemampuan pedagang. Biaya itu sudah termasuk untuk listrik dan kebersihan. Kenaikannya dianggap tidak terlalu signifikan, hanya Rp 10 ribu.

Soal terpal yang bocor, Khairul tidak bisa menjamin bebas dari kebocoran. Pasalnya, terpal yang dipakai tahun ini masih terpal bekas tahun lalu. Namun ia berjanji jika nanti ada terpal yang bocor akan diperbaiki.

Selain pasar bedug, PPKTB Tanjabbar juga akan menggelar pasar murah sebanyak 350 lapak. Hanya saja lokasi untuk pasar murah masih dicari yang paling strategis. Tahun lalu pasar murah digelar di Jalan Palembang. (infojambi.com/DAM)