Bangsa Pencuriga

Editor: Rahmad

Oleh: Saean Hufron, Sekretaris Umum PD Pemuda Muhammadiyah Kota Jambi

Saean Hufron

September 2021 ini media masa online diramaikan dengan berita tuduhan TNI telah disusupi PKI. Tuduhan ini pertama kali di lontarkan oleh Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Hilangnya patung Diorama Presiden Kedua RI Soeharto, Letjen TNI Sarwo Edhie, dan Jenderal AH Nasution yang ada dalam ruang kerja Soeharto di Museum Dharma Bhakti, di Markas Kostrad menjadi dasar tuduhan terhadap tubuh TNI yang sudah disusupi oleh PKI.

Dugaan itu beliau sampaikan pada Diskusi bertajuk “TNI Vs PKI” yang digelar Minggu (26/9/2021) malam.

Tuduhan yang disampaikan oleh mantan panglima TNI itu kemudian dibantah langsung oleh Kepala Penerangan Kostrad Kolonel Inf Haryantana menyatakan Kostrad tidak pernah membongkar atau menghilangkan patung sejarah (penumpasan G30S/PKI) Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad.

“Tapi, pembongkaran patung-patung tersebut murni permintaan Letnan Jenderal TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution sebagai pembuat ide dan untuk ketenangan lahir dan batin,”.

Bagi saya kejadian G30S PKI adalah kejadian yang begitu memilukan bangsa ini. Berapa banyak nyawa yang harus bertumbangan karena peristiwa G30S PKI dan Pasca G30S PKI.

Ada yang menyebut ribuan bahkan ada yang menyebut Jutaan. Berapapun jumlahnya, yang jelas mereka adalah bagian dari bangsa indonesia. G30S PKI melahirkan traumatik yang mendalam bagi bangsa Indonesia.

Lima puluh enam tahun sudah bangsa ini berusaha mengobati traumatik G30S PKI, disaat bangsa ini berusaha menguatkan diri, mucul berbagai isu kebangkitan PKI.

Jelas secara tidak langsung isu ini mengobarkan kembali traumatik bangsa ini. Isu kebangkitan PKI inilah yang kemudian akan memunculkan sikap saling mencurigai terhadap sesama bangsa Indonesia.

Sikap saling mencurigai ini yang kemudian dapat memecah belah bangsa ini. Bukan tidak mungkin dalam perpecahan bangsa ini kemudian dimanfaatkan oleh oknum-oknum “CULAS” untuk mengambil keuntungan.

Dan bukan hal yang mustahil oknum-oknum “CULAS” tersebut berusaha menghidupkan Ideologi Komunis dan memasukkanya kedalam pertikaian bangsa ini.

Ingatlah bahwa ketika pertikain bangsa ini terjadi yang menjadi korban adalah bangsa ini sendiri.
Mari kita sebagai bangsa yang ber-Bhenika Tunggal Ika tidak saling mencurigai.

Melihat setiap permasalahan yang dihadapi bangsa ini dengan arif dan bijak. Termasuk menyikapi apa yang lontarkan oleh Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Sebagai Mantan Panglima sudah barang tentu tidak perlu diragukan Jiwa Nasionalismenya, Ibarat dikata, apapun akan ia berikan demi bangsa ini termasuk nyawa.

Bagi beliau NKRI harga mati dan Pancasila adalah ideologi final yang tidak dapat ganggu dan digantikan oleh ideologi apapun termasuk Ideologi Komunis. Mari kita maklumi kecemasan beliau terhadap instisusi TNI.

Mau bagaimanapun juga TNI adalah rumah beliau, tempat beliau menggembleng jiwa nasionalis dan patriotnya. Kecemasan beliau adalah bentuk kecintaan terhadap TNI dan Bangsa ini.

Ibarat cinta dan kasih sayang Ibu kepada anaknya atau bahkan rasa cinta beliau ke TNI dan Bangsa Indonesia mengalahkan rasa cinta Ibu kepada anaknya.

Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Sebagai pihak yang tertuduh sudah sewajarnya memberikan klarifikasi atas tuduhan tersebut.

Pembongkaran patung Diorama Presiden Kedua RI Soeharto, Letjen TNI Sarwo Edhie, dan Jenderal AH Nasution yang ada dalam ruang kerja Soeharto di Museum Dharma Bhakti, adalah permintaan dari Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution.

