Farid Prawiranegara dan Keteladanan Pemimpin Masa Lalu

Cerita perintang-rintang puasa oleh Hasil Chaniago…

Kami berasal dari keluarga Masyumi. Uwo (nenek dari pihak ibu) saya benama Ramayana, kalau bercerita tentang Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara, sungguh bersemangat. Tahun 1955 Uwo pernah pergi ke Bukittinggi naik kereta api dari Payakumbuh hanya untuk mendengar Pak Natsir yang dijadwalkan berpidato di Lapangan Atas Ngarai. Tapi Uwo dan kawan-kawan beliau tak benar-benar sampai di Atas Ngarai, sampai di simpang Tembok, jelang RS Achmad Mochtar sekarang, tidak bisa lagi jalan saking ramainya. Akhirnya digelar saja tikar dan makan nasi bungkus yang dibawa di pinggir jalan. Walaupun tak sempat melihat sang pujaan, M. Natsir, tapi mereka puas sudah berusaha berpartisipasi dengan datang ke lokasi kampanye Masyumi itu.

Bagaimana dengan Sjafruddin Prawiranegara? Sama saja. Selain Uwo, Apak saya, nama beliau Hasan Basri gelar Dt. Bogah, juga pengagum Mr. Sjafruddin sebagaimana beliau mengagumi Pak Natsir dan Ahmad Husein.

Sjafruddin yang berdarah keturunan Minang-Banten, dan menikah dengan wanita Minang asal Pagaruyung, bagi orang kampung saya sudah melegenda. Kalau Uwo saya menyebut Pak Sjaf sebagai Presiden Darurat. Yaitu Presiden Darurat ‘Balando’ (PDRI) dan Presiden Darurat PRRI.

Kedua tokoh Masyumi ini juga punya jasa benar bagi Republik Indonesia. Mr. Sjafruddin pernah menjadi penyelamat RI sebagai Ketua PDRI di usia 38-39 tahun. Mohammad Natsir berjasa mengembalikan RIS menjadi NKRI melalui Mosi Integral 3 April 1950, di usia 41 tahun. Ganjaran atas jasanya, Presiden Sukarno memberi mandat penuh Pak Natsir membentuk kabinet dan menjadi Perdana Menteri pertama NKRI.

Lalu, ada apa sebenarnya, kedua negarawan dan tokoh bangsa ini kemudian mendirikan dan memimpin PRRI? Kok berhadap-hadapan dengan Bung Karno? Keduanya adalah orang Minang dan berdarah Minangkabau. Dalam diri mereka melekat filosofi “raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah”. Ketika sahabat baik mereka Ir. Sukarno dianggap mulai menyimpang dan “lupa diri” keduanya pun paling keras mengeritik (menyanggah). Terjadilah PRRI.

Tapi sudahlah, semua itu masa lalu dan telah jadi sejarah. Sejarah yang penuh dinamika sebuah bangsa yang baru merdeka. Toh negara menghargai semua pemimpin dan rakyat yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsanya. Juga Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. PDRI dan PRRI adalah rangkaian peristiwa dari dinamika sebuah bangsa yang baru merdeka. Amerika Serikat pun mengalami hal seperti itu, 85 tahun setelah merdeka Amerika masih perang saudara.
***
Uwo, Apak, dan Amak saya adalah pengagum Pak Natsir dan Pak Sjaf. Saya cukup merasa beruntung bisa mengenal sebagian dari anak-anak kedua Bapak Bangsa ini. Dari Pak Natsir saya kenal Uni Aisjah Natsir dan Bang Fauzie Natsir. Sedangkan keluarga Pak Sjaf, saya kenal baik keempat anak laki-laki beliau, Bang Chalid, Bang Farid, Bang Rasyid, dan Bang Jazid S Prawira Negara. Saya merasa paling dekat dengan putra kedua, Bang Farid Prawiranegara, karena sudah berkenalan dan terlibat dalam berbagai seminar PDRI sejak pertengahan 1990-an hingga akhirnya PDRI diakui sebagai Hari Bela Negara tahun 2006. Yang membuat saya dekat dengan Bang Farid (alm) adalah Alm. Prof. Mestika Zed (peneliti dan penulis buku PDRI) dan Fadli Zon yang dulu bersama Bang Farid dan Yusril Ihza Mahendra sama-sama pendiri Partai Bulan Bintang 1998.

