images/tahu.jpgKOTAJAMBI – Stok bahan baku pembuatan tahu dan tempe di Jambi aman, persediaan cukup. Yang menjadi kendala saat ini masalah harga, namun ini merupakan kebijakan nasional, sehingga daerah tidak dapat berbuat banyak. Hal ini diucapkan Gubernur Jambi Drs. H. Hasan Basri Agus, MM, usai meninjau langsung sentra pembuatan tahu dan tempe yang ada di lorong Gembira, Kelurahan Raja Wali, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, Selasa (31/7).
Gubernur didampingi Asisten II Ir. H. Havis Husaini, MM, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, Drs. ABD. ZAKI, Msi, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jambi, Ir. Amrin Aziz, Msi, bersama Walikota Jambi dr. R.
Dijelaskan Gubernur, sampai saat ini bahan baku tahu-tempe di Jambi masih mengandalkan kedelai import, karena bahan baku lokal atau kedelai lokal produksinya tidak mencukupi, disamping para petani kedele di Jambi masih belum bisa memproduksi kedelai sebagaimana yang diharapkan, seperti dipanen saat kedelai belum tua betul dan belum kering, sehingga kadar airnya tinggi. Sehingga bila dipaksakan tidak bisa digunakan untuk memproduksi tempe, karena rasanya akan pahit, dan yang sesuai untuk dijadikan tahu.
Walaupun demikian yang cukup menggembirakan ternyata harga kedelai di Jambi masih lebih murah dibandingkan di Jawa, jika di Jawa saat ini harga kedelai mencapai Rp7.800,- hingga Rp8.000,-/kg, di Jambi masih Rp7.600,-/kg, sebelumnya harga kedelai hanya Rp6.000,-/kg, dengan harga seperti saat ini maka para pengusaha tahu – tempe tidak mendapatkan keuntungan, bahkan merugi, karenanya para pengusaha terpaksa akan menaikkan harga juga produksinya, dan ini tentunya dapat dimaklumi, tambah Gubernur.
Untuk membantu para pengusaha tahu dan tempe di Jambi, Pemerintah Provinsi Jambi akan memberikan bantuan peralatan produksi, seperti yang pernah dilakukan pada tahun sebelumnya, demikian juga dengan pemerintah kota Jambi, ini akan diberikan secara bergantian, karena jumlahnya banyak, tambah Gubernur.
Sementara itu menurut pengusaha tahu Sadikin, sebenarnya kedelai lokal jika diproduksi secara benar lebih bagus kualitasnya untuk membuat tahu – tempe, seperti kedelai jenis anjas moro, namun disayangkan, biasanya para petani saat menawarkan membawa contoh kedelainya bagus, tetapi begitu dipesan sampai dua ton masih bagus, tetapi begitu dipesan dalam jumlah hingga 50 ton, biasanya yang satu ton tidak dapat digunakan, termasuk masih banyak kotorannya, sedangkan kebutuhan kedelai di Jambi setiap harinya mencapai 10 ton.
Disamping itu Sadikin menjelaskan, rencananya para pengusaha tahu-tempe di kota Jambi yang jumlahnya 91 pengusaha, akan menghentikan produksinya selama tiga hari kedepan (Jum’at, Sabtu dan Minggu). Ini maksudnya untuk memberi aba-aba akan adanya kenaikan harga jual tahu dan tempe di kota Jambi. Dimana rencananya kenaikan harga jual tempe perpotongnya yang biasanya di jual dengan harga Rp2.000,- akan menjadi Rp2.500,- .
Demikian juga yang disampaikan Abdul Kadir, juga seorang pengusaha tempe,gejala kenaikan harga kedelai ini dirasakan sejak bulan Februari yang lalu, dimana hampir setiap hari harganya terus mengalami kenaikan, dan puncaknya pada minggu terakhir ini, mencapai harga Rp7.800,-/kg, jelasnya. (infojambi.com/HMS).
Follow twitter kami @infojambidotcom |
