Das Sollen Und Das Sein : Dari Don Vito Carleone Hingga Negeri Para Koruptor Sadis dan Brutal..!!!

Das Sollen Und Das Sein : Dari Don Vito Carleone Hingga Negeri Para Koruptor Sadis dan Brutal..!!!

Reporter: Opini | Editor: Admin
Das Sollen Und Das Sein : Dari Don Vito Carleone Hingga Negeri Para Koruptor Sadis dan Brutal..!!!
Ilustrasi Tokoh fiksi dalam buku Good Father, Don Vito Carleone || AI

Oleh : Mursyid Sonsang

Ada satu istilah dalam filsafat hukum yang diajarkan di Fakultas Hukum, namanya Das Sollen und Das Sein. Sederhananya : apa yang seharusnya terjadi versus apa yang nyatanya terjadi.

Baca Juga: Rugikan Negara 21,89 Miliar, Polda Jambi Ungkap Kasus Korupsi di Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Das Sollen, kita sepakat bernegara Repuplik Indonesia :  pejabat yang amanah dan tidak korupsi, pendidikan yang murah, kesehatan yang terjamin dan murah, jalan jalan yang mulus dan cita cita lainnya.

Tapi "Das Sein" kita hari ini ? Pejabat yang seharusnya melindungi justru menjadi pemburu rente. Dana bencana dikorupsi saat asap karhutla masih menyesakkan dada di Sumatera dan Kalimantan. Program  Makanan bergizi dikorupsi gila gilaan. Kuota haji diperjualbelikan dan banyak lagi KKN yang begitu marak di Repuplik yang kita cintai ini 

Baca Juga: Polri Tetapkan Dua Tersangka Korupsi di PT SPR BUMD Riau, Kerugian Negara Capai Rp33 Miliar

Jurang antara "Sollen dan Sein" inilah yang sedang menganga di republik ini.

Untuk memahami jurang itu, saya teringat pada buku klasik Mario Puzo, The Godfather. Tentang Don di atas Don di Amerika: Don Vito Corleone.

Baca Juga: Doktor Cumlaude, Varial Adhi Putra Tersangka, Banyak Warga Jambi Lega, Ada yang Tabur Bungga Hingga Berdoa

Jangan salah, Don Vito adalah mafia. Tapi Puzo menulisnya sebagai seorang filsuf jalanan. Prinsipnya sederhana dan justru lebih terhormat dari banyak pejabat kita hari ini: 

"Bantulah orang yang teraniaya. Karena persahabatan adalah segalanya."

Di hari pernikahan putrinya, pintu rumah Don Vito terbuka untuk siapa saja. Tukang roti yang anaknya diperkosa lapor polisi tidak ditanggapi karena tidak punya uang, datang ke Don Vito. 

Penyanyi yang kontraknya ditahan produser nakal, datang ke Don Vito. Don Vito tidak minta uang. Dia hanya bilang: 

"Suatu hari, dan hari itu mungkin tidak akan pernah datang, aku akan minta bantuanmu sebagai balasan. Anggap itu sebagai hadiah, sebagai persahabatan."

Keadilan yang diberikan Don Vito memang ilegal, tapi moral. Dia mengisi kekosongan ketika negara gagal hadir.

Bandingkan dengan "Das Sein" kita hari ini. Orang yang teraniaya datang ke kantor pejabat, apa yang terjadi? Anak sekolah yang seharusnya dapat makan bergizi, makanannya disunat anggarannya. Korban banjir dan karhutla yang menunggu dana bencana, dananya masuk ke rekening pribadi. Jamaah haji yang sudah tua renta menabung puluhan tahun, kuotanya dijual ke yang berani bayar lebih.

Don Vito membantu orang teraniaya tanpa diminta bayaran. Pejabat kita justru menganiaya orang yang sudah teraniaya untuk minta bayaran. 

Siapa yang lebih bermoral di sini? Seorang mafia fiksi atau pejabat pejabat kita yang disumpah berkali kali dengan kitab suci..?

