Minggu, 19 Agustus 2018 | 14:31

Di Papua Puluhan Bayi Meninggal Akibat Gizi Buruk

Seorang Balita sedang di rawat akibat mengalami gizi buruk.

INFOJAMBI.COM – Puluhan Balita meninggal terjadi di dua darerah, Kabupaten Asmat dan Pegunungan Bintang Provinsi Papua, akibat giri buruk dan panyakit campak.

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, mengingatkan, Pemerintah Pusat dan semua level pemerintahan di Papua, agar kasus gizi buruk ini menjadi kejadian luar biasa (KLB), serta kasus ini tidak terulang kembali.

“Kami sangat berharap KLB gizi buruk dan campak yang terjadi menjadi kejadian terakhir di Papua. Seberat apapun akses, seminim apapun infrastruktur baik fisik maupun fasilitas dan tenaga kesehatan, harus segera dicarikan solusinya, karena ini menyangkut nyawa anak bangsa,” ujar Ketua Komite III DPD yang membidangi persoalan kesehatan dan perlindungan anak, Fahira Idris di Kabupaten Timika, Papua (28/1).

Kehadiran para Anggota DPD di Papua, menyerahkan bantuan DPD RI untuk para korban KLB gizi buruk dan campak, kepada perwakilan Pemerintah Kabupaten Asmat. Hadir juga senator asal Papua Pdt. Charles Simare-mare.

Untuk gizi buruk, kata Fahira Idris, Pemerintah harus memformusikan solusi, agar infrastruktur pertanian di daerah ini dipenuhi untuk mempermudah warga berladang dan menghasilkan pangan yang bergizi.

Bantuan dari DPD RI untuk para korban KLB gizi buruk dan campak di Papua.

Seperti yang kita ketahui, tambah Fahira, hampir semua Kabupaten di Papua, termasuk Asmat mempunyai potensi sagu dan ikan yang luar biasa.

“Hutan-hutan di sana kan menghasilkan sagu. Belum lagi sungai-sungainya yang kaya ikan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Tinggal bagaimana Pemerintah, baik Pusat maupun daerah memastikan warga berdaya mengelola potensi-potensi alam yang dapat menjadi sumber pangan yang bergizi ini,” kata Fahira.

Bupati Asmat Elisa Kambu berharap pusat lebih memperhatikan daerah, meskipun bantuan sudah sangat banyak terhadap kejadian ini dan ke depan tidak ingin kejadian seperti ini terulang. Besar harapannya agar pemerataan terjadi.

“Pembangunan jangan dinilai dengan uang, baik bantuan dan program Pemerintah, tapi disamakan saja programnya, antara pusat dan Papua, sehingga pembangunan merata, jika di Jawa dibangun di Papua juga,” jelas Elisa.

Hal tersebut diamini oleh senator Charles, bahwasanya pemerataan pembangunan bukan hanya berdasar luas wilayah dan jumlah penduduk, akan tetapi melihat juga karakteristik lainnya.

Selanjutnya Charles mengunjungi anak-anak korban gizi buruk dan campak di posko Agats dan RSUD Agats untuk melihat kondisi penanganan korban.

“Saya minta para orangtua agar tidak buru-buru membawa pulang anak, biarkan ditangani sampai sembuh dahulu,” jelasnya kepada para orangtua korban gizi buruk dan campak, di Agats. ( Bambang Subagio – Jakarta )

Kategori Kesehatan

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.