Sabtu, 30 Agustus 2014 Pukul 04:09:31

HairuniHairuniDZULHIJJAH, apa yang terbayang dalam benak kita tentang bulan ini, ketupat, tradisi mudik atau yang lainnya? Hanya anda yag tahu isi benak anda. Namun yang jelas dalam  kebudayaan tradisi islam bulan ini akan mengingatkan umat islam beberapa hal dan peristiwa yang sangat urgen yang menjadi salah satu fondasi ajaran islam yakni menunaikan ibadah haji bagi yang mampu baik secara materi maupun immateri ke tanah suci yakni Mekah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah, selain itu pada bulan Dzulhijjah ini juga diwajibkan menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Satu hal yang menarik dari dua ibadah ini yakni terbentuknya konsep ibadah haji dan qorban yang berawal dari satu keluarga yakni keluarga  Ibrahim atau Abraham, tuntunan ibadah yang merupakan ujian yang sangat berat bagi keluarga nabi Ibrahim AS khususnya dan kita umat islam umumnya.  Ujian  sebagai bentuk mengukur kualitas keimanan keluarganya dan ketaatan kepada tuhannya. Qisah tentang perjalanan hidup keluarga Ibrahim mencari jati diri, mencari pencerahan hakiki merupakan qisah yang tertera dengan jelas dan luar biasa didalam kitab-kitab agama samawi, ia bukan sekadar cerita sebagai dongeng pengantar tidur,  ia bukan sekadar cerita yang tidak memiliki pesan-pesan teologis, sosial-humanisme. Ia adalah kisah yang menggetarkan keimanan, kisah yang mengusik sanubari penuh dengan dilema kasih-sayang.

Sebagai insan yang memiliki rasa keingin-tahuan yang sangat luar biasa, Ibrahim terus mempertanyakan siapakah yang telah menciptakan alam ini. Ibrahim merupakan tipe orang yang haus akan nilai-nilai ketauhidan, tabah, pantang menyerah dan putus asa untuk menggapai ma’rifah hakiki, proses pencerahan yang berliku dan penuh dengan pengorbanan namun dengan akhir perjalanan yang sempurna. Titik awal dimulainya proses pencerahan Ibrahim dimulai dengan renungan yang panjang tentang eksestensi tuhannya. Nabi Ibrahim adalah salah satu model terbaik dalam eksprimen keimanan, ia membangun fondasi keimanan yang kokoh dengan memadukan kesucian jiwa dengan kecerdasan logika. Seluruh ayat kauniyah yang dilihatnya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan teologis tentang siapa yang menciptakannya, dengan logika yang sederhana  ketika ia melihat sang mentari pagi terbit diufuk timur dengan semburat warnanya yang indah lembut namun tegas mampu menjadi sumber pencahayaan bagi semesta, ia berkesimpulan bahwa sang suryalah yang menjadi sumber dari seluruh kehidupan di semesta ini, namun alangkah kecewanya Ibrahim ketika senja merambat malam, sang surya tenggelam menuju keperaduannya tanpa meninggalkan seberkas cahaya sedikitpun, namun kekecewaanya melahirkan satu kesimpulan bahwa tidaklah mungkin matahari yang terbit dikala pagi dan tenggelam diwaktu sore yang menjadi sumber kehidupan di dunia ini, tentu yang menciptakan mataharilah sebagai sumber teragung yang mengatur semesta jagat ini. Proses pencerahan  yang sederhana namun mampu membangun fondasi keimanan yang kokoh yang mampu menghadapi ujian sebesar dan seberat apapun.

Ujian pertama  untuk Abraham adalah ketika  terjadi perang dingin diantara dua orang istrinya yakni Sarah dan mantan budaknya Hajar. Problem  sederhana yang dimulai dari Sarah yang terbakar rasa cemburu kepada Hajar disebabkan Hajar dikarunia seorang anak laki-laki hasil buah cintanya dengan Ibrahim, kecemburuan dan rasa ketakutan akan disisihkan, tidak diperhatikan oleh Ibrahim, menyebabkan ia mengambil inisiatif dengan cara yang halus agar Hajar diungsikan ketempat lain, ibarat memakan buah simalakama bagi Ibrahim disatu sisi  ia mencintai Sarah namun disisi lain ia juga menyayangi Hajar dan buah hatinya yang bernama Ismail, untuk menyelesaikan permasalahan ini, Ibrahim memohon petunjuk kepada tuhannya sehingga ia memperoleh wahyu bahwa tempat yang paling tepat untuk tempat tinggal yang baru bagi Hajar dan Ismail adalah wilayah yang bernama Bakkah{Mekkah sekarang} ini. Dengan berat hati Ibrahim mengantar Hajar dan Ismail kecil ketempat yang direkomendasikan oleh tuhannya, namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat tempat yang dimaksud adalah padang pasir yang gersang jauh dari permukiman namun mengingat ini adalah perintah tuhannya maka dengan berat hati berlinangan air mata, istrinya Hajar dan buah hatinya Ismail ditinggalkan ditempat  tersebut. Ditempat inilah kelak terbentuk salah satu proses rangkaian ibadah haji yakni Sa’i dari bukit Shafa ke bukit Marwa sebanyak tujuh kali sebagai salah satu bentuk penghormatan atas kesabaran,  kegigihan, dan cinta kasih yang tiada ternilai dari seorang ibu kepada anaknya untuk mempertahankan kehidupan buah hatinya Ismail yang kehausan.

