Anak Punk Ditangkap Saat Asik Mabuk Lem dan Berzinah

Anak punk digunduli || foto : raini

KUALATUNGKAL – Lima tahun belakangan, Kuala Tungkal, ibukota Tanjabbar, yang terkenal gudang ulama, tercemar oleh keberadaaan anak-anak jalanan (anjal). Mereka bikin resah bahkan tidak segan berzina.

Rita, Amir dan Hasan, warga Kuala Tungkal, mengaku resah dengan ulah dan tingkah para anak punk, anjal, gelandangan dan pengemis (gepeng) serta orang gila yang berkeliaran di dalam kota.

Selain dandanan mereka yang norak, badan penuh tato ditempeli berbagai aksesoris dan pakaian kotor, bau, mereka tanpa risih masuk ke tempat kuliner meminta-minta uang. Caranya pura-pura mengamen.

Ada juga yang melakukan perbuatan asusila (zinah) bergantian dengan satu pasangan. Aparat Satpol PP setempat sudah kewalahan melarang mereka tidur bersama di eks terminal Kuala Tungkal.

Bahkan, ketika petugas Satpol PP melakukan penangkapan, seorang wanita dari anak punk itu sedang diikat dan disetubuhi bergiliran. Padahal, kebanyakan anak-anak punk itu masih di bawah umur.

‎Atas laporan masyarakat, Kamis (6/4), belasan anak punk kembali dijaring oleh petugas Satpol PP, di lokasi berbeda. Saat dijaring, mereka sedang asik menghisap lem yang membuat mereka mabuk.

Ada juga yang melawan waktu ditangkap. Sedikitnya 14 anak punk digiring ke kantor Satpol PP. Mereka diberi hukuman. Rambut mereka dicukur sampai gundul. Ada pula yang disuruh bernyanyi sambil hormat ke bendera.

Kasi Pembinaan dan Penyuluhan Satpol PP Tanjabbar, Lamtarong Tobing, sudah sering merazia anak-anak punk itu, tapi mereka masih saja ada. “Hari ini kami menjaring 10 orang anak punk dan empat orang sakit jiwa,” kata Lamtarong.

Anak punk di Kuala Tungkal berasal dari berbagai kota, seperti Palembang, Pekanbaru dan Kota Jambi. Ada yang berasal dari Kuala Tungkal ini, tepatnya dari Parit 4, Parit 3 dan Tebingtinggi.

Anak punk yang berhasil dijaring sedang asik nongkrong di pasar dan kawasan Jalan Asia. Dalam kurun waktu satu bulan, sudah puluhan anak punk ditangkap, tapi seperti jamur, mereka muncul lagi beberapa hari kemudian.

Sebelum diserahkan ke Dinas Sosial, para pengamen dibina secara mental agar tidak mengulangi perbuatanya. Belasan anak punk dikembalikan ke tempat asal masing-masing. Sementara penderita gangguan jiwa dikirim ke Rumah Sakit Jiwa.

“Kami juga akan minta Dinas Kesehatan memeriksa mereka, dikhawatirkan ada yang menderita penyakit menular, karena faktor pergaulan dan kebersihan,” jelas Lamtarong. (infojambi.com/d)

Laporan : Raini

 

Kategori Kesehatan

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.