Di Masa Pandemi Dampak Murid, Guru dan Wali Murid

Oleh : Rudi Siswanto

SAMPAI saat ini dunia digaduhkan dengan datangnya Corona Virus Disease 2019 atau disingkat Covid-19.

Bukan hanya negara-negara besar mendapat dampak hadirnya virus tersebut, negara di benua Asia pun mendapat dampak begitu dahsyat. Salah satunya negara Indonesia.

Dampak dari virus asal negeri seberang ini sangat mempengaruhi segala aktivitas penghuni suatu negara.

Bukan aktivitas saja yang terbatas bahkan roda ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan menjadi lumpuh oleh keganasannya.

Di Indonesia, khususnya Kabupaten Batanghari, Jambi, virus tersebut menjadi salah satu momok dalam dunia pendidikan, menjadi masalah dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari antara murid dan tenaga pendidik bahkan berdampak pada wali murid. Kenapa ?

Tugas pendidik harus mampu memberi yang terbaik untuk para muridnya selaku generasi. Dibalik tugas berat yang diemban seorang pendidik di masa pandemi ini, mereka harus mematuhi aturan pemerintah yang berlaku, seperti surat edaran Kemendikbud dan Kementerian Kesehatan.

Padahal murid sekolah sebagai generasi penerus bangsa wajib hukumnya mendapat hak penuh pendidikan dari seorang pendidik demi berlangsungnya kemerdekaan negara ini.

Di sisi lain, orangtua murid di masa pandemi juga mendapat dampak. Anak yang seharusnya pergi ke sekolah setiap pagi (kecuali hari libur) untuk menimba ilmu, kini terpaksa belajar dari rumah, bahasa kerennya daring.

Belajar dari rumah menambah beban bagi wali murid, terutama kaum Hawa. Emak-emak, mau tidak mau, suka tidak suka, harus ikut andil ekstra dalam dunia pendidikan demi masa depan anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak dalam mengisi kemerdekaan.

Emak-emak yang mayoritas di rumah memberikan pelayanan untuk suami serta mengurus anak dalam rumah tangga, kini harus meluangkan waktu ikut belajar online bersama si buah hati.

Faktanya, terkadang kaum emak-emak timbul emosi dan akhirnya cuma mampu mengelus dada, sembari berucap “ya ampun, ternyata begini rasanya mendidik sekolah anak. Mudah-mudahan Tuhan memberi kesabaran untuk kita semua atas musibah sekarang ini.

Terkadang, sebahagian emak-emak curhat di media sosial, seperi Facebook, InstaGram dan lain-lain. Itu menandakan secara tidak langsung dunia mengajarkan kita berteknologi.

Tapi dengan catatan bermedia sosial yang baik dan benar (positif) hingga tidak menimbulkan kegaduhan serta tidak melanggar UU ITE.

Di masa pendemi sekarang tidak menutup kemungkinan kaum Adam pun mendapat dampaknya.

Para suami sebelum atau sesudah adanya musim pandemi ini menjadi tulang punggung bagi keluarga. Sekarang mereka harus bekerja lebih ekstra lagi karena, beban yang dipikul bertambah, meskipun langkah mereka selalu dihantui dengan hadirnya virus tersebut.

Selain membantu mendidik anak di rumah, suami harus mencari nafkah untuk keluarganya. Uang ya uang…

Di masa pandemi ini harus mencari uang untuk memfasilitasi anak belajar. Contohnya membeli handphone android, agar anak bisa mengikuti belajar melalui online atau daring.

Jangan menilai sesuatu apapun dari sisi negatifnya. Kita harus bijak dalam menilai sesuatu. Di masa pandemi ini ada sisi positifnya, dan secara tidak sadar itu kita rasakan bersama. Musim pandemi ini mengajarkan kita hidup sehat.

Contohnya, mengajarkan kita menyediakan tempat dan mencuci tangan, agar terhindar dari kuman yang tidak kasat mata. Menyuruh kita makan yang mengandung vitamin dan bergizi, agar imun tubuh kuat, sehingga mampu menolak segala virus yang akan masuk ke tubuh kita.

Musim pandemi ini juga mengajarkan kita menghindari keramaian yang tidak jelas manfaatnya. Secara tidak langsung menyuruh kita berkumpul bersama keluarga di rumah, yang mungkin selama ini satu rumah asik dengan kegiatan masing-masing di luar, karena merasa tidak ada ancaman seperti sekarang ini.

(Penulis adalah wartawan di Kabupaten Batanghari)

Kategori Opini

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.