Bentrok Warga Pulausangkar dan Kebunbaru Dipicu Soal Tanah Adat

Aparat keamanan mengendalikan situasi di lokasi kerusuhan || foto : riko pirmando

KERINCI – Bentrokan yang terjadi antara warga Desa Kebunbaru Kecamatan Gunung Raya dan Desa Pulausangkar Kecamatan Bukit Kerman, Kerinci, Selasa (14/3), dipicu oleh masalah tanah.

Keributan berujung perang antar dua desa. Perang saudara pecah lantaran belum ada penyelesaian sengketa tanah di Kebunbaru. Tanah wilayah Rencong Telang itu diklaim milik warga Desa Pulausangkar.

Keributan terjadi di Desa Kebunbaru. Adu jotos tidak terhindarkan. Seorang warga yang juga Kepala Desa Kebunbaru, dikabarkan mengalami luka di kaki.

Pengamanan di Desa Kebunbaru dilakukan aparat Polres Kerinci, sejak Senin malam kemarin. Situasi sempat aman, namun Selasa siang situasi kembali memanas dan berujung terjadi keributan.

“Serangan terjadi, sayangnya para lelaki desa kami kalah jumlah, untungnya ada bantuan dari Polres Kerinci,” ujar Don.

Kapolres Kerinci, AKBP MA Hadinur melalui Kasat Sabhara Iptu Safrudin Amir, mengungkapkan, pihaknya menurunkan 100 personil untuk mengamankan situasi. Selasa sore situasi mulai terkendali.

Camat Gunung Raya, Asnawi, mengakui awal masalah berpangkal dari sengketa tanah, hampir sama seperti yang terjadi di Tamiai, beberapa hari lalu. Rencananya Rabu besok dilakukan pertemuan kedua belah pihak di Kantor Bupati Kerinci.

Bupati Kerinci, Adi Rozal, sudah menerima laporan tentang adanya keributan masalah tanah tersebut. Dia minta Asisten I, Camat Gunung Raya dan kepala kesbangpol secepatnya menyelesaikan permasalahan tersebut.

“Yang harus dipastikan, masuk wilayah adat manakah itu, apa Lekuk 50 Tumbi atau Rencong Telang. Nanti diselesaikan,” ujar Adi Rozal. (infojambi.com/d)

Laporan : Riko Pirmando

 

Kategori Lensa

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.