Waktu terus berlalu,  Bakkah yang sepi mulai ramai dan pemukiman mulai di dirikan. Ibrahim  yang diangkat menjadi seorang rasul mendapat tugas yakni membangun tempat peribadahan ditempat tersebut yang tetap abadi sampai sekarang yakni Baitullah, setelah proses pembangunan selesai dengan dibantu oleh Ismail yang sudah beranjak remaja, Ibrahim diperintahkan untuk menyeru seluruh makhluk hidup disemesta alam ini agar mnziarahi tempat ibadah yang dibangunnya, maka ia pun berteriak dengan suara yang keras dari puncak bukit Abi Qubais” wahai manusia, sesunguhnya tuhanmu telah memerintahkan kalian untuk menziarahi dan mengunjungi Ka’bah ini, agar kalian mendapat balasan sorga dan dijauhkan dari siksa api neraka’. Seruan inilah titik awal proses haji yang tetap dilakukan hingga sekarang ini.

Namun  ujian gari sang khalik belum berhenti Ibrahim  diperintahkan lewat sebuah mimpi untuk mengorbankan putra kesayangannya Ismail yang beranjak remaja, tentu ini merupakan satu hal yang sangat berat untuk dilaksanakan, akan tetapi karena fondasi keimanan yang kokoh yang terbentuk diantara mereka,  perintah yang tidak logis ini pun di laksanakan. Ismail dengan hati yang dipenuhi cahaya keimanan merelakan dirinya dijadikan korban yang diperintahkan kepada mereka, dengan langkah yang pasti Ismail menuju ke altar pengorbanan namun sebelum peristiwa yang tragis terjadi, kemu’zijatan terlihat sosok ismail yang terbaring digantikan oleh seekor hewan domba. Peristiwa yang menegangkan ini menjadi disyariatkannya berqorban dengan hewan untuk segenap kaum muslim yang mampu secara materi.  Disyariatkannya ibadah haji dan qurban bagi yang mampu untuk umat islam merupakan bentuk ujian yang mengukur seberapa jauh keimanan yang dimiliki, dua ibadah ini tidak hanya mampu dalam segi fisik namun juga mampu dalam segi materi, lebih-lebih lagi ibadah haji yang membutuhkan persiapan yang matang dan pengorbanan yang sangat besar,  siap secara fisik dan psikis, siap secara  materi untuk bekal ketanah suci dan materi untuk keluarga yang ditinggalkan, yang jelas ibadah haji dan qorban memiliki nilai-ilai hikmah yang sangat luar-biasa, hikmah yang mengandung pesan teologis, sosial dan moralitas bagi kita semua.

Proses ibadah haji menurut Ali Syariati, merupakan gladi resik kehidupan negeri akhirat dengan puncak prosesnya wuquf di padang arafah yang merupakan miniatur Padang Mahsyar. Ketika prose wuquf di Arafah, insan yang melaksanakannya dengan keikhlasan memakai pakaian yang sama meninggalkan status kehormatan yang disandangnya, tidak peduli apakah ia seorang kepala negara atau seorang yang miskin papa, ketika dipadang Arafah ini saling berbaur satu sama lain, status sosial tidak dipandang dalam proses ini, seluruh jamaah haji memiliki posisi dan status yang sama, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Alangkah indahnya jika kondisi dan situasi ini terus membekas didalam sanubari para jamaah haji sehingga ketika mereka pulang ketanah air masing-masing tampil menjadi sosok yang rendah diri dengan kepekaan sosial yang tinggi. Namun apa lacur, hanya segelintir orang-orang saja yang mampu menjaga prilaku yang mulia ini, selebihnya kembali kewatak yang asli, haus akan kekuasaan, gila akan kehormatan, dengan embel-embel haji didepan namanya tidak membuat ia sadar, justeru prilaku tercelanya semakin menjadi-jadi, kepekaan sosialnya hilang entah kemana. Proses haji  yang dilaksanakannya hanya sekadar seremonial belaka dan untuk mengokohkan status sosialnya di pandangan masyarakat. Miris, inilah realita yang terlihat ditengah kita,  gelar haji yang diperoleh tidak memberikan dampak yang fositif bagi pola kehidupannya apalagi untuk masyarakat sekitarnya.

