Fachrori Hadiri Haul KH Abdul Qodir Ibrahim Sang Pejuang Islam di Jambi

Penulis : Tim Liputan || Editor : Redaksi

INFOJAMBI.COM — Gubernur Jambi, H Fachrori Umar mengakui pentingnya hubungan ulama dan pemimpin dalam pembangunan.

Ini disampaikannya saat menghadiri Haul ke-50 Tuan Guru KH Abdul Qodir Ibrahim, di Pondok Pesantren As’ad, Olak Kemang, Kota Jambi, Sabtu (1/2/2020).

“Keberadaan ulama dan umaro sangat penting untuk saling mendukung dalam membangun karakter bangsa. Bekal ilmu dan agama yang tertanam dengan baik pada setiap individu menjadi tuntunan untuk senantiasa berbuat baik,” ungkap Fachrori.

Hubungan ulama dan umara sangat penting. Pemimpin perlu dinasehati dan diingatkan, khususnya dari Tuan Guru, para kyai dan ulama.

“Perlu nasehat dalam melaksanakan tugas sebagai pemimpin dan mengajak mewujudkan Jambi lebih baik,” ungkap Fachrori.

Haul KH Abdul Qodir bin Ibrahim memperingati wafatnya ulama yang mempunyai jasa besar terhadap perkembangan Islam di Provinsi Jambi, sekaligus pendiri Pondok Pesantren As’ad, Jambi.

Jasanya yang sangat besar dalam membantu pemerintah mengadakan sarana pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa di bidang ilmu pengetahuan Islam maupun ilmu pengetahuan umum.

“Beliau memperkenalkan pentingnya kurikulum pelajaran umum dan memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita di Jambi,” jelas Fachrori.

Banyak gagasan baru yang diperbuat KH Abdul Qodir Ibrahim bagi perkembangan ilmu agama dan pendidikan di Provinsi Jambi. Haul ini menjadi momentum bersama untuk mendoakan dan mengenang jasa perjuangan ulama.

Metode pendidikan di Pondok Pesantren As’ad mampu mengkolaborasikan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, agar lulusan pondok pesantren memiliki imtaq dan menguasai iptek serta berbagai ketrampilan wirausaha, sehingga mampu bersaing dan berkontribusi dalam pembangunan.

Mudir Pondok Pesantren As’ad, KH Najmi Qodir menerangkan, haul ini bukan untuk mengagung-agungkan sosok KH Abdul Qodir Ibrahim, melainkan menelusuri serta mengambil pelajaran dari kehidupan sosok ulama yang mengabdikan dirinya untuk agama dan pendidikan.

“Ini untuk menelusuri perjalanan hidupnya. Beliau wafat 10 Juli 1970 M, atau 6 Jumadissani 1391 H. Dengan keteguhan iman, beliau berani sampaikan yang haq (kebenaran), meski di tengah penguasa zalim,” jelas KH Najmi Qodir.

Pada 1943, penguasa Jepang memerintahkan seluruh masyarakat Jambi menyembah matahari terbit, atau menghadap ke timur setiap pagi. Wanita Jambi danjurkan keluar rumah.

KH Abdul Qodir Ibrahim menyampaikan pada penjajah Jepang bahwa perintah itu tidak sesuai syariat dan aqidah Islam. Beliau sempat menggebrak meja dihadapan pemimpin Jepang.

Kecerdasan KH Abdul Qodir Ibrahim dan tekadnya belajar tidak ada waktu terbuang. Pada umur 13 tahun beliau sudah menjadi ulama.

“Pernah ditanyakan kenapa beliau cepat sekali mendapat kehormatan sebagai ulama. Beliau menjawab, mempergunakan waktu secara maksimal dengan membaca banyak kitab,” kiasah KH Najmi Qadir.

Dalam acara ini Gubernur Jambi secara pribadi memberikan bantuan untuk Ponpes Asad yang diterima oleh KH Najmi Qodir. #RAI

Kategori Agama,Provinsi

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.