Senin, 22 Desember 2014 Pukul 16:39:24

Mess Tanjabbar. (DAMANIK)Mess Tanjabbar. (DAMANIK)SEPULUH  tahun tak terasa. Zulkifli, tetap betah menjaga aset pemkab Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) yang berada di Kota Jambi. Dia juga tidak ragu-ragu melibatkan anak dan istrinya merawat dan membersihkan puluhan kamar berlantai keramik di Mes  Tanjabbar.

Siang kemarin, satu persatu penghuni kamar meninggalkan Mes Tanjabbar yang berlokasi di Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi. Mulai dari pejabat di lingkup pemkab, mahasiswa juga sering menginap di mes yang dibangun pada tahun 1990-an ini. Tidak ada tarif khusus, layaknya penginapan ataupun hotel. Asal warga Tanjabbar, tentu bisa nginap di kamar berkelas ekonomi itu.

“Memang saya dituntut DPPKAD untuk mengejar target retribusi. Tapi tidak bisa saya lakukan, karena belum ada sosialisasi ataupun patokan tarif kepada pengunjung yang menginap di sini,” kata Pengelola dan Pengawas Mess Pemkab Tanjabbar, Zulkifli.

Zulkifli mengatakan, tamu yang sering menginap di mess kebanyakan pada hari Sabtu dan Minggu. Rata-rata, mereka adalah mahasiswa Tanjabbar, yang ingin beristirahat. “ Kalau mahasiswa tidak mungkin dipatok tarif. Biasanya mereka hanya kasih uang kebersihan, tidak ada paksaan,” ujar pria berdarah minang ini.

Zul, panggilan akrabnya, sanggup jika dia dituntut mengelola secara professional dan ada target retribusi setiap tahunnya. Hanya saja, harus ada penambahan fasilitas, seperti televisi, peningkatan daya listrik, Satpam, dan ada honor bagi penjaga sekaligus pengelola hotel.

Selain itu, DPPKAD mulai mensosialisasikan ke warga Tanjabbar yang ingin menginap dengan tariff tertentu. “Memang sudah diatur dalam perda, tapi tidak mungkin kita mematok harga setiap kali ada tamu menginap. Mereka hanya kesadaran saja, membantu uang kebersihan. Tapi jika ditargetkan retribusi, saya siap-siap saja,” tandasnya.

Zul tidak merasa lelah, meski sudah satu dasawarsa menjaga, merawat dan mengurus Aset Pemkab ini. Namun dia juga tidak ingin, dianggap komersil sebagai pengelola Mess. Dari DPPKAD, pertahunnya hanya dianggarkan biaya rekening listrik dan air. Selebihnya, biaya operasional ditanggung oleh Zul.

Demi memenuhi tanggungjawab sebagai pengelola, Zul terpaksa melibatkan anak  dan istrinya membersihkan kamar, setiap kali ada tamu yang datang. Mulai dari menyapu hingga membuang sampah, cukup diatasi Zul dan anak-anaknya.

Zul menambahkan, di Mess Tanjabbar hanya ada empat kamar yang memiliki Air Conditioner (AC). Tiga AC lagi tidak dipakai, dan saat ini disimpan di Gudang. Alasannya, daya listrik di Mess Tanjabbar tidak mampu menghidupkan tujuh unit AC.

“Makanya tahun ini saya mengajukan penambahan daya dari 6600 Watt menjadi 13.200 Watt. Tapi tidak tahu, apakah usulan itu disetujui,” ungkapnya.

Selain meminta penambahan daya, menurut Zul, setidaknya ada pengadaan televisi dan kursi tamu. “Supaya lebih hidup dan tidak jenuh. Sejak dibangun sampai sekarang, tamu yang menginap, tidak bisa menonton tv,” tambahnya. (infojambi.com/DAM)


Follow twitter kami @infojambidotcom | Tetap update informasi di manapun dengan http://m.infojambi.com dari browser ponsel Anda!


 

Berita Terkait