Mario Puzo melanjutkan kisahnya dengan tragis. Don Vito punya seorang anak, Michael Corleone. Awalnya Michael adalah pahlawan perang, anak paling bersih, paling idealis, yang paling benci bisnis ayahnya. Don Vito bermimpi Michael jadi senator, jadi gubernur, jadi orang terhormat yang mencuci bersih nama keluarga.

Tapi apa yang terjadi? Michael justru menjadi Don yang jauh lebih kejam dari ayahnya.

Inilah perbedaan fundamental yang relevan dengan politik kita hari ini.

Don Vito berfilosofi: Kekuasaan untuk melindungi. Dia menolak bisnis narkoba karena merusak anak orang lain. Dia percaya kompromi dan perdamaian. Dia membunuh hanya jika harus, untuk melindungi keluarga. Dia masih percaya keluarga harus makan bersama, tertawa bersama.

Don Michael berfilosofi: Kekuasaan untuk menguasai. Dia mengambil semua bisnis, termasuk yang ditolak ayahnya. Dia tidak percaya kompromi. Musuh harus dimusnahkan total. Bahkan kakak kandungnya sendiri, Fredo, yang dianggap berkhianat, dibunuh di atas perahu saat sedang memancing. Dingin. Efisien. Tanpa ampun.

Don Vito mati di kebun tomat, bermain dengan cucunya, dikelilingi keluarga. Damai.

Don Michael mati sendirian di kursi di Sisilia, tidak ada seorang pun yang menangisinya. Semua orang yang dicintainya telah pergi atau dia bunuh sendiri.

Hari ini, di Senayan, di kantor gubernur, di kantor bupati, kita sedang menyaksikan lahirnya generasi Don Michael.

Generasi lama, sejahat-jahatnya, masih punya malu. Masih ada rasa ewuh pakewuh. Masih takut pada adat, pada ulama, pada orang tua.

Generasi baru yang masuk politik hari ini jauh lebih dingin. Mereka berpendidikan tinggi, bergelar S2 luar negeri, pintar bicara data dan investasi. Tapi mereka tidak punya filosofi Don Vito. Mereka tidak datang untuk melindungi yang teraniaya. Mereka datang dengan spreadsheet untuk menghitung berapa persen rente dari dana bencana, berapa persen fee dari proyek gizi, berapa dolar dari kuota haji.

Mereka adalah manajer kekejaman. Bukan lagi preman yang memukul dengan tangan, tapi eksekutif yang membunuh masa depan anak-anak dengan tanda tangan.

Mario Puzo menulis satu kalimat kunci yang harus kita renungkan

"Di balik setiap keberuntungan besar, ada kejahatan besar."

Dan kalimat Don Vito yang lain

"Seorang pengacara dengan tas kerjanya bisa mencuri lebih banyak uang daripada seratus pria dengan pistol."

Hari ini, kejahatan tidak lagi dilakukan dengan pistol. Tapi dengan regulasi, dengan SK, dengan stempel APBN, APBD, dengan persetujuan kuota.

Lalu di mana harapan kita?

Harapan kita adalah menyempitkan kembali jurang antara "Das Sollen "dan "Das Sein". Kita harus kembali menuntut pejabat kita untuk setidaknya punya moral seperti seorang mafia fiksi bernama Don Vito Corleone: bahwa kekuasaan itu untuk membantu orang yang teraniaya, bukan untuk menganiaya orang yang butuh bantuan.

Jika seorang Don Vito saja mengerti arti persahabatan, kenapa pejabat yang dipilih rakyat justru memberikan tawaran yang tidak bisa ditolak rakyatnya: diam atau kau tidak dapat bantuan?

Ingat...Dalam Godfather, kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan akan berakhir sepi. Kekuasaan yang dibangun di atas persahabatan dan pertolongan pada yang lemah, akan dikenang.

 

 

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya