Ditintelkam Polda Jambi Beri Pembekalan untuk Mahasiswa KKN STAI MA’ARIF

Penulis : Andra Rawas
Editor : Dora

INFOJAMBI.COM  – Ditintelkam Polda Jambi hadir menjadi pembicara pada Pembekalan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 2019-2020 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ma’arif.

Kegiatan ini berlangsung di Lantai 3 Kampus STAI Ma’arif, Jambi, Sabtu (1/2/2020) sore.

Dalam pembekalan ini, Kasubdit 5 Ditintelkam Polda Jambi, AKBP Nugroho Siswoko didampingi Ipda Sudiro menyampaikan materi tentang pencegahan radikalisme pada generasi milenial di era digital 4.0.

Kegiatan ini dihadiri H. Amran S.Th.I., MA., Ph.D (Ketua STAI Jambi), Usrial S.Ag., MM (Dosen Tetap STAI), beberapa dosen dan 130 mahasiswa.

Intisari materi yang disampaikan oleh Kasubdit 5 Ditintelkam, adalah pengertian radikalisme, dan sejarah perkembangan radikalisme di Indonesia dan di Provinsi Jambi.

Nugroho Siswoko menjelaskan, faktor penyebab seseorang bisa menjadi radikal diantaranya merekrut secara offline, pertemuan langsung dengan tatap muka, terekrut secara online, berinteraksi dengan perekrut di dunia maya dan medsos.

Selain itu juga disebabkan self rekruitment, terekrut dengan sendirinya karena sering membaca dan menonton video radikalisme.

Nugroho juga memaparkan ciri-ciri kelompok radikal dan cara menghindari serta mengantisipasinya.

Kegiatan pembekalan juga diisi dengan sesi tanya jawab.

Terkait pertanyaan kiat-kiat menangkal radikalisme, Nugroho mengingatkan bila ada ajakan masuk ke dalam kelompok itu, online maupun offline, mesti berempati dulu dengan memposisikan diri berada dalam kelompok tersebut.

“Bagaimana tanggapan dan sikap orang tua, kerabat dan teman-teman kita. Tabayun atau cek dan recek kebenaran berita/informasi yang kita terima ke ahlinya. Jangan langsung ditelan mentah-mentah atau meneruskan berita ke orang lain,” kata Nugroho.

Menanggapi soal Ponpes Ngruki di Solo milik Abu Bakar Ba’asyir sampai sekarang belum ditutup, Nugroho mengungkapkan, tidak semua orang yang belajar di ponpes itu terpengaruh paham radikal.

“Bila pemiliknya berpaham idiologi radikal, belum tentu semua pengurus atau ustadznya mengajarkan radikalisme,” ujar Nugroho. #

Kategori Pendidikan

Tags: ,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.