INFOJAMBI.COM — Kobaran api memecah ketenangan warga, di RT 08, Kelurahan Tanjung Raden, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi, Sabtu (12/9/2026) sore. Dalam waktu singkat, si jago merah melahap empat unit rumah non permanen. Warga berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri.
Kabar kebakaran diterima Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Jambi pada pukul 17.19 WIB. Hanya 6 menit kemudian, tim dari Posyankar Jamkose tiba di lokasi.
Baca Juga: Belasan Rumah di Kualatungkal Terbakar
Kecepatan respons itu menjadi faktor penting dalam menahan laju api, agar tidak merambat lebih jauh ke kawasan permukiman yang didominasi bangunan non permanen.
Api diketahui menghanguskan 2 rumah dengan tingkat kerusakan berat, dan menyebabkan kerusakan ringan pada 2 rumah lainnya.
Baca Juga: Wabup Tanjabbar Serahkan Bantuan kepada Korban Kebakaran
Rumah yang mengalami kerusakan berat dihuni keluarga almarhum H. Asomad yang ditempati Rts Indra, serta rumah milik Rts Sumiati.
Sementara itu, kerusakan ringan terjadi pada bagian dapur rumah milik Rts Eva Susanti dan Raden Hasan.
Baca Juga: Mobil Batubara Terbakar di Lintas Sumatera
Berdasarkan laporan petugas, kebakaran diduga dipicu kebocoran regulator tabung gas. Saat api mulai muncul, korban sempat berusaha melakukan pemadaman secara mandiri.
"Dugaan kebocoran regulator tabung gas. Korban berupaya memadamkan api dengan handuk basah, namun api cepat menyebar. Korban pun lari keluar rumah menyelamatkan diri," kata Kepala Damkartan Kota Jambi, Mustari Affandi.
Upaya penyelamatan diri itu menjadi pilihan paling aman, ketika api terus membesar. Karakter bangunan non permanen membuat kobaran api mudah menjalar dari satu bagian rumah ke bagian lain. Kondisi itu meningkatkan risiko penyebaran api ke bangunan di sekitarnya.
Sebanyak 50 personel diterjunkan dalam operasi pemadaman. Kekuatan itu didukung 1 unit armada komando, 7 unit armada tempur, serta 3 unit armada suplai air. Selama proses pemadaman dan pendinginan, sedikitnya 60 ribu liter air digunakan untuk mengendalikan api.
Meski bergerak cepat, petugas menghadapi sejumlah hambatan di perjalanan maupun saat operasi berlangsung. Kemacetan di Jembatan Batanghari I sempat memperlambat laju armada menuju lokasi kebakaran.
Sesampainya di tempat kejadian, petugas kembali menemui kendala. Banyak kendaraan warga yang parkir di sekitar lokasi untuk menyaksikan kebakaran.
Tantangan lain muncul dari konstruksi bangunan yang mudah terbakar. Petugas harus bekerja lebih ekstra untuk mencegah api melompat ke rumah lain di sekitar titik utama kebakaran.
Langkah pertama yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan PLN, untuk memutus aliran listrik di lokasi kejadian. Setelah area dinyatakan aman, personel melakukan proteksi terhadap bangunan di sekitar sumber api, dilanjutkan pemadaman, pendinginan, dan penguraian material yang masih menyimpan bara.
Petugas juga berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan guna mendata korban serta dampak yang ditimbulkan pascakebakaran. Selang 2,5 jam bekerja di lapangan, api akhirnya berhasil dikendalikan.
Hasil operasi menunjukkan kebakaran dapat dipadamkan dengan aman dan lancar. Namun insiden tersebut tetap meninggalkan korban.
Dua perempuan berusia 72 tahun dan 42 tahun mengalami syok akibat kejadian itu. Keduanya dievakuasi ke Rumah Sakit Abdul Manap untuk mendapatkan penanganan medis.
Di pihak petugas, seorang anggota pemadam kebakaran, Adi Putra, mengalami dehidrasi dan langsung mendapat penanganan dari tim PSC 119.
Nilai kerugian akibat kebakaran masih dalam proses pendataan. Sementara, seluruh personel yang terlibat dalam operasi pemadaman telah kembali ke markas dan pos masing-masing sekitar pukul 20.00 WIB.
Selain unsur pemadam kebakaran, penanganan kejadian ini turut melibatkan PLN Jambi, Pemerintah Kecamatan Danau Teluk, Polsek Danau Teluk, PSC 119, BPBD Kota Jambi, Kelurahan Tanjung Raden, relawan pemadam kebakaran, serta Tagana Dinas Sosial.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat tentang besarnya risiko kebakaran di kawasan permukiman padat dengan bangunan non permanen. Dalam situasi seperti itu, beberapa menit pertama menjadi penentu.
Saat api muncul dan mulai tak terkendali, keselamatan jiwa menjadi prioritas utama sebelum api berubah menjadi bencana yang lebih besar. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com