Rabu, 23 April 2014 Pukul 14:01:52

Masjid Ar-Rafeeah Kamboja/ foto: infojambi.comMasjid Ar-Rafeeah Kamboja/ foto: infojambi.com

SESUAI namanya negara negara Indocina adalah negara- negara yang letak geografisnya berada di antara India dan Cina (Indochina). Negara- negara tersebut adalah Kamboja, Vietnam, Laos , Thailand, Myanmar, Semenanjung Malaysia, dan Singapura. Nama Indocina pada awalnya hanya digunakan untuk Kamboja, Vietnam, Laos yang juga merupakan negara bekas jajahan Perancis, sehingga juga disebut negara Indocina Perancis. Karena kesamaan letak geografis dan kebudayaan, negara lainnya juga dinamakan negara Indocina.

Kebudayaan di negara- negara tersebut, kecuali Semenanjung Malaysia dipengaruhi India dan China. Pengaruh kebudayaan India mendominasi di Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand. Walau sangat sedikit pengaruh kebudayaan Cina juga tampak. Sebaliknya, Pengaruh kebudayaan Cina mendominasi di Vietnam. Karena pengaruh kedua kebudayaan inilah agama mayoritas di negara Indocina, kecuali Malaysia adalah Budha.

Islam merupakan agama minoritas. Mayoritas pemeluk Islam di negara- negara tersebut adalah suku bangsa Camp. Beberapa waktu yang lalu infojambi.com berkesempatan berkunjung ke Siem Reap dan Phnom Penh ( Kamboja), Ho Chi Minh City (Vietnam), Bangkok (Thailand), dan Singapura. Berikut penelusuran kami tentang Islam di negara- negara tersebut.

ISLAM DI SIEM REAP, KAMBOJA

Islam merupakan agama paling minoritas tertinggi di negara kerajaan ini. Sebanyak 2.5% penduduk Kamboja beragama Islam dan berasal dari suku bangsa Camp (Champa). Menurut sejarah suku bangsa ini merupakan warga kerajaan Campa  yang pernah menjadi kerajaan besar di Asia Tenggara di abad ke 17.

Pemeluk agama Islam yang kami temui menyebar di beberapa daerah atau kampung di Siem Reap, yaitu di Steng Thmey Village dan di Tonle Sap. Kurang lebih ada sekitar 100.000 orang muslim di Siem Reap. Pada kunjungan ke Siem Reap ini kami berkenalan dengan Haji Musa (walau cuma dari handphone dan e-mail) dan keluarganya, yang merupakan pemilik satu dari sedikit restoran muslim di Siem Reap dan sekaligus pemuka agama Islam di sana.

Penulis bersama komunitas Muslim Kamboja/foto: infojambi.comPenulis bersama komunitas Muslim Kamboja/foto: infojambi.com

Kami juga berkenalan dengan seorang supir Tuk- Tuk (kendaraan khas negara Indocina) Muslim yang bernama Karia, dan seorang suku bangsa Camp yang pernah belajar dan tinggal 8 tahun di Institut Teknologi Bandung (dari tahun 1995- 2002), Haji Ahmad yang sekarang berprofesi sebagai dosen di Build Bridge University.

Kehidupan Muslim di Kamboja lebih bagus dari keadaan muslim di Myanmar. Menurut penuturan Karia, supir Tuk-Tuk kami seharian untuk menjelajahi kedua kampung, walau pemerintah tidak begitu peduli untuk membantu  membangun mesjid, setidaknya muslim Kamboja tidak dizholimi dan dianiaya seperti halnya muslim Rohinga di Myanmar. Muslim bisa berbaur dengan harmonis dengan pemeluk agama lain.

Mayoritas wanita muslim yang kami temui menunjukkan identitas muslimnya dengan memakai hijab. Mata pencaharian Muslim disana juga bervariasi, dari supir Tuk- Tuk, nelayan, supir bus dan penjual baju. Bisa dikatakan kehidupan Muslim disini miskin.

Di kedua kampung yang kami kunjungi ini, masing- masing memiliki mesjid yang lumayan bagus. Mesjid ini sendiri bisa didirikan dengan bantuan dari para donatur Islam dari Kamboja dan Malaysia. Menurut penuturan penjaga mesjid Ar-Rafee’Ah,  Ismail bin Idris, donatur terbanyak mesjid ini adalah Muslim Malaysia. Karena kekurangan dana bagian samping mesjid yang akan digunakan sebagai Madrasah belum selesai. Madrasah yang lama dari papan yang terletak persis di belakang mesjid ini di dekat sawah.

Mesjid lain yang kami kunjungi di Steng Thmey Village adalah An-Neakmah. Mesjid 2 lantai ini dekat dengan pasar Old Market. Persis dibelakang mesjid ini ada madrasah dan restoran halal milik Haji Musa.

Di sepanjang kampung ada beberapa lagi restoran muslim sehingga kita tidak perlu was- was untuk makan. Kebanyakan suku Champ tidak bisa berbahasa Inggris, namun banyak juga yang bisa bicara bahasa Melayu.  (Lery Ridha Daulay)    
 


Follow twitter kami @infojambidotcom | Tetap update informasi di manapun dengan http://m.infojambi.com dari browser ponsel Anda!


 

Berita Terkait