Beliau adalah mantan Panglima KOSTRAD sekaligus pencetus ide pembuatan patung diorama tersebut.

Sudah sewajarnya apabila KOSTRAD mengabulkan pemintaan beliau untuk menarik patung diorama yang pernah beliau usulkan, tanpa menghilangkan semua subtansi bersejarah terhadap peristiwa G30S PKI.

KOSTRAD yang menjadi bagian TNI dalam menjaga keutuhan negara ini, sudah barang tentu tidak perlu kita pertanyakan lagi jiwa nasionalime.

Apalagi menyoal KOSTRAD yang merupakan bagaian dari TNI Angkatan darat. Dalam sejarah G30S PKI, Angkatan Darat adalah salah satu matra yang menjadi sasaran G30S PKI.

Kalau dibilang trauma, Matra Aangkatan Daratlah, karena jenderal – jenderal merekan menjadi korban peristiwa G30S PKI.

Sejarah mencatat bahwa Angkatan Daratlah yang paling getol menolak PKI masuk dan mengupayakan dibentuknya angkatan ke lima (buruh dan petani dipersenjatai).

Dari rentetan sejarahlah kita bisa melihat Angkatan Daratlah yang paling traumatik dan menolak PKI.

Maka apa yang dilakukan KOSTRAD dalam meng-aminkan permintaan dari Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution bukan dengan semangat “ke-culasan” tapi lebih ke arah pengayoman terhadap sisi kemanusiaan Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution.

Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution adalah salah satu putra terbaik TNI Angkatan Darat.

Beliau pernah menjabat beberapa jabatan penting di tubuh TNI Angkatan Darat, jabatan terakhir beliau adalah Panglima KOSTRAD pada tahun 2011 – 2012 atau tepatnya pada masa presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai salah satu mantan petinggi di tubuh TNI, dalam hal nasionalisme dan patriotisme mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang dimiliki oleh Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Dan Soal kecintaan terhadap NKRI, Pancasila dan TNI tidak perlu dipertanyakan lagi. Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution dikenal dengan Sebagai sosok muslim yang taat.

Bisa jadi permintaan beliau terhadap KOSTRAD mengenai patung diorama, adalah murni pertimbangan jiwa religiusnya.

Untuk menghormati aspek keyakin yang dimiliki oleh beliau tidak sepatutnya kita mencampurinya lebih dalam, asal keyakinnya tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku di republik ini.

Sepanjang sejarah G30S PKI, pemeluk agama Islam adalah pihak yang paling banyak dirugikan. Bahkan jauh sebelum G30S PKI, banyak orang Islam yang menjadi korban gerakan Politik PKI.

Pada saat penumpasan PKI pasca G30S PKI, umat Islamlah yang memiliki peran penting dalam gerakan penumpasan tersebut.

Melihat sejarah Islam dan PKI saya rasa, sosok Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution jauh dari kata Pro PKI.

Maka dari itu, dengan situasi bangsa yang tengah dilanda pandemi covid-19 sudah sepatutnya kita berpikir positif, saling mendukung, saling bergandeng tangan untuk bertahan dan keluar dari pandemi ini.

Jangan sampai disaat kita seluruh bangsa Indonesia bersatu padu berjuang menghadapi Pandemi Covid-19 yang tidak tahu kapan berakhirnya malah harus berpecah belah karena saling mencurigai.

Ketika saling mencurigai, yakinlah suatu saat kita akan saling menumpahkan darah saudara sebangsa kita. Ketika kita saling menumpahkan darah disaat itulah para “CULAS” akan memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari perpecahan kita.

Ingatlah apa yang dikatakan oleh mantan presiden Soeharto:

“Ribuan korban djatuh di daerah-daerah karena rakjat bertindak sendiri-sendiri, djuga karena prasangka-prasangka buruk antargolongan yang selama bertahun-tahun ditanamkan oleh praktek- praktek politik jang sangat sempit.”

Mari kita sebagi bangsa yang besar untuk berpikir arif dan bijaksana dalam berbangsa dan bernegara. Kita bangun bangsa ini dengan dengan saling mempercayai, tidak mudah menghakimi, saling bertabayun dalam menyelesaikan segala permasalahan.

Saling bergandeng tangan dari segala upaya yang merusak bangsa ini, baik PKI ataupun para “CULAS”yang tidak menghendaki kita menjadi bangsa yang besar.

Semoga kita semua terhindar dari segala keburukan.

Kategori Opini

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.