Tapi pertemuan pertama saya dengan Bang Farid justru terjadi di Cotabato, Mindanao, Filipina Selatan, 30 September 1996. Waktu itu saya sebagai wartawan Singgalang hadir meliput pelantikan Prof. Nur Misuari sebagai Gubernur ARMM (Atonomous Regional Muslim in Mindanao-Daerah Otonomi Khusus Muslim Mindanao). Bang Farid waktu itu mewakili Grup Bakrie dan ikut menandatangani MoU dengan pemerintah ARMM. Saya dikenalkan ke Bang Farid oleh Bang Kivlan Zen yang waktu itu Komandan Pasukan Perdamaian OKI di Filipina Selatan.

Bang Farid – yang kata orang yang memgenal wajahnya paling mirip dengan sang ayah – adalah orang yang humble, rendah hati dan santun. Termasuk kepada orang yang jauh lebih muda sekalipun. Perkenalan itu berlanjut ke berbagai forum seminar, termasuk satu panggung (sama pembicara) dalam Seminar PDRI yang diadakan Fadli Zon dan Masyarakat Peduli Pejuang PDRI serta DHD Angkatan 45 Sumbar di Hotel Bumiminang awal tahun 2000.

Dalam hubungan dengan Bang Farid, kami sering saling mengunjungi. Kalau saya ke Jakarta, dan kontak Bang Farid, kita biasanya bertemu. Kalau Bang Farid juga ke Padang, beliau biasanya kontak saya dan kita pun bertemu. Kalau waktu lagi banyak kosong, maota kian kemari bisa berjam-jam.

Dari interaksi dengan Bang Farid yang cukup panjang dan intens, yang paling berkesan buat saya adalah dinamika hubungan di antara para tokoh bangsa seperti Bung Karno, Pak Natsir, Pak Sjaf, Buya Hamka, Leimena, Subandrio, I.J. Kasimo, dll yang penuh dinamika. Secara politik adakalanya mereke berbenturan, tetap dalam hubungan kekeluargaan dan kemanusiaan selalu baik dan saling memperhatikan.

Bang Farid menceritakan, ketika Pak Sjaf ditangkap dan ditahan atas perintah(izin) Bung Karno pasca PRRI, kehidupan ekonomi dan sosial keluarganya sangat sulit. Bang Farid yang akan masuk SMP tidak diterima di SMP pemerintah. Bahkan SMP Muhammdiyah – persyarikan yang dekat dengan Pak Sjaf – juga takut penerima Farid, sebagai anak tokoh PRRI yang dianggap pembangkang pemerintah. Mengetahui keadaan anaknya, Pak Sjaf yang bekas pimpinan Masyumi membuat surat kepada I.J. Kasimo, Ketua Partai Katolik, agar anaknya diterima sekolah di SMP Yayasan Kanisius. Surat itu dibawa Bang Farid ke I.J. Kasimo, dan tak lama kemudian dia sudah bisa sekolah di SMP di bawah Yayasan Katolik itu.

Rumah keluarga Sjafruddin juga diambil paksa pemerintah. Sehingga, ibu Lili Sjafruddin dan anak-anak mereka yang masih kecil harus menumpang di garase mobil dan kamar pembantu keluarga Zainal Abidin Ahmad, bekas Wakil Ketua DPR dari Partai Masyumi. Mengetahui keadaan keluarga Sjafruddin demikian menderita, lalu Waperdam Leimena dan Soebandrio memerintahkan Gubernur BI Jusuf Muda Dalam mengembalikan rumah tersebut kepada keluarga Pak Sjaf, dan memberikan bantuan keuangan selama Pak Sjaf ditahan. Ada tapinya, membantu keluarga Pak Sjaf itu jangan kasih tau siapa-siapa, terutama Presiden Soekarno yang mungkin dendam kepada Pak Sjaf setelah peristiwa PRRI itu.

