Rabu, 28 Juni 2017 | 14:05

Ancaman Globalisasi dan Pola Pendekatan ala Kodam XVI Pattimura

Mayjen. TNI. Doni Monardo bersama Amrullah Usemahu, S.Pi
Mayjen. TNI. Doni Monardo bersama Amrullah Usemahu, S.Pi

Oleh : Amrullah Usemahu, S.Pi

DINAMIKA Perpolitikan Indonesia dan kehidupan berbangsa dan bernegara secara dominan diwarnai oleh nuansa globalisasi baik yang terkait isu-isu utama maupun kecenderungan-kecenderungan tertentu. Kondisi yang ada harus dapat dilihat secara serius dan bijak.

Ancaman Global harus diantisipasi sejak dini, Indonesia sebagai Negara Kepulauan terbesar dengan kehidupan berbangsa yang plural, yakni agama, suku, etnis, ras dan lain-lain harusnya menjadi simbol kemajemukan dalam sebuah persatuan yang kuat guna menghadapi globalisasi dunia.

Semangat nasionalisme dan kebhinekaan harus dijaga dengan baik dalam bingkai NKRI. Fenomena-fenomena globalisasi, praktis akan mempengaruhi mekanisme, sekaligus menjadi referensi bagi orientasi kehidupan yang sifatnya tidak dapat ditolak, sehingga harus dihadapi atau minimal disikapi dan disiasati.

Hal tersebut terjadi karena baik isu maupun kecenderungan global yang merupakan keniscayaan, dapat memberikan pengaruh yang bersifat positif maupun negative dipandang dari kepentingan masing-masing Negara. Artinya, di sini respon masing-masing negara atas momen globalisasi tidaklah sama, atau bahkan mungkin bertolak belakang sehingga memunculkan perubahan sikap atau warna dalam hubungan antar negara.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, ada enam ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia di masa depan. Jika enam masalah tersebut tidak dikelola dengan baik, bangsa Indonesia bisa mengalami konflik atau perang saudara berkepanjangan.

Enam ancaman tersebut yaitu menipisnya cadangan minyak dunia, meningkatnya jumlah penduduk dunia, berkurangnya sumber pangan, air dan energi, masalah terorisme, meningkatnya penyalahgunaan narkoba,dan persaingan ekonomi global yang ketat.

“Indonesia sebagai negara ekuator yang sangat kaya akan sumber daya alam adalah warning yang patut menjadi kekhawatiran bangsa Indonesia di masa akan datang, karena akan banyak diincar negara lain sehingga harus dapat dikelola dengan baik dan berkelanjutan.

Kekayaan sumber daya alam di Indonesia pernah disampaikan oleh Presiden RI pertama, Soekarno, bahwa suatu saat nanti negara lain akan iri dengan kekayaan sumberdaya alam Indonesia. Selain itu Presiden Joko Widodo juga pernah menyampaikan, kaya akan sumber daya alam bisa menjadi petaka. Kondisi ini harus menjadi catatan serius semua elemen Bangsa.

Maluku sebagai miniatur Indonesia dengan kondisi karakteristik kepulauan dengan 1.340 Pulau dan potensi sumberdaya alam yang sangat berlimpah ruah, di laut dan di darat. Sebagai daerah yang pernah mengalami konflik kemanusiaan mulai bangkit dari semua sisi pembangunan.

Pola pendekatan pun dalam pembangunan harus berbeda dengan daerah lain, budaya pela-gandong sebagai roh kekuatan antar umat beragama di Maluku. Hal ini yang kemudian menjadi referensi pola pendekatan keamanan berbasis kesejahteraan yang dilakukan Pangdam XVI Pattimura, Mayjen TNI Doni Monardo.

Di tengah kondisi ancaman global, dinamika perpolitikan yang semakin memanas, semangat kebhinekaan kita pastinya diuji dan adanya proxy war. Upaya memecah belah persatuan antara masyarakat dan umat beragama.

Di saat perang, TNI adalah garda terdepan mengamankan kedaulatan NKRI dan di saat damai TNI turut berkonstribusi dalam mensejahterakan rakyat yang diimplementasikan lewat program emas biru dan emas hijau Pattimura.

Sesungguhnya perang terbesar kita adalah perang melawan kemiskinan. Kemiskinan yang tinggi merupakan ancaman global yang mengakibatkan kesenjangan dan kecemburuan sosial antar daerah dan wilayah, serta berpotensi konflik horizontal dan disintegrasi bangsa.

Kemudian pola pendekatan dengan merangkul para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan lain sebagainya. Setiap pertemuan yang diinisiasi Kodam XVI Pattimura merupakan langkah-langkah strategis dalam mempererat dan memperkuat jalinan tali silahturahmi serta persaudaraan, di tengah dinamika perpolitikan dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lagi menghadapi Isu-isu globalisasi begitu kompleks.

Kiranya lewat program Emas Biru dan Emas Hijau Pattimura merupakan sebuah upaya membangun dan memberdayakan masyarakat, guna meminimalisir tingkat pengangguran dan kemiskinan menuju Maluku dan Indonesia yang rukun, aman, damai dan sejahtera di tengah maraknya ancaman globalisasi.

Semoga dinamika kebangsaan saat ini tetap berada dalam koridor yang baik dan selalu berpedoman pada falsafah Pancasila dan UUD 1945. Pastinya kondusifitas Maluku sebagai barometer Indonesia, yakni menjaga kerukunan antar umat beragama serta menjadi motivator perdamaian dalam pendekatan keamanan dan kesejahteraan !!!

Penulis adalah Wasekjen Masyarakat Perikanan Nusantara dan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia

Kategori Opini

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.