Gajah Betina Taman Rimba Mati, Begini Kronolisnya….

Penulis : M Hary Rofagil || Editor : Redaksi

INFOJAMBI.COM — Pengunjung Kebun Binatang Taman Rimba, Jambi, tidak akan bisa lagi melihat Gajah Sumatra yang sering kali menjadi pusat perhatian di kebun binatang itu.

Gajah betina bernama Yanti itu mati dalam usia 38 tahun, Kamis pagi, 8 Oktober 2020, sekitar pukul 10.15 WIB.

Yanti berasal dari Kabupaten Tebo dan menjadi penghuni Kebun Binatang Taman Rimba sejak 1985. Yanti diserahkan oleh Bupati Bungo Tebo kepada Sri Soedwi, isteri Gubernur Jambi masa itu, Masjchun Sofwan.

“Nama Yanti itu pemberian langsung dari Ibu Sri Soedewi,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi, Rahmad Saleh kepada wartawan, Jum’at, 9 Oktober 2020.

Saat berusia tiga tahun, Yanti masuk ke Taman Rimba dalam kondisi luka bekas jaratan di kaki. Yanti yang saat itu terpisah dengan induknya lalu diberi perawatan serius sampai sembuh.

Rahmad menjelaskan, kondisi tubuh Yanti tergolong sangat baik. Secara psikologis berperilaku normal. Yanti juga termasuk gajah yang tidak rewel, selera makannya bagus, dan jarang sakit.

“Dari body condition, Yanti tergolong baik,” kata Rahmad.

Awalnya, Yanti adalah gajah satu-satunya di Kebun Binatang Taman Rimba sampai tahun 2012. Demi kesejahteraan satwa agar dapat berkembang biak, pihak BKSDA memberi pasangan kepada Yanti.

Seekor gajah jantan Sumatra berusia 30 tahun menjadi teman Yanti. Gajah dengan bobot 3,7 ton itu bernama Alfa. Sampai Yanti mati, upaya penjodohan Yanti dan Alfa tidak membuahkan hasil.

Rahmad memaparkan kronologis kematian Yanti. Senin 5 Oktober, seperti biasa Yanti digembalakan di sekitar areal kebun binatang. Sorenya kembali ke kandang dalam kondisi baik dan tidak memperlihatkan gejala mencurigakan.

Besoknya, Selasa 6 Oktober, sekitar pukul 12.30 WIB, penjaga kebun binatang berkoordinasi dengan tim medis, karena melihat gejala yang tidak biasa pada Yanti, yaitu tidak mampu memasukkan makanan ke mulutnya.

“Dari pengamatan tim, ada pembengkakan di pangkal belalainya,” ujar Rahmad.

Tim medis, mahout dan keeper terus melakukan observasi. Yanti belum juga mampu mengangkat makanan, sehingga dibantu menyuapi makanan. Sore harinya, sekitar pukul 18.00 WIB, Yanti mulai terbaring, namun masih bisa berdiri seperti biasa.

Malam harinya, tim medis terus melakukan observasi. Sekitar pukul 22.30 WIB Yanti terbaring dan tidak mampu berdiri. Hanya bisa menggerakkan kakinya. Pemberian terapi cairan (infus) dan obat-obatan pun dilakukan.

Rabu, 7 Oktober 2020 , pukul 02.00 WIB, kondisi Yanti semakin melemah. Pergerakan kakinya semakin berkurang. Tim kemudian memberikan pakan yang sudah diblender melalui selang.

“Terapi cairan infus dan obat-obatan tetap dilaksanakan. Tim juga mengambil sampel darah sebagai upaya peneguhan diagnosa penyakit,” kata Rahmad.

Hasil pemeriksaan darah pertama keluar. Hemoglobinnya rendah. Hasil pemeriksaan darah kedua, keratin kinase tinggi.

Kamis pagi, 8 Oktober 2020, perkembangan kondisi kesehatan Yanti semakin memburuk. Dia tidak mampu lagi makanan, gigi mulai merapat, dagu dan rahang kaku (logjaw) dan kesadaran melemah.

Kondisi Yanti semakin menurun dan terjadi dehidrasi akut. Tim memberikan cairan melalui anus (rectum) sebanyak 19 liter. Namun sekitar pukul 10.15 WIB Yanti mati.

Tenaga Ahli Gajah Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI), drh. Wisnu Wardana menduga kematian Yanti disebakan tetanus.

Awalnya Wisnu tidak mengira penyebabnya tetanus, namun makin ke belakang makin nyata. Salah satunya gejala logjaw, ini sering terjadi pada penyakit tetanus.

Untuk mengetahui penyebabnya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bagian-bagian tubuh Yanti, seperti jantung, hati, ginjal, paru-paru, dan isi lambung dikirim ke Balai Besar Veteriner Baso, Bukit Tinggi, Sumatra Barat.

Hasil nekropsi sementara, adanya pendarahan di otot jantung, Ada penebalan ventrikel di otot jantung, dan Adanya pembengkakan pada organ hati. Tubuh Yanti dimutilasi untuk mempermudah penguburan.

Wisnu merasa sangat kehilangan sosok Yanti, hewan kesayangannya. Sudah 11 tahun sejak 2009 Wisnu merawat Yanti.

“Kami semua sedih, terutama saya pribadi. Yanti itu hewan kesayangan saya. Sebetulnya saya nggak mau terbang ke sini, tapi demi Yanti saya ke sini” ungkap Wisnu dengan suara bergetar.

Selain Yanti, Wisnu juga mengkhawatirkan Alfa. Seekor pejantan yang ditinggal mati pasangannya. Kini Alfa tinggal sendirian di kandangnya. Alfa mengalami stres, perilakunya memperlihatkan stres yang dialaminya.

“Alhamdulillah Alfa masih mau makan dan selalu ditemani mahout, karena mahout merupakan soulmate gajah,” kata Wisnu. ***

Kategori Lensa

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.