Diduga Ada Penyimpangan, Perumahan Nelayan Terancam Bongkar

Proyek pembangunan perumahan nelayan.

INFOJAMBI.COM — Diduga tidak sesuai spesifikasi pekerjaan, 50 unit bangunan perumahan khusus (rusus) nelayan di Kabupaten Tanjabbar, Jambi, terancam dibongkar.

Perumahan ini dibangun menggunakan dana miliaran rupiah yang bersumber dari APBN, dipusatkan di kawasan Parit VII, Kuala Tungkal, Tanjabbar. Proyek ini sudah berjalan cukup lama.

Dugaan adanya penyimpangan muncul, ketika ditemukan plester dinding yang seharusnya dalam Bills Of Qwanties (BQ) setebal 15 milimeter, kenyataannya hanya 10 milimeter.

Dalam segi pembesian, pemakaian behel tapak juga diduga tidak memenuhi spesifikasi. Besi yang semula menggunakan ukuran 12 milimeter, hanya menggunakan besi ukuran 10 milimeter.

“Awalnya digunakan besi behel untuk tapak berukuran 12 milimeter sebanyak 50 batang. Pemasangan selanjutnya hanya pakai ukuran 10 mm,” kata seorang pekerja yang enggan ditulis namanya.

Tidak sesuainya pembesian diungkapkan seorang konsultan. Untuk ukuran bangunan 1unit rumah, tapak pondasi biasa menggunakan besi sekitar 20 batang untuk tipe 36.

“Kalau dikalikan 50 unit, tapak pondasi bangunan perumahan nelayan itu butuh seribu batang,” kata konsultan itu.

Informasi pekerja di lapangan, besi tapak ukuran 12 milimeter hanya didatangkan satu ikat, atau 50 batang. Kekuatan fisik bangunan ini dikhawatirkan tidak maksimal.

Masih menurut konsultan yang minta tidak ditulis namanya ini, balok slop juga minim pembesian. Balok slopnya tidak memenuhi standar. Jika bangunan ini terus dikerjakan, jelas tidak akan sesuai harapan.

Terkait temuan ini, Kabid Kimrum Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Tanjabbar, Arif Sambudi, menyatakan tidak ada hubungan permanen dalam mengawasi pembangunan 50 unit rumah nelayan ini.

“Kami tidak ada hubungan langsung untuk mengawasinya. Jika benar dugaan itu, secara teknis harus ditinjau kembali. Bisa saja dibongkar dan dibangun kembali agar tidak memakan korban,” tegas Arif.

Arif mengakui, dalam pembangunan rumah nelayan tersebut pihaknya diikutsertakan, namun hanya dalam penyediaan lahan lokasi. “Kami dari kimrum tidak tahu soal teknisnya,” ujar Arif tak mau bertele-tele. (Raini – Tanjabbar)

 

Kategori Pendidikan

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.