Bangkit Masa Pandemi, Industri Pariwisata Dukung PPKM Mikro

LAPORAN : BS || EDITOR : PM

INFOJAMBI.COM – Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) mendukung langkah pemerintah sekaligus komitmen untuk menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro untuk mengendalikan COVID-19.

Untuk mempertahankan dan membangkitkan sektor industri di masa pandemi COVID-19, sejak awal Maret 2021 lalu, PHRI telah menyusun standar protokol kesehatan, hingga mengalami perubahannya menyesuaikan Surat Edaran Menteri Kesehatan dan standar WHO.

“Kalau protokol kesehatan, kita di industri hotel dan restoran termasuk yang paling berkomitmen. Kami justru mendukung PPKM Mikro yang dijalankan saat ini,” ungkap Sekjen PHRI Maulana Yusran di Dialog Publik yang
digelar Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dan ditayangkan di FMB9ID-IKP, Rabu (23/6/2021).

Dalam kesempatan sama, Christine
Hutabarat, Direktur Pengembangan Bisnis PT. Hotel Indonesia Natour (Persero) menegaskan sektor pariwisata paling terdampak akibat COVID-19. Dibandingkan 2019, upaya bangkit pariwisata tahun 2020, kondisinya lebih berat.

Christine mengungkapkan akibat COVID-19, tingkat hunian kamar PT. HIN pada tahun 2020 lalu mengalami penurunan hingga 67 persen dari tahun 2019.

“Tahun lalu tingkat hunian kita hanya sekitar 27 persen sepanjang tahun. Apalagi pendapatan kita 60-
70 persen dari Bali, dampak pandemi ini sangat luar biasa bagi industri perhotelan,” kata Christine

Meski berat, pelaku industri pariwisata mulai beradaptasi dengan tuntutan keadaan dan mempersiapkan diri demi menghadapi era pasca pandemi melalui penguatan standar kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan. Sertifikasi ini dikenal dengan nama CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, Environment Sustainability).

“CHSE bukan sekadar jargon, namun sudah jadi identitas dalam melakukan pelayanan di industri pariwisata. Sehingga nantinya bisa menumbuhkan kepercayaan masyarakat, sekaligus mengedukasi protokol kesehatan seperti yang dianjurkan pemerintah, ” ujarnya.

Selain upaya-upaya yang dilakukan melalui beradaptasi dengan keadaan, stimulus dari Kemenparekraf sejak 2020 berupa Hibah Pariwisata maupun bantuan lainnya, diakui sangat
membantu industri sektor pariwisata untuk bertahan.

“Stimulus dari pemerintah kami gunakan untuk beberapa hal, selain membantu membiayai operasional kami di masa permintaan yang rendah, juga membantu meningkatkan kualitas dari implementasi CHSE dan pelatihan tenaga kerja di HIN,” kata Christie.

Akibat COVID-19 juga berdampak bagi pelaku bisnis kreatif yang jadi bagian dari ekosistem yang ada di lokasi pariwisata seperti di Bali. Cokorda Istri Julyana Dewi, pebisnis kerajinan perak dan tas kulit Cyn dari Gianyar, Bali.

“Dampak pandemi ini sangat berimbas. Tapi kami tetap beradaptasi agar teman-teman pelaku industri kreatif di lokasi pariwisata bisa menyesuaikan karyanya dengan keadaan seperti sekarang ini, ” ujar Cokorda.|||

Kategori Ekonomi dan Bisnis

Tags: ,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.