Jum'at, 24 Oktober 2014 Pukul 18:35:57

MUARABUNGO — Kasus penyerobotan lahan di Blok 403 lahan tambang yang diklaim sebagai milik PT KBPC, di Dusun Leban, Rantau Pandan oleh PT LMH terus berlanjut.

Muncul kabar, kasus itu bakal menyeret managemen PT NTC, karena perusahaan itu mendapat perintah landclearing dari pemilik PT LMH, Kadirun, secara lisan, bukan tertulis yang secara hukum keabsahannya belum terjamin.

Menurut penyidik, Kadirun mengklaim lahan yang sudah di landclearing seluas 2,5 hektar lebih sebagai miliknya. Kemudian ia bermitra dengan PT NTC sebagai sub-kontraktor. PT NTC pun berniat menambang di lokasi tersebut.

“Kami belum bisa pastikan bagaimana nantinya. Namun kemungkinan bakal menyeret PT NTC memang ada,” kata Kasat Reskrim Polres Bungo, AKP Herman Suriyono, melalui penyidik.

Sementara, penyidikan soal perusakan patok batas lahan yang dituduhkan pada Kadirun cs saat ini terus berlangsung. Mereka akan dikenai pasal 170 KUHP tentang pengrusakan secara bersama-sama.

Penyidik telah mengambil barang bukti berupa 11 patok kayu. Untuk keabsahan pemilik lahan belum ditangani, karena polisi sedang fokus mendalami kasus pengrusakan patok dulu.

Seperti diketahui, kasus penyerobotan lahan dan perusakan patok berawal dari landclearing yang dilakukan PT LMH dibawah pimpinan Kadirun dan adiknya, Tamsil.

Kasusnya sempat membuat heboh, karena juga terjadi pemukulan yang laporannya masuk ke polsek setempat. Waktu itu KBPC hanya melaporkan luas lahan yang diserobot, sekitar 1 hektar di Blok 403, Dusun Leban.

Tamsil menyangkal PT LMH yang melakukan landclearing. Yang membersihkan lahan adalah PT NTC, bukan PT LMH. Menanggapi laporan PT KBPC, Tamsil menyatakan siap dipanggil polisi. (infojambi.com/MUB)


Follow twitter kami @infojambidotcom | Tetap update informasi di manapun dengan http://m.infojambi.com dari browser ponsel Anda!


 

Berita Terkait