Beroperasinya KMP Muria Ternyata Tak Seseram Perkiraan…

KMP Muria mulai beroperasi || foto : raini

KUALATUNGKAL — Pasca launching KMP Muria di Pelabuhan Roro, Kuala Tungkal, untuk rute Kualatungkal – Dabo Singkep – Batam, belum ada gejolak signifikan. Arus penumpang di LASDP Kuala Tungkal masih normal.

Awalnya sempat membuat pengusaha pelayaran antar provinsi di Kuala Tungkal galau. Seorang pemilik kapal, Nurung, memastikan tidak berpengaruh pada perusahaan kapalnya yang sudah lama beroperasi di Tanjabbar, KMP Kurnia.

Kepala LASDP Pelabuhan dan Sungai Kualatungkal, M Manalu, mengatakan, beroperasinya Pelabuhan Roro bersama KMP Muria, tidak berdampak negatif bagi kapal lain yang sudah lama beroperasi, seperti Marina dan Kurnia.

“Tidak ada pengaruh dengan kapal lain yang sudah lama beroperasi, karena kapal roro merupakan kapal angkutan barang atau kendaraan, untuk mempermudah kerjasama ekspor hasil bumi ke Kepulauan Riau,” kata Manalu.

Selain itu, kapal roro jauh lebih lambat dibanding kapal biasa yang sudah lama beroperasi. Untuk angkutan orang, tidak akan berpengaruh, karena rata-rata penumpang mencari akses cepat.

Roro harus menempuh jalur laut sekitar 19 jam, yaitu 9 jam dari Kuala Tungkal ke Dabo dan sekitar 10 jam transit dari Dabo ke Batam. Sementara kapal Marina hanya 5 – 6 jam dari Kuala Tungkal menuju Batam, tergantung stabilnya arus.

Bupati Tanjabbar, Safrial MS, mengatakan, beroperasinya kapal roro bertujuan untuk mempermudah kerjasama antara Jambi dan Kepulauan Riau, khususnya Tanjabbar dan Kerinci yang ada MoU dengan Pemkot Batam.

“Dengan beroperasinya kapal roro, kita lebih mudah mengangkut barang ke Batam, seperti kopi liberika, kelapa dalam, pinang, karet serta makanan laut, kerang, udang dan kepiting. Begitupun sayur-sayuran dan beras,” katanya.

Hal senada diungkapkan Ketua DPRD Tanjabbar, Faizal Riza. Dari segi penumpang orang, kapal roro tidak mempengaruhi penumpang kapal lain, karena waktu tempuhnya.

“Beroperasinya pelabuhan roro ini bagus untuk mempererat kerjasama Provinsi Jambi dengan daerah tetangga yang berbatasan laut, seperti Kepulauan Riau,” tandas Faisal.

Nurung, pengusaha pelayaran di Kuala Tungkal, mengapresiasi upaya pemda tersebut. Sebagai pemilik kapal, dia dapat membantu masyarakat menengah ke bawah pergi ke Batam, karena harga tiketnya sangat murah, Rp 55 ribu per orang.

“Kalau menggunakan jasa pelayaran saya, ke Batam Rp 400 ribu per orang. Itu juga berangkatnya dua kali seminggu, tergantung penumpang,” ujar Nurung. (infojambi.com/d)

Laporan : Raini

 

Kategori Lensa

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.