Tapi rupanya Bung Karno tahu juga nasib keluarga Pak Sjaf itu, dan tahu pula bantuan yang diberikan Leimena, Subandrio, dan Jusuf Muda Dalam. Malah Bung Karno juga terenyuh dapat cerita, Ibu Lili, istri Pak Sjaf, berbelanja ke pasar harus naik Metro Mini, karena tidak ada mobil di rumah dan Pak Sjaf masih dalam tahanan Orla bersama Pak Natsir, Sutan Sjahrir, Mr. Assaad dll. Dengan maksud ingin membantu, Bung Karno kemudian memanggil Agus Moesim Dasaad, pengusaha yang baru dapat keagenan Mazda dari Jepang. “Kasih dua mobil untuk keluarga Mr. Sjafruddin Prawiranegara,” perintah Bung Karno. Biayanya dari negara.

Diceritakan oleh Bang Farid, tak lama kemudian pihak Mazda menghubungi kakaknya Chalid Prawiranegara, dan menyuruh memilih mobil yang disukai di showroom Mazda. Akhirnya keluarga Sjafruddin mempunyai dua mobil baru di rumah mereka yang telah dikembalikan dalam keadaan sudah direnovasi pula.

Pola hubungan seperti itulah, memisahkan antara persoalan politik dengan hububungan keluarga dan kemanusiaan. Politik boleh berseberangan, tapi hubungan keluarga bisa terjaga. Itulah, kata Bang Farid, secara pribadi dan kekeluargaan hubungannya dengan putri Bung Karno Ibu Megawati, tetap baik-baik saja. Bahkan ketika Ibu Megawati jadi Presiden, Bang Farid sempat diundang ke Teuku Umar dan diminta jadi Menteri Perdagangan. Tapi dia menolak, karena tidak sreg dengan beberapa menteri yang telah ditunjuk.

Nah, ini saya bukakan rahasia yang baru sedikit orang tahu cerita sebenarnya. Bahwa Pak Gamawan Fauzi diusung oleh PBB dan PDI Perjuangan dalam Pilgub Sumbar 2005, boleh dikatakan 80 persen adalah andil Bang Farid. Mendengar Pak Gamawan ditinggalkan partai lain dan terancam tak bisa ikut Pilkada, Bang Farid menawarkan bantuan untuk bicara langsung dengan Ibu Mega dan Pak Taufiq Kiemas agar PDIP berkoalisi dengan PBB mencalonkan Pak Gamawan. Mendapat restu dari Ketua PBB Bang Saidal Bahauddin (Alm), Bang Farid langsung menemui Bu Mega dan Pak Taufiq di Teuku Umar. Sekali bicara langsung jadi. Gratis. Bahkan Pak Gamawan juga dibantu biaya kampanye lumayan banyak dari Pak Taufiq Kiemas. Lalu terpilih jadi Gubernur Sumbar.

Ketika Pak Gamawan telah menjadi Menteri Dalam Negeri, satu hari akhir tahun 2013, beliau menelepon saya. Katanya, beliau merasa sangat berhutang budi kepada Bang Farid. Tak tahu dengan apa akan dibalas.

“Ya biar Allah SWT yang membalas setiap kebaikan, Pak,” kata saya.

“Iya, Pak In. Tapi tadi saya bertemu Presiden, lalu dapat informasi satu posisi Komisaris PT Semen Gresik (kini PTSemen Indonesia) kosong. Saya usulkan Bang Farid, Presiden langsung setuju dan sudah minta Menteri BUMN Pak Dahlan Iskan langsung mengeksekusinya,” kata Pak Gamawan.

Alhamdulillah. Bang Farid memang kompeten untuk jabatan tersebut. Beliau adalah akuntan generasi pertama Indonesia yang memperoleh sertifikat internasional. Jadi cocoklah jadi komisaris BUMN. Tapi Allah berbuat sekehendak-Nya. Belum cukup setahun jadi Komisaris, 14 Agutus 2014, Bang Farid berpulang ke Rahmatullah dalam usia 66 tahun. Innalillahi wainna ilaihi raajiun. Selamat jalan Bang Farid.

