Dikunjungi Bupati Wajo, Zola Buka Nostalgia Bersama Suku Bugis

Gubernur Jambi terima kunjungan rombongan Bupati Wajo || foto : novri

KOTAJAMBI — Gubernur Jambi, H. Zumi Zola, menjamu Bupati Wajo, Sulawesi Selatan, Andi Burhanuddin Unru serta rombongan lengkap beserta Ketua DPRD Wajo HM Yunus Panaungi, Kapolres Wajo AKBP Noviana Tursanurohmad, Dandim 1406 Letkol Inf Arief Susanto, Kepala Kejaksaan Negeri Wajo Transiswara Adhi, Ketua Pengadilan Negeri Wajo Sutarno dan sejumlah kepala OPD, di Rumah Dinas Gubernur Jambi, Rabu (5/4) malam.

“Mendapat kunjungan Bupati dan rombongan, kami senang bisa bersilaturrahmi di sini,” ungkap Zola.

Zola merasakan kesan mendalam saat menjabat Bupati Tanjabtim, dengan memimpin masyarakat Muara Sabak asal Sulawesi Selatan, khususnya Suku Bugis Wajo yang sangat membantu berbagai program pemerintahan, bahkan selalu sukses jika diberikan program. “Sudah menjadi keyakinan jika diberikan program akan berhasil,” kata Zola.

Mendapat penghargaan nasional atas keberhasilan menanam cabe yang digalakkan Zola saat menjadi Bupati Tanjabtim, merupakan bukti komitmen Suku Bugis Wajo mendukung program pemerintah. “Mereka itu masyarakat kita asal Sulawesi Selatan,” jelas Zola.

Keberadaan Suku Bugis yang mendiami wilayah pesisir Jambi bukan hal asing bagi masyarakat asli Jambi, mengingat Jambi dengan keramahtamahannya serta sikap saling menghargai dan toleransi dengan pendatang, menyebabkan Suku Bugis betah hidup berdampingan serta berperan aktif di pemerintahan dan kemasyarakatan, termasuk pembangunan.

“Wakil Bupati semasa saya juga dari Suku Bugis dan banyak yang berkecimpung di dunia politik maupun pemerintahan,” ujar Zola.

Silaturrahmi yang terjalin diperkuat dengan kedatangan Bupati Wajo beserta rombongan. Gubernur Zola menyatakan keterbukaan kerjasama serta saling mendorong pembangunan di wilayah Jambi. “Silakan kerjasama apa yang kita buat demi kemajuan bersama,” ungkap Zola.

Bupati Wajo, Andi Burhanuddin Unru, menyampaikan sejarah perantauan Suku Wajo sebelum abad 17 dengan falsafah, setiap orang dapat mencari nafkah di mana saja. Hal ini menjadi pegangan merantau. Filosofi kedua bagi Suku Wajo, adalah kebebasan berpendapat. Sampai hari ini memegang filosofi itu.

Andi Burhanuddin Unru menuturkan, Sultan Hasanuddin dan Raja Wajo di abad 17 mengalami kekalahan dari Belanda, sehingga keturunan pejuang Wajo tidak ingin melakukan kerjasama yang menjadi alasan mereka merantau mencari tempat yang tidak bekerjasama dengan Belanda. “Malaysia,Thailand, bahkan sampai Afrika,” jelas Bupati Wajo.

Fase perantauan di akhir-akhir ini, kata Andi Burhanuddin Unru, terjadi karena masa kekacauan tahun 1960-an. Banyak merantau juga dan tidak betah tinggal di kampung dan mencari tempat aman.

Tiga pilar nilai semangat Suku Bugis Wajo yang mereka pegang, adalah nilai agama, budaya dan rasionalitas terhadap kondisi. Mengakui semua sama dihadapan Tuhan. Untuk itu, saling menghargai dan mengingatkan dengan penyampaian yang baik dan lembut.

Ketua Himpunan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (HKKSS) Provinsi Jambi, H Bakri, yang saat ini menjabat anggota DPR RI Dapil Jambi, menjelaskan, masyarakat Bugis di Jambi sudah membaur, bahkan banyak terlibat dalam pembangunan sehingga mereka menjadi bagian dari masyarakat keseluruhan. “Semua komunitas membantu terwujudnya pembangunan Jambi,” ujar Bakri. (infojambi.com/d)

Laporan : Raihan

 

Kategori Provinsi

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.