Bupati Romi : Rumah Warga Rusak Diterjang Gelombang Pasang Akan Direlokasi

Penulis : Tim Liputan || Editor : M Asrori S

INFOJAMBI.COM – Gelombang air pasang yang merusak sejumlah rumah warga dan bangunan lainnya, di RT 10 Dusun Nelayan Desa Air Hitam Laut Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur disebut-sebut, sebagai peristiwa tahunan yang terus terjadi dan berulang.

Bahkan, kondisi paling parah selalu terjadi mengikuti siklus lima tahunan, munculnya selalu terjadi di awal atau akhir tahun saat gelombang laut naik atau meningkat.

Bupati Tanjab Timur, Romi Hariyanto, menyebutkan, ada upaya relokasi warga dan sedang dipertimbangkan. Menurutnya, relokasi jalan terbaik yang harus dipikirkan, agar warga di Desa Air Hitam Laut terhindar dari musibah yang kemungkinan terus berulang setiap tahun, terutama jika memang siklus lima tahunan, sepeti yang dilaporkan Ketua Baznas Tanjab Timur, As’ad Rasyad.

“Kyai As’ad sudah melaporkan, bahwa untuk lokasi relokasi rumah warga akan ditempatkan di tanah milik keluarga beliau. Kyai As’ad berkenan membantu relokasi,” kata Romi.

Untuk membantu delapan keluarga yang rumahnya diterjang gelombang, Romi, menyebutkan, tim reaksi cepat dan BPBD Tanjab Timur sudah diterjunkan, pihak Pemkab Tanjab Timur juga sedang mengupayakan bantuan untuk para korban.

KH As’ad Arsyad, saat dihubungi INFOJAMBI MEDIA, Sabtu (16/01/2021) mengungkapkan, bahwa tahun ini merupakan puncak siklus lima tahunan terjadinya gelombang tinggi. Dia sudah menduga gelombang air pasang tahun ini, dampaknya cukup fatal bagi warga yang masih tetap bertahan dan bermukim di bibir pantai Babussalam.

“Masih bersyukur, tidak ada korban jiwa, kita harus segera mengambil langkah, agar kejadian ini tidak terulang di masa mendatang,” ujar As’ad..

Terkait rencana penyaluran bantuan, Baznas Tanjab Timur akan menyalurkan bantuan diantaranya kepada seorang janda tua dengan kondisi ekonomiannya memang sangat memprihatinkan.

“Ada seorang istri nelayan yang suaminya sudah meninggal, rasanya sulit untuk bangkit apalagi untuk memperbaiki kerusakan rumahnya,” kata As’ad.

As’ad Arsyad menceritakan, sejumlah warga yang tahun ini tertimpa musibah, kebanyakan statusnya menumpang di tanah milik keluarga H Arsyad (Alm), pendiri pondok pesantren Wali Petu, Ayah As’ad. Kebanyakan mereka berprofesi sebagi nelayan. Namun saat ini sudah ada yang alih profesi sebagai pekerja kebun.

Camat Sadu, Frans Apriyanto, membenarkan, kedalapan KK yang terkena musibah, saat ini sudah diungsikan ke rumah kerabatnya di desa setempat. Sementara pihak kecamatan sudah mendirikan posko untuk empat hari kedepan.

“Kita berjaga-jaga, meski saat ini gelombang mulai relatif mereda, mungkin karena curah hujan sudah tak separah yang terjadi beberapa hari lalu. Tapi, cuaca kan tidak bisa dipastikan, tim reaksi cepat sudah di lokasi,” jelas Fran.

Kepala BPBD TanjabTimur, Jakfar, menyebut Tanjab Timur termasuk rawan dilanda bencana pasang rob dan gelombang pasang. Sejumlah permukiman warga diketahui berada di pesisir berkontruksi bangunan kebanyakan berbahan kayu.

“Banyak bangunan rumah usianya relatif sudah tua, seperti yang ada di pantai Babussalam. Kawasan tersebut berada di jalur terbuka sehingga setiap saat berpotensi dihantam gelombang tinggi,” kata Jakfar.

Sejumlah desa di Kecamatan Sadu diketahui termasuk daerah rawan abrasi. Jakfar akan mengusulkan pembuatan dinding pemecah ombak di sejumlah titik, seperti desa-desa di Kecamatan Sadu, Nipahpanjang, Muarasabak Timur dan di Kecamatan Mendahara.***

Kategori Lensa

Tags: ,,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.