Konsep ajaran Islam yang sangat menghargai pengorbanan seseorang merupakan sisi lain dari rukun ibadah haji yakni Sa’i. Sa’i sebagai simbol cinta kasih seorang ibu kepada anaknya, melakukan apapun demi mempertahankan kehidupan sang buah hati, merupakan nilai-nilai moralitas dan etika yang sangat penting untuk direnungkan di zaman sekarang, di mana para insan yang mengaku beradab dengan semena-mena menelantarkan buah cinta-kasih mereka, bahkan dengan teganya membuang anak-anak yang merupakan darah dagingnya dengan alasan faktor ekonomi, aib dan lain sebagainya. Inikah yang disebut sebagai manusia yang beradab yang hidup diera modern namun terbelakang dalam konsep pemikiran. Selain itu disyariatkannya Sa’i merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap Hajar sebagai simbol wanita yang mulia yang notabene merupakan mantan budak. Setidaknya ini merupakan salah satu konsep ajaran islam yang sangat memperhatikan, memuliakan kaum Hawa. Miris, kalau kita lihat realita di sekitar kita, betapa buruknya perlakuan masyarakat terhadap kaum hawa, kaum hawa hanya dijadikan bahan komersialisasi dengan mengeksploitasi keindahan tubuhnya untuk dijadikan model-model produk tertentu, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan kasus-kasus lainnya. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan konsep ajaran islam yang sangat menghargai kehormatan kaum Hawa.

Disyariatkannya berqurban memiliki makna filosofis yang mendalam, ia tidak hanya sebagai bentuk ketaatan kepada tuhan namun juga sebagai simbol keikhlasan saling berbagi satu sama lain. Konsep teologis namun sarat dengan nilai-nilai sosial merupakan salah satu ciri-ciri ajaran islam yang mengusung ide rahmatal lil’alamin, keikhlasan untuk berqurban dengan ukuran materi yang tidak kecil serta keikhlasan berbagi  daging qurban dengan sesama muslim merupakan nilai-nilai kebersamaan yang sangat indah. Andai saja keikhlasan berbagi ini langgeng, yang kaya rela berqurban dan hasil dari qurban dinikmati bersama-sama, tentunya problem yang yang terus menghantui bangsa ini akan terselesaikan, paling tidak sedikit berkurang yakni hantu kemiskinan yang terus menjadi momok bangsa ini. Ironis, ketika ritual qurban berlalu, semangat berbagi antara yang kaya untuk simiskin menguap tanpa bekas. Semangat qurban dengan nilai-nilai kesosialannya, saling berbagi tidak meresap dalam kehidupan sehari-hari, yang kaya hanya memikirkan bagaimana cara menumpuk materi tanpa mau berbagi dengan mengeluarkan zakat misalnya untuk saudaranya yang muslim yang membutuhkan. Keindahan masa-masa kebersamaan tatkala hari raya Qurban hanya sebatas kulit saja, tidak lebih acara seremonial yang tidak berarti apapun yang sirna ditelan lekangnya waktu.

Inilah gambaran kehidupan masyarakat disekitar kita, memahami dan melaksanakan sesuatu baik ibadah haji maupun berqurban hanya dijadikan tradisi tanpa berupaya memahami pesan-pesan teologis-moralitas yang terkandung didalam ibadah tersebut, semestinya nilai-nilai yang terkandung di balik kewajiban berhaji dan berqurban mampu menjadi salah satu sulosi  kehidupan berbangsa, saling menghormati satu sama lain tanpa memandang status sosial yang dimiliki dan  saling berbagi satu sama lain.

Profil Penulis :
Nama: Hairuni
Status: Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Fak, Ushuluddin, Prodi Tafsir Hadits, periode 2009. Aktif di Lembaga Studi Qur’an dan Hadits{LSQH}, Fak, Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Alamat Asal: Kuala Tungkal, Jambi.
Alamat Sementara: Karanganyar, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta.
CP: 0896 718 762 78.


Follow twitter kami @infojambidotcom | Tetap update informasi di manapun dengan http://m.infojambi.com dari browser ponsel Anda!


 

Berita Terkait