Fenomena Gunung Es

Bahren Nurdin

Oleh: Bahren Nurdin

(Akademisi UIN STS Jambi dan Pengamat Sosial)

Jika saya sebut bahwa anda adalah salah satu korban narkoba, mungkin anda akan menolak dan keberatan karena boleh jadi anda tidak pernah bersentuhan dengan barang haram tersebut.

Bagaimana bisa jadi korban jika melihat saja tidak pernah. Sama sekali tidak terlibat!

Saya ingin membawa ingatan kita pada kejadian tragis di Tugu Tani, Jalan M.I Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat pada tanggal 22 Januari 2012 lalu.

Sebanyak 9 orang pejalan kaki tewas dan puluhan orang luka-luka karena ditabrak sebuah mini bus yang dikendarai oleh AS.

Hasil pemeriksaan, Polisi menyatakan bahwa pengemudi dan sekelompok anak muda di dalam mobil itu dalam pengaruh narkoba dan minuman keras!

Apakah 9 orang yang meninggal tersebut bersentuhan dengan narkoba? Tidak, tapi merekalah korban narkoba yang sebenarnya!

Hal semacam inilah yang luput menjadi pembicaraan kita tentang narkoba. Selama ini bicara korban narkoba selalu bicara tentang pengguna, bandar, pengedar, kurir, dan sebagainya.

Dan, yang paling sering menjadi pokok bahasan adalah dampak negatif kesehatan seperti sakau, over dosis, gila, digerogoti berbagai penyakit, dan lain-lain.

Itulah yang saya sebut dengan fenomena gunung es (iceberg). Gunung es itu yang nampak muncul kepermukaan tidak sampai sepuluh persen.

Kecil saja, tapi gunung besarnya ada di dalam air yang tidak kasat mata. Pada konteks korban narkoba ini, persoalan kesehatan yang selalu jadi bahasan banyak orang adalah puncak gunung esnya. Apa yang tersembunyi lebih besar!

Dalam berbagai diskusi bersama kawan-kawan di BNN khususnya di BNN Kota Jambi, saya bersama Kepala BNN Kota Jambi, Bapak AKBP Agus Setiawan, SST, MK, SH, bersepaham untuk merumuskan bahwa ‘korban’ narkoba itu tidak hanya orang yang bersentuhan langsung dengan segala bentuk narkoba tapi termasuk juga orang-orang yang menerima dampak perilaku negatif dari para pelaku penyalahgunaan narkoba.

Jika begitu, dapat dipastikan anda adalah juga korban narkoba.

Mari kita lihat korelasinya. Jika kejadian di Tugu Tani tersebut belum cukup untuk menggambarkan betapa korban narkoba itu sangat massif.

Kami di BNN Kota Jambi telah melakukan kajian mendalam tentang hal ini. Hipotesis yang dibangun adalah bahwa narkoba telah penyebab segala bentuk kejahatan (kriminalitas).

Semakin tinggi pengguna narkoba, maka semakin tinggi kriminalitas yang terjadi. Dan sebaliknya, jika lingkungan ingin aman, jaga dari narkoba.

Dampak negatif sangat dahsyat narkoba itu merambah ke semua lini seperti masalah ekonomi, kemiskinan, sosial, pendidikan, budaya, politik, HAM, dan sebagainya.

Beberapa fakta mencengangkan. Setelah ditelusuri dari data kepolisian di tingkat Resor saja, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ternyata hulunya adalah narkoba.

Suami yang terlibat narkoba sering melakukan KDRT terhadap anggota keluarga (isteri dan anak-anak). Kasus-kasus penggelapan motor tetangga ternyata pelakunya adalah pengguna narkoba.

Pembunuhan dan penipuan disebabkan narkoba. Bahkan, tingginya tingkat perceraian ternyata salah satunya juga disebabkan oleh narkoba.

Begitu banyak anak-anak putus sekolah karena orang tua mereka narkoba. Dan ada begitu banyak kasus-kasus yang terjadi ternyata biangkeroknya adalah narkoba.

Satu lagi, jika kita menghitung berapa duit Negara yang dihabiskan untuk ngurusin narkoba di negeri ini, ada triliyunan rupiah.

Belum lagi kerugian Negara karena kasus penyelundupan barang haram ini; puluhan triliyun. Maka, jika uang Negara ini tidak untuk pemberantasan narkoba, berarti bisa digunakan untuk pembanguan.

Gara-gara narkoba pembangunan dan kesejahteraan rakyat teraniaya. Siapa yang rugi? Kita semua. Anda korbannya!

Melalui tulisan singkat ini, saya benar-benar ingin mengubah pola pandang kita terhadap narkoba.

Kita semua korban narkoba! Jika kita sudah menjadi korban, mengapa kita tidak melawan? Mengapa kita tidak peduli? Mengapa kita hanya melihat dan berpangku tangan? Seyogyanya, kita angkat senjata dengan segala potensi dan kapasitas yang dimiliki. Bukan hanya diam!

Analogi sederhananya, jika anda melihat ada nyamuk di rumah anda dan anda diam saja hanya karena ia belum menggigit anda saat ini, maka potensi anda untuk digigit 99.99%.

Tinggal nunggu waktu saja. Lengah sedikit, darah anda akan dihisap karena anda membiarkannya hidup di dalam di rumah anda. Persis sama.

Narkoba itu saat ini seperti nyamuk itu. Jika tidak kita ‘bunuh’, kita hanya nunggu waktu untuk ‘digigit’. Pilihannya cuma satu, Perang. War on Drugs.

Akhirnya, narkoba bukan hanya sekedar masalah kesehatan tapi telah mendatangkan kehancuran di berbagai bidang. Hampir seluruh kejahatan dan dampak sosial yang terjadi di tengah masyarakat disebabkan oleh narkoba.

Pembangunan Negeri ini juga terganggu oleh narkoba. Keamanan dan kenyamanan lingkungan tempat tinggal anda jadi tidak sehat oleh narkoba. Jika begitu, sekali lagi, kita dalah korban narkoba. Satu kata: Lawan!

Penulis adalah penerima penghargaan nasional P4GN dari Kepala BNN-RI dalam peringatan HANI 2021

Kategori Opini

Tags: ,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.