Kamis, 18 September 2014 Pukul 09:23:52

DINAS Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jambi  yang dibentuk berdasarkan Perda Provinsi Jambi Nomor 14 Tahun 2008, ikut berupaya mensukseskan program Jambi Emas 2015. Sejalan dengan fungsinya, SKPD ini turut merumuskan kebijakan teknis di bidang kelautan dan perikanan.

Perikanan1Pembangunan kelautan dan perikanan Provinsi Jambi tahun 2012 fokus pada pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan, dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Untuk meningkatkan ekonomi juga mempertimbangkan daya dukung lingkungan hidup dan kelestariannya.

Kinerja pembangunan kelautan dan perikanan selama 2012 menunjukan peningkatan. Hal itu terlihat dari peningkatan indikatornya, antara lain jumlah produksi perikanan tangkap dan budidaya, penyerapan tenaga kerja, ketersediaan ikan untuk konsumsi masyarakat, ketersediaan benih ikan dan jumlah maupun jenis sarana perikanan tangkap dan budidaya.

Beberapa hambatan dan kendala yang dihadapi tahun lalu menjadi pertimbangan untuk pelaksanaan program kedepan, khususnya pada tahun 2013. Penghargaan dan prestasi yang dicapai akan terus ditingkatkan di masa mendatang.

Perikanan2Dalam mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan, pada tahun 2012 diarahkan pada program prioritas pembangunan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jambi 2010-2015 dan Rencana Strategis (Renstra) DKP Provinsi Jambi 2010 - 2015.

Program-program tersebut meliputi optimalisasi pengolahan dan pemasaran produksi perikanan. Implementasinya melalui penguatan dan pengembangan pemasaran dalam dan luar negeri, pengembangan industri pengolahan, pembinaan dan pengembangan sistem usaha dan investasi, pengembangan produk non-konsumsi, pengembangan sentra pemasaran, pengembangan komoditi yang memiliki prospek pasar domestik dan internasional, promosi ekspor yang memiliki keunggulan kompetitif, dan pengembangan sistem informasi serta data statistik perikanan.

foto-foto : humas pemprovfoto-foto : humas pemprovProgram berikutnya, peningkatan kesejahteraan petani, dilaksanakan melalui kegiatan pengembangan kolam pekarangan, pembinaan pondok pesantren, dan pemberdayaan desa mandiri pangan.

Kemudian ada lagi program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, yang dilaksanakan melalui pemberdayaan ekonomi dan sosial budaya masyarakat pesisir. Lalu ada program pengembangan budidaya perikanan, dengan kegiatan pengembangan sistem produksi pembudidayaan, pengembangan sistem perbenihan, pengembangan budidaya air tawar di kolam, pengembangan budidaya air payau, pengembangan ikan hias, pengembangan sistem usaha pembudidayaan, pengembangan pembenihan komersial, pengembangan Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Kerinci, pengembangan sistem prasarana dan sarana pembudidaya, dan pengembangan minapolitan perikanan budidaya.

Selain itu, masih banyak lagi program lainnya yang dilaksanakan oleh DKP Provinsi Jambi. Pada tahun 2011 total produksi perikanan di Provinsi Jambi sebesar 85.747,7 ton, terdiri dari produksi perikanan tangkap 51.839,7 ton dan produksi budidaya 33.908,0 ton. Pada 2012 produksi perikanan mencapai 92.747,3 ton, meliputi produksi perikanan tangkap 52.133,7 ton dan produksi budidaya 40.613,6 ton.

Produksi mengalami kenaikan rata-rata 8,2 %. Meningkatnya produksi perikanan menunjukan secara umum komoditas perikanan mengalami peningkatan kualitas dan kenaikan harga. Di samping itu, peningkatan menggambarkan ketersediaan sarana yang digunakan untuk usaha perikanan tangkap dan budidaya. Peningkatan produksi mentah diiringi dengan peningkatan volume produk olahan, berupa kerupuk ikan, ebi kering, terasi, ikan asin dan lain-lain.

Kenaikan produksi tertinggi tahun 2012 terjadi pada perikanan budidaya kolam (25,7 %), sedangkan pada budidaya mina padi mengalami sedikit peningkatan (1,0 %). Pada tahun 2012 produksi perikanan tangkap naik 0,6 % dari tahun 2011, sedangkan produksi budidaya naik 19,8 %.

Tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor kelautan dan perikanan tergolong besar. Secara keseluruhan, penyerapan tenaga kerja sektor ini di tahun 2011 sebanyak 27.719 RTP dan tahun 2012 sebanyak 28.845 RTP. Kondisi ini mengalami kenaikan 4,1 %.

Tingkat ketersediaan ikan untuk konsumsi penduduk Jambi pada 2011 sebesar 30,1 kg/kap/th, sedangkan pada 2012 mencapai 31,6 kg/kap/th, sehingga terjadi peningkatan rata-rata 5,0 %. Peningkatan konsumsi menggambarkan ketersediaan produk perikanan dari kegiatan penangkapan ikan maupun usaha budidaya cukup tersedia.

Jumlah alat penangkapan ikan terjadi peningkatan 3,5 %. Pada tahun 2011 jumah alat tangkap yang ada 28.469 unit, dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 29.471 unit. Sementara itu, jumlah kapal/perahu yang digunakan dalam penangkapan ikan pada 2011 sebanyak 8.844 unit dan tahun 2012 sebanyak 8.992 unit, sehingga terjadi kenaikan jumlah kapal/perahu sebanyak 1,7 %.

Tingkat pendapatan RTP nelayan/pembudidaya ikan pun meningkat. Pada 2011 naik 10,4 % per tahun. Pendapatan RTP pembudidaya ikan pada 2011 sebesar Rp. 12,6 juta per tahun, sedangkan 2012 sebesar Rp.14,3 juta per tahun, atau naik 13,5 % per tahun. Pendapatan RTP nelayan pada 2011 sebesar Rp.49 juta dan tahun 2012 sebesar Rp.53,7 juta, naik 9,6 % per tahun.

Mengenai tingkat produksi benih ikan, pada 2012 naik 12,7 % dari tahun sebelumnya. Jumlah produksi benih pada 2011 sebesar 175.775.315 ekor, dan pada 2012 sebesar 198.098.810 ekor.

Dalam pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan dua tahun terakhir terdapat hambatan yang tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan, namun secara tidak langsung mempengaruhi pencapaian kinerja.

Hambatan tersebut antara lain masih rendahnya tingkat pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan, masih sulitnya mengakses sumber modal bagi nelayan/pembudidaya, belum dilakukannya validasi database potensi perikanan tangkap dan stock assesment, dan kepemilikan sarana penangkapan ikan hampir 80 % masih tradisional (ukuran kapal < 5 GT).

Hambatan lainnya, keterampilan pembudidaya dan nelayan belum memadai, belum terisinya formasi jabatan fungsional di balai benih ikan, kurang disiplinnya sebagian pembudidaya dan nelayan menerapkan  teknologi anjuran, belum adanya industri pakan ikan dan industri pengolahan ikan, belum adanya asosiasi perdagangan langsung ke negara tujuan ekspor, masih terbatasnya dukungan lintas sektor, dan adanya penambangan emas tanpa izin (PETI) yang dapat merusak lingkungan perairan. (humas/society)


Follow twitter kami @infojambidotcom | Tetap update informasi di manapun dengan http://m.infojambi.com dari browser ponsel Anda!


 

Berita Terkait