Rezim Jokowi akan dikenang sebagai rezim yang melakukan perusakan institusi secara sistematis. Dua institusi paling vital, Mahkamah Konstitusi dan Kepolisian Republik Indonesia, dirusak dari dalam oleh dua orang yang saling menopang.
Jokowi Merusak MK dan Memaksakan Dinasti
Perusakan MK adalah kejahatan konstitusional. Putusan MK No.90/PUU-XXI/2023 yang meloloskan Gibran Rakabuming Raka menjadi Cawapres adalah bukti telanjang intervensi.
Begitu juga dengan mudah menantunya Bobby Nasution jadi Gubernur Sumut dan anaknya Kaesang Jadi Ketua PSI. Semua dilakukan operasi senyap, dengan pola permintaan yang tidak bisa ditolak
Ketua MK saat itu adalah Anwar Usman, paman Gibran, adik ipar Jokowi. Majelis Kehormatan MK (MKMK) sendiri yang menyatakan Anwar Usman melakukan pelanggaran etik berat dan mencopotnya dari Ketua MK. Itu fakta persidangan etik, bukan opini. MK yang seharusnya jadi penjaga konstitusi, diubah jadi alat stempel untuk memuluskan anak menjadi Wakil Presiden.
Kebohongan IKN dan Kereta Cepat: Dari Janji Swasta Jadi Beban APBN
Soal IKN, janji awal Jokowi sangat jelas di hadapan publik: tidak akan pakai APBN, tapi dari investasi swasta dan BUMN. Faktanya? APBN jebol.
Data Kemenkeu dan APBN 2022-2025 mencatat alokasi IKN dari APBN mencapai puluhan triliun, bahkan 2025 dialokasikan Rp 42 triliun lebih. Swasta yang dijanjikan tidak datang, rakyat yang disuruh menanggung.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) juga sama. Awalnya dijanjikan business to business, tidak pakai APBN, tidak dijamin negara.
Pidato Jokowi 2016 masih bisa dilacak. Faktanya? Proyek bengkak dari USD 6 miliar menjadi lebih dari USD 7,3 miliar. Pemerintah akhirnya menerbitkan Perpres No.93 Tahun 2021 yang mengubah skema, memberikan jaminan negara dan penyertaan modal negara lewat APBN.
Dari proyek swasta murni, menjadi utang jangka panjang negara kepada China. Gagal total janji awal.
Listyo Sigit Merusak Polri: Alat Kekuasaan, Bukan Penegak Hukum
Jika Jokowi merusak MK, maka Listyo Sigit Prabowo merusak Polri. Di era Listyo Sigit sebagai Kapolri terlama di era Jokowi, Polri berubah menjadi alat kriminalisasi lawan politik Jokowi.
Pola kriminalisasi terhadap ulama, aktivis, dan tokoh oposisi terjadi masif. Di sisi lain, laporan terhadap buzzer dan loyalis penguasa tidak pernah jalan.
Puncaknya di Pemilu 2024. Istilah "Pacok" istilah populer di masyarakat karena banyaknya laporan dan video keterlibatan oknum aparat kepolisian dalam mengarahkan dukungan, mengintimidasi kepala desa, dan melakukan kecurangan terstruktur. Netralitas Polri hancur.
Listyo Sigit juga yang memimpin institusi saat skandal berdarah Fredy Sambo.
Irjen Ferdy Sambo membunuh ajudannya sendiri, Brigadir J. Ini menunjukkan pembusukan kultur kekerasan dan mafia di internal Polri yang dibiarkan tumbuh di era Listyo Sigit.
Asal tahu saja Jejaknya sudah terlihat sejak awal. Saat Listyo Sigit menjalani fit and proper test di Komisi III DPR RI menjelang pengangkatan sebagai Kapolri pada Januari 2021, siapa yang hadir mendampingi di barisan paling depan? Ferdy Sambo. Seorang perwira yang saat itu masih berpangkat Brigjen. Itu bukan kebetulan. Itu adalah sinyal kepada seluruh anggota DPR dan seluruh jenderal di Polri: inilah orang saya.
Begitu Listyo Sigit dilantik menjadi Kapolri, langkah pertama yang dia lakukan adalah menaikkan posisi kesayangannya itu. Ferdy Sambo langsung dipromosikan menjadi Kadiv Propam Polri. Jabatan paling strategis dan paling ditakuti di Polri.
Dan yang terakhir, yang paling fatal: skandal penyadapan ilegal dengan alat negara LIMS.
Mantan Kapolri Listyo Sigit kini ditetapkan sebagai tersangka bersama Irjen Ahrie Sonta dan Irjen Eko Hadi Santoso karena menyadap Presiden, pejabat negara, media dan tokoh politik. Alat seharga ratusan miliar yang dibeli dari APBN untuk menangkap teroris, dipakai untuk mengintai Presiden sendiri.
Jika MK dirusak untuk meloloskan anak, maka Polri dirusak untuk menjaga kekuasaan bapaknya. Dua kerusakan ini saling mengunci dan menjadi warisan paling gelap dari era Jokowi dan Listyo Sigit. ( TIM/AI)
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com