Dulu Uus, Sekarang Ernest

Ernest Prakarsa (kiri), Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Dr. Zakir Naik (kanan)

Dunia selebritas Indonesia memang penuh dengan sensasi. Sayangnya sensasi yang dipilih membuat geram umat Islam, pemeluk agama mayoritas di negara ini. Masih jelas di dalam pikiran kita bagaimana seorang komedian junior, Uus yang menghina pemimpin Front Pembela Islam (FPI) di akun jaringan sosialnya. Hinaan ini membuat geram para netizen dan mencaci habis-habisan komika sekaligus presenter plontos yang memulai kiprahnya di dunia entertainment Indonesia sejak 2013 ini.
Pria Bandung yang bernama asli Rizky Firdaus Wijaksana ini bahkan dipecat dari dua acara TV yang dibawanya. Walau pada akhirnya minta maaf kepada Majelis Ulama Indonesia, bukan kepada Rizieq Shihab, namun pria yang baru dikarunia anak pertama beberapa bulan silam ini sudah terlanjur dicap negatif oleh netizen.

Sebelum Uus, artis film Prisia Nasution juga sempat dibully para netizen. Hal ini terkait hinaannya terhadap Islam. Gadis Batak Sunda ini menyuruh orang orang yang meniru- niru Arab untuk pindah ke Arab. Artis pemenang piala citra tahun 2011 yang bersuamikan artis Malaysia ini pun pada akhirnya juga menyampaikan permintaan maaf nya dan menghapus postingan yang terlanjur menyinggung tersebut.

Minggu lalu seorang komika lainnya, Ernest Prakarsa yang memulai debutnya di dunia entertainment melalui ajang Stand Up Comedy juga melakukan ulah yang sama. Dalam postingannya di akun twitter, pria Tionghoa 35 tahun ini menuduh ulama India Zakir Naik yang sedang berkunjung ke Indonesia sebagai penyokong ISIS dan mempertanyakan sikap Jusuf Kalla yang mau menerima kunjungan sang ulama.


Netizen sangat geram dengam ucapan artis junior ini. Bahkan banyak yang mengancam akan menjadikan Ernest menjadi Uus kedua. Mereka menviralkan pemboikotan obat tolak angin yang diiklankan Ernest. Bapak dari dua orang anak inipun menghapus postingan meresahkan tersebut dan meminta maaf. “Setelah merenungkan, saya merasa saya salah karena terlalu percaya pada artikel tersebut tanpa riset yang lebih dalam,” tulisnya.
Apakah ini bukti kebebasan beragama? Apakah akan ada Uus- Uus dan Ernest- Ernest lainnya? Sampai kapan toleransi “kebablasan” ini akan berlangsung? Para Ulama dituduh dan difitnah, demonstrasi damai dituduh makar, artis-artis penghina ulama dan Islam tidak diproses hukum dan si tersangka penista agama pun bisa melenggang bebas. Beginilah kebebasan di zaman revolusi mental! Saya sebagai salah seorang umat Islam di Indonesia tidak terima agama dan ulama saya dihina. Namun apa daya. Pemerintah sepertinya melindungi para penghina tersebut. Miris, pemeluk Islam menjadi minoritas di negaranya sendiri…… (LRD/ infojambi)

Kategori Opini

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.