77.528 Hektar Lahan di Jambi Telah Dilakukan Restorasi

PENULIS : ANDRA RAWAS
EDITOR : WAHYU NUGROHO

INFOJAMBI.COM – Seluas 77.528 hektar area Gambut di Jambi rusak, dimana selama tahun 2018 telah dilakukan pembasahan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG).

Pembasahan terhadap lahan gambut untuk mencegah kebakaran, yang berdampak panjang untuk melakukan pemulihan akibat kebakaran.

Berbagai upaya aktif restorasi ekosistem gambut melalui kegiatan Pembasahan Kembali (Rewetting), Revegetasi, Revitalisasi Sosial-Ekonomi masyarakat dan Program Desa Peduli Gambut terus dilakukan.

Kegiatan restorasi gambut juga dilakukan melalui supervisi melalui asistensi teknis kepada pemegang konsesi perkebunan.

Selama Oktober 2018 – April 2019, supervisi telah dilakukan pada 11.950 hektar dan akan terus berlanjut.

BRG bersama dengan Pemda dan mitra juga telah melakukan Pembangunan Infrastruktur Pembasahan Gambut (PIPG) sejak tahun 2016. Hingga Desember 2018 telah dilaksanakan intervensi pembasahan gambut melalui pembangunan 437 unit sekat kanal, 294 unit sumur bor, 125 ha lahan telah direvegetasi dan 42 kelompok masyarakat yang telah mendapatkan bantuan revitalisasi sosial-ekonomi masyarakat.

Untuk memantau kinerja intervensi PIPG yang telah dibangun, BRG bersama mitra telah memasang 13 unit teknologi pemantauan tinggi muka air (TMA) di lahan gambut secara realtime melalui Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (SIPALAGA) di Jambi.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Dr. Myrna A. Safitri dalam acara diskusi media di Jambi mengatakan,  Pembasahan ekosistem gambut merupakan upaya awal pencegahan kebakaran. Namun demikian, kita perlu tetap waspada karena kebakaran masih berpotensi terjadi.

Kerusakan gambut yang sangat parah memerlukan waktu panjang untuk pemulihan karena gambut belum sepenuhnya kembali pada kondisi semula.

Myrna menambahkan, upaya restorasi gambut BRG juga menargetkan area konsesi yang tanggung jawab restorasi dibebankan kepada pemegang konsesi. Peran BRG adalah mensupervisi atau memberikan asistensi teknis agar konstruksi, operasi, dan pemeliharaan infrastruktur di lahan konsesi dilaksanakan dengan optimal.

BRG terus melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar gambut melalui Program Desa Peduli Gambut (DPG). Untuk Provinsi Jambi, program DPG pada 2017–2018 dilakukan BRG bersama para mitra pada 28 desa/kelurahan yang berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan Kabupaten Muaro Jambi.

“Program DPG berkontribusi pada peningkatan status kemajuan desa. Di tahun 2019, DPG akan kembali dilakukan pada 8 desa/kelurahan yang berada di Kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Barat. DPG menjadi salah satu upaya restorasi gambut berkelanjutan karena mengedepankan keterlibatan masyarakat,” tutup Myrna.

Deputi Bidang Perencanaan dan Kerjasama Badan Restorasi Gambut, Budi Wardhana, menambahkan  bahwa titik panas atau hotspot di area target restorasi gambut BRG di Jambi berkurang dari 1.056 titik pada tahun 2015 menjadi 43 titik di tahun 2018.

“PIPG yang dibangun oleh BRG bersama dengan mitra berhasil menurunkan titik panas secara signifikan di area sekitar lokasi PIPG. Jika berada pada radius 0-1 km dari PIPG, rata-rata hanya ada 2,4% hotspot. Semakin jauh dari PIPG, hotspot bertambah. Misalnya pada jarak 1-2 km, ditemukan 5,6% hotspot dan pada jarak lebih dari 2 km ada 92% hotspot,” ungkap Budi.

Dr. Ir. Asmadi Saad, M.Si. Kelompok Ahli Badan Restorasi Gambut menyatakan, “Potensi ekosistem gambut di Jambi sangat besar. Selain untuk menyimpan cadangan karbon dan membantu menyelamatkan bumi dari ancaman pemanasan global, gambut apabila dikelola dengan baik dapat memajukan perekonomian masyarakat. Hasil pertanian di lahan gambut, termasuk yang didaerah Jambi, dapat dijadikan sebuah komoditas pangan ramah lingkungan menggunakan teknik pengelolaan tanpa bakar dan hasil pangan diolah dan dipasarkan dengan baik.”

Pengelolaan komoditas pangan sehat dari lahan gambut sudah terapkan oleh Marwiyah dari Desa Sungai Beras Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Ibu Marwiyah merupakan salah satu peserta kegiatan Seniman Pangan yang dilaksanakan oleh BRG. Melalui pelatihan itu, Marwiyah diajarkan membuat produk olahan pangan sehat.

Salah satunya membuat garam yang terbuat dari tanaman Nipah. Bersama dengan kelompok di desanya, Marwiyah mengolah tanaman Nipah yang tumbuh subur sebagai penyangga erosi gambut yang tumbuh di sekitar desa Nipah selain dikenal kaya protein, kalsium dan magnesium juga memiliki zat anti kanker dan layak untuk dikonsumsi.***

Kategori Lensa

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.