* Cerita perintang-rintang puasa oleh Hasil Chaniago…

Kami berasal dari keluarga Masyumi. Uwo (nenek dari pihak ibu) saya benama Ramayana, kalau bercerita tentang Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara, sungguh bersemangat. Tahun 1955 Uwo pernah pergi ke Bukittinggi naik kereta api dari Payakumbuh hanya untuk mendengar Pak Natsir yang dijadwalkan berpidato di Lapangan Atas Ngarai. Tapi Uwo dan kawan-kawan beliau tak benar-benar sampai di Atas Ngarai, sampai di simpang Tembok, jelang RS Achmad Mochtar sekarang, tidak bisa lagi jalan saking ramainya. Akhirnya digelar saja tikar dan makan nasi bungkus yang dibawa di pinggir jalan. Walaupun tak sempat melihat sang pujaan, M. Natsir, tapi mereka puas sudah berusaha berpartisipasi dengan datang ke lokasi kampanye Masyumi itu.

Bagaimana dengan Sjafruddin Prawiranegara? Sama saja. Selain Uwo, Apak saya, nama beliau Hasan Basri gelar Dt. Bogah, juga pengagum Mr. Sjafruddin sebagaimana beliau mengagumi Pak Natsir dan Ahmad Husein.

Sjafruddin yang berdarah keturunan Minang-Banten, dan menikah dengan wanita Minang asal Pagaruyung, bagi orang kampung saya sudah melegenda. Kalau Uwo saya menyebut Pak Sjaf sebagai Presiden Darurat. Yaitu Presiden Darurat ‘Balando’ (PDRI) dan Presiden Darurat PRRI.

Kedua tokoh Masyumi ini juga punya jasa benar bagi Republik Indonesia. Mr. Sjafruddin pernah menjadi penyelamat RI sebagai Ketua PDRI di usia 38-39 tahun. Mohammad Natsir berjasa mengembalikan RIS menjadi NKRI melalui Mosi Integral 3 April 1950, di usia 41 tahun. Ganjaran atas jasanya, Presiden Sukarno memberi mandat penuh Pak Natsir membentuk kabinet dan menjadi Perdana Menteri pertama NKRI.

Lalu, ada apa sebenarnya, kedua negarawan dan tokoh bangsa ini kemudian mendirikan dan memimpin PRRI? Kok berhadap-hadapan dengan Bung Karno? Keduanya adalah orang Minang dan berdarah Minangkabau. Dalam diri mereka melekat filosofi “raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah”. Ketika sahabat baik mereka Ir. Sukarno dianggap mulai menyimpang dan “lupa diri” keduanya pun paling keras mengeritik (menyanggah). Terjadilah PRRI.

Tapi sudahlah, semua itu masa lalu dan telah jadi sejarah. Sejarah yang penuh dinamika sebuah bangsa yang baru merdeka. Toh negara menghargai semua pemimpin dan rakyat yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsanya. Juga Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. PDRI dan PRRI adalah rangkaian peristiwa dari dinamika sebuah bangsa yang baru merdeka. Amerika Serikat pun mengalami hal seperti itu, 85 tahun setelah merdeka Amerika masih perang saudara.
***
Uwo, Apak, dan Amak saya adalah pengagum Pak Natsir dan Pak Sjaf. Saya cukup merasa beruntung bisa mengenal sebagian dari anak-anak kedua Bapak Bangsa ini. Dari Pak Natsir saya kenal Uni Aisjah Natsir dan Bang Fauzie Natsir. Sedangkan keluarga Pak Sjaf, saya kenal baik keempat anak laki-laki beliau, Bang Chalid, Bang Farid, Bang Rasyid, dan Bang Jazid S Prawira Negara. Saya merasa paling dekat dengan putra kedua, Bang Farid Prawiranegara, karena sudah berkenalan dan terlibat dalam berbagai seminar PDRI sejak pertengahan 1990-an hingga akhirnya PDRI diakui sebagai Hari Bela Negara tahun 2006. Yang membuat saya dekat dengan Bang Farid (alm) adalah Alm. Prof. Mestika Zed (peneliti dan penulis buku PDRI) dan Fadli Zon yang dulu bersama Bang Farid dan Yusril Ihza Mahendra sama-sama pendiri Partai Bulan Bintang 1998.

Tapi pertemuan pertama saya dengan Bang Farid justru terjadi di Cotabato, Mindanao, Filipina Selatan, 30 September 1996. Waktu itu saya sebagai wartawan Singgalang hadir meliput pelantikan Prof. Nur Misuari sebagai Gubernur ARMM (Atonomous Regional Muslim in Mindanao-Daerah Otonomi Khusus Muslim Mindanao). Bang Farid waktu itu mewakili Grup Bakrie dan ikut menandatangani MoU dengan pemerintah ARMM. Saya dikenalkan ke Bang Farid oleh Bang Kivlan Zen yang waktu itu Komandan Pasukan Perdamaian OKI di Filipina Selatan.

Bang Farid – yang kata orang yang memgenal wajahnya paling mirip dengan sang ayah – adalah orang yang humble, rendah hati dan santun. Termasuk kepada orang yang jauh lebih muda sekalipun. Perkenalan itu berlanjut ke berbagai forum seminar, termasuk satu panggung (sama pembicara) dalam Seminar PDRI yang diadakan Fadli Zon dan Masyarakat Peduli Pejuang PDRI serta DHD Angkatan 45 Sumbar di Hotel Bumiminang awal tahun 2000.

Dalam hubungan dengan Bang Farid, kami sering saling mengunjungi. Kalau saya ke Jakarta, dan kontak Bang Farid, kita biasanya bertemu. Kalau Bang Farid juga ke Padang, beliau biasanya kontak saya dan kita pun bertemu. Kalau waktu lagi banyak kosong, maota kian kemari bisa berjam-jam.

Dari interaksi dengan Bang Farid yang cukup panjang dan intens, yang paling berkesan buat saya adalah dinamika hubungan di antara para tokoh bangsa seperti Bung Karno, Pak Natsir, Pak Sjaf, Buya Hamka, Leimena, Subandrio, I.J. Kasimo, dll yang penuh dinamika. Secara politik adakalanya mereke berbenturan, tetap dalam hubungan kekeluargaan dan kemanusiaan selalu baik dan saling memperhatikan.

Bang Farid menceritakan, ketika Pak Sjaf ditangkap dan ditahan atas perintah(izin) Bung Karno pasca PRRI, kehidupan ekonomi dan sosial keluarganya sangat sulit. Bang Farid yang akan masuk SMP tidak diterima di SMP pemerintah. Bahkan SMP Muhammdiyah – persyarikan yang dekat dengan Pak Sjaf – juga takut penerima Farid, sebagai anak tokoh PRRI yang dianggap pembangkang pemerintah. Mengetahui keadaan anaknya, Pak Sjaf yang bekas pimpinan Masyumi membuat surat kepada I.J. Kasimo, Ketua Partai Katolik, agar anaknya diterima sekolah di SMP Yayasan Kanisius. Surat itu dibawa Bang Farid ke I.J. Kasimo, dan tak lama kemudian dia sudah bisa sekolah di SMP di bawah Yayasan Katolik itu.

Rumah keluarga Sjafruddin juga diambil paksa pemerintah. Sehingga, ibu Lili Sjafruddin dan anak-anak mereka yang masih kecil harus menumpang di garase mobil dan kamar pembantu keluarga Zainal Abidin Ahmad, bekas Wakil Ketua DPR dari Partai Masyumi. Mengetahui keadaan keluarga Sjafruddin demikian menderita, lalu Waperdam Leimena dan Soebandrio memerintahkan Gubernur BI Jusuf Muda Dalam mengembalikan rumah tersebut kepada keluarga Pak Sjaf, dan memberikan bantuan keuangan selama Pak Sjaf ditahan. Ada tapinya, membantu keluarga Pak Sjaf itu jangan kasih tau siapa-siapa, terutama Presiden Soekarno yang mungkin dendam kepada Pak Sjaf setelah peristiwa PRRI itu.

Tapi rupanya Bung Karno tahu juga nasib keluarga Pak Sjaf itu, dan tahu pula bantuan yang diberikan Leimena, Subandrio, dan Jusuf Muda Dalam. Malah Bung Karno juga terenyuh dapat cerita, Ibu Lili, istri Pak Sjaf, berbelanja ke pasar harus naik Metro Mini, karena tidak ada mobil di rumah dan Pak Sjaf masih dalam tahanan Orla bersama Pak Natsir, Sutan Sjahrir, Mr. Assaad dll. Dengan maksud ingin membantu, Bung Karno kemudian memanggil Agus Moesim Dasaad, pengusaha yang baru dapat keagenan Mazda dari Jepang. “Kasih dua mobil untuk keluarga Mr. Sjafruddin Prawiranegara,” perintah Bung Karno. Biayanya dari negara.

Diceritakan oleh Bang Farid, tak lama kemudian pihak Mazda menghubungi kakaknya Chalid Prawiranegara, dan menyuruh memilih mobil yang disukai di showroom Mazda. Akhirnya keluarga Sjafruddin mempunyai dua mobil baru di rumah mereka yang telah dikembalikan dalam keadaan sudah direnovasi pula.

Pola hubungan seperti itulah, memisahkan antara persoalan politik dengan hububungan keluarga dan kemanusiaan. Politik boleh berseberangan, tapi hubungan keluarga bisa terjaga. Itulah, kata Bang Farid, secara pribadi dan kekeluargaan hubungannya dengan putri Bung Karno Ibu Megawati, tetap baik-baik saja. Bahkan ketika Ibu Megawati jadi Presiden, Bang Farid sempat diundang ke Teuku Umar dan diminta jadi Menteri Perdagangan. Tapi dia menolak, karena tidak sreg dengan beberapa menteri yang telah ditunjuk.

Nah, ini saya bukakan rahasia yang baru sedikit orang tahu cerita sebenarnya. Bahwa Pak Gamawan Fauzi diusung oleh PBB dan PDI Perjuangan dalam Pilgub Sumbar 2005, boleh dikatakan 80 persen adalah andil Bang Farid. Mendengar Pak Gamawan ditinggalkan partai lain dan terancam tak bisa ikut Pilkada, Bang Farid menawarkan bantuan untuk bicara langsung dengan Ibu Mega dan Pak Taufiq Kiemas agar PDIP berkoalisi dengan PBB mencalonkan Pak Gamawan. Mendapat restu dari Ketua PBB Bang Saidal Bahauddin (Alm), Bang Farid langsung menemui Bu Mega dan Pak Taufiq di Teuku Umar. Sekali bicara langsung jadi. Gratis. Bahkan Pak Gamawan juga dibantu biaya kampanye lumayan banyak dari Pak Taufiq Kiemas. Lalu terpilih jadi Gubernur Sumbar.

Ketika Pak Gamawan telah menjadi Menteri Dalam Negeri, satu hari akhir tahun 2013, beliau menelepon saya. Katanya, beliau merasa sangat berhutang budi kepada Bang Farid. Tak tahu dengan apa akan dibalas.

“Ya biar Allah SWT yang membalas setiap kebaikan, Pak,” kata saya.

“Iya, Pak In. Tapi tadi saya bertemu Presiden, lalu dapat informasi satu posisi Komisaris PT Semen Gresik (kini PTSemen Indonesia) kosong. Saya usulkan Bang Farid, Presiden langsung setuju dan sudah minta Menteri BUMN Pak Dahlan Iskan langsung mengeksekusinya,” kata Pak Gamawan.

Alhamdulillah. Bang Farid memang kompeten untuk jabatan tersebut. Beliau adalah akuntan generasi pertama Indonesia yang memperoleh sertifikat internasional. Jadi cocoklah jadi komisaris BUMN. Tapi Allah berbuat sekehendak-Nya. Belum cukup setahun jadi Komisaris, 14 Agutus 2014, Bang Farid berpulang ke Rahmatullah dalam usia 66 tahun. Innalillahi wainna ilaihi raajiun. Selamat jalan Bang Farid.|||

Kategori Opini

Tags: ,,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.