Oleh : Doddi Irawan | Jurnalis tinggal di Jambi
HUBUNGAN guru dan siswa itu ibarat hubungan antara sopir bus dan penumpangnya. Kalau sopirnya ugal-ugalan, penumpang bisa celaka. Tapi kalau penumpangnya ribut, sopir juga bisa hilang fokus.
Baca Juga: Nasib Guru Non-PNS Terancam, Zola Akan Berjuang Mati-Matian
Di sekolah, guru adalah sopir yang mengarahkan perjalanan ilmu. Sementara siswa adalah penumpang yang harus ikut aturan lalu lintas.
Beberapa hari lalu, kita dikejutkan dengan sebuah peristiwa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Seorang guru, Agus Saputra, dikeroyok oleh siswanya sendiri. Agus juga sempat menampar seorang siswa.
Baca Juga: Pergantian Kepsek SMPN 3 Batanghari Bikin Heboh
Siswa yang seharusnya belajar sopan santun kok malah main tangan ke guru? Peristiwa ini bikin semua tercengang. Apalagi sampai guru melaporkan siswanya sendiri ke polisi.
Kalau sekolah jadi ring tinju, jangan salahkan kalau masa depan jadi babak belur. Peristiwa ini bukan sekadar berita kriminal, tapi alarm keras. Hubungan guru dan siswa bisa retak, kalau tidak ada saling hormat.
Baca Juga: TKD Dibayar Separuh, Bupati Berang
Peristiwa lainnya, juga belum lama, seorang guru SD Negeri di Kabupaten Muaro Jambi, Tri Wulansari, dilaporkan ke polisi gara-gara rambut. Panggung pendidikan pun berubah menjadi drama penuh intrik.
Cerita bermula dari guru honorer berusia 34 tahun itu yang ingin menertibkan penampilan siswa. Sebelum libur semester, ia sudah mengingatkan, ketika masuk sekolah nanti rambut harus pendek dan tak boleh disemir.
Tapi, begitu hari H, ternyata ada murid yang masih tampil ala boyband Korea. Rambut pirang dan panjang. Ia percaya diri saja.
Tri pun menggelar “razia rambut” pada 8 Januari 2025. Rambut panjang dipangkas. Warna pirