Jum'at, 01 Agustus 2014 Pukul 17:38:12
Puluhan kapal PETI dibakar dihadapan pemiliknya. (rudy)Puluhan kapal PETI dibakar dihadapan pemiliknya. (rudy)
 
SAROLANGUN — Puluhan Kapal Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) yang biasa beroperasi di sepanjang aliran Sungai Batang Tembesi, Kabupaten Sarolangun, dibakar, Senin (3/6). Kapal-kapal itu sebelumnya tertangkap dalam razia PETI yang digelar Tim Terpadu beranggotakan TNI, Polri, Satpol PP dan SKPD.
Sebelum dibakar, puluhan kapal PETI dikumpulkan di bawah Jembatan Beatrix, Sarolangun. Mesin-mesin dompeng yang dipakai untuk mencari emas turut dimusnahkan. Kapal-kapal itu ditangkap setelah Tim Terpadu merazia dari Desa Bernai sampai ke Jembatan Beatrix.
 
“Kami melakukan penyisiran Sungai Batang Tembesi hingga ke Pasar Bawah Sarolangun. Hasilnya puluhan kapal dan mesin-mesinnya ditangkap,” kata Kepala Badan Satuan Polisi Pamong Praja (Kaban Satpol PP) Sarolangun, Senin sore (3/6).
 
Thamrin mengungkapkan, dalam penertiban PETI kali ini tidak ada perlawanan dari pemilik dompeng maupun masyarakat. Setelah ditertibkan, puluhan kapal dikumpulkan di depan Rumah Dinas Bupati Sarolangun, kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar.
 
“Sebelum dibakar, kapal-kapal itu kami hancurkan dulu,” jelas Thamrin.
 
Razia PETI dan operasi pemusnahan dipimpin oleh Kabag Ops Polres Sarolangun, Kompol Budi S, dengan menurunkan dua tim. Tiap tim dibagi tugas melakukan penyisiran lewat jalur sungai menggunakan speed boat dan lewat jalur darat.
 
“Berkat kerja sama yang baik antar tim, operasi penertiban berjalan lancar. Saya harap bisa menjadi contoh bagi masyarakat daerah lain dalam penertiban usaha ilegal ini,” kata Budi.
 
Budi menjelaskan, pihak kepolisian dan Tim Terpadu sebelumnya sudah melakukan tahapan-tahapan penertiban, mulai dari pendekatan hingga rapat dengan pihak kecamatan maupun desa, sehingga tidak ada kendala di lapangan. Semua tahapan dilaksanakan dengan baik.
 
Pemusnahan puluhan kapal PETI tersebut disaksikan ribuan masyarakat Sarolangun yang menonton dari atas Jembatan Beatrix. Akibatnya, arus lalu-lintas di atas jembatan peninggalan Belanda itu menjadi macet.
 
Pemusnahan itu dinilai kurang tegas, karena masih memberi kesempatan pada pemilik kapal untuk kembali melakukan aktivitas PETI. Pasalnya, setelah dibakar, kapal dan mesinnya dibiarkan hanyut. Para pemilik kapal pun berupaya menyelamatkan kapalnya.
 
Pantauan infojambi.com, para pemilik dompeng berjaga-jaga di tengah sungai dan langsung berenang mengejar kapalnya yang terbakar di tengah sungai. Meski sudah gelap, para pemilik berupaya menarik kapalnya ke pinggir sungai.
 
Salah seorang anggota Tim Terpadu, Kapten Inf Soeharwo, mengaku sengaja membiarkan para pemilik kapal berusaha menyelamatkan kapalnya. Ia yakin kapal dan mesin dompeng yang sudah dibakar itu tidak bisa dipakai lagi. Apalagi sebelum dibakar, kapal dan mesinnya sudah dirusak oleh tim. (infojambi.com/RUD)

Follow twitter kami @infojambidotcom | Tetap update informasi di manapun dengan http://m.infojambi.com dari browser ponsel Anda!


 

Berita Terkait