Berupaya Cegah Karhutla, BRG Bangun Sekat Kanal Beton Pre-Cast di Kawasan Gambut Desa Seponjen

Penulis : M Hary Rofagil || Editor : Redaksi

INFOJAMBI.COM — Badan Restorasi Gambut (BRG) terus berupaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BRG mengembangkan beton pre-cast dalam pembangunan sekat kanal, di Desa Seponjen, Kecamatan Kumpeh, Muaro Jambi.

Sekat kanal beton pre-cast memiliki usia guna yang relatif lebih panjang, dibanding dengan sekat kanal berbahan kayu.

Sekat kanal beton pre-cast dikenal lebih mudah pembangunannya, karena partisi dari sekat beton bisa dibawa bertahap, memudahkan mobilisasi alat dan bahan.

Ini lebih efektif menghadapi lokasi kanal yang akan disekat dan umumnya terletak di area sulit dijangkau.

Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead, turun langsung meninjau ke area pembangunan sekat kanal beton pre-cast di Desa Seponjen, Jum’at siang, 4 September 2020.

“Dapat dilihat bekas kebakaran tahun 2019. Sekat kanal merupakan salah satu upaya membasahi gambut . Pada musim kemarau, seperti saat ini, airnya naik akibat dari sekat kanal dan membuat tanahnya lumayan basah,” jelas Nazir.

Menurut Nazir, sekat kanal berbahan kayu sudah tidak efisien. Diperlukan pemeliharaan tahunan. Setiap dua tahun kayu yang lapuk harus diganti.

Sekat kanal beton pre-cast merupakan inovasi dan terobosan baru dari para engineer BRG dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Diperkirakan sekat kanal beton mampu bertahan hingga 10 tahun, tanpa memerlukan perawatan yang berarti, dengan kualitas akan lebih baik menahan air dibanding dengan sekat kanal berbahan kayu.

“Sekat kanal dari kayu itu membutuhkan pemeliharaan tahunan. Dari pengalaman kita dua tahun sekali kayu lapuk dan harus diganti yang permukaan atas. Untuk permukaan bawah mungkin bisa bertahan beberapa tahun. Kalau dengan beton, saya kira 10 tahun tidak butuh perawatan berarti. Ini terobosan baru dari rekan-rekan engineer BRG dan KLHK,” ungkap Nazir.

Turut hadir dalam peninjauan ini, Cut Afitatul Aini. Senior Engineering BRG itu menjelaskan proses pembuatan sekat kanal beton pre-cast.

Cut Afitatul Aini memaparkan, proses pengeringan beton butuh waktu 28 hari. Tapi 21 hari sudah bisa dipakai. Setelah dikeringkan, dipindahkan untuk dipasang, lalu diberi lapisan waterproof, sehingga air tidak bisa lagi ke hilir.

Terakhir, sekat kanal beton dilapisi tanah timbun. Fungsinya memperkuat sekat. Harapannya pipa-pipa ini jauh lebih kuat dibanding kayu yang biasa kita pakai. Juga perawatan tidak terlalu banyak,” jelas Cut.

Untuk menuju lokasi sekat kanal, harus melewati rute jalan tanah merah yang sedang basah. Selain itu juga harus menyeberangi sungai menggunakan kapal pompong.

Setelah menyeberangi sungai dibutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan mobil, kemudian dilanjutkan berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter untuk sampai di lokasi sekat kanal.

Selain meninjau sekat kanal beton pre-cast, Kepala BRG dan rombongan juga berkunjung ke Command Centre CCTV Asap Digital, di Markas Polda Jambi, di hari yang sama.

Di titik lokasi kamera pengawas api di kawasan Tahura Orang Kayo Hitam, Desa Seponjen, Nazir Foead menjelaskan bahwa kamera itu dapat memantau dengan radius mencapai empat kilometer atau sekitar 5.000 hektar.

Tower itu terobosan dari pihak Telkomsel, Polda Jambi dan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi. Belajar dari pengalaman kebakaran, perlu langsung memonitor deteksi cepat sesuai perintah Presiden Joko Widodo.

“Radiusnya mencapai empat kilometer atau 5.000 hektar yang mampu diawasi satu tower. Kami dukung ini. BRG siap bekerja sama dengan Polda Jambi dan Telkomsel. Dengan begitu kebakaran hutan dan lahan langsung kelihatan secara kasat mata melalui citra satelit karena ada CCTV,” terang Nazir. ***

Kategori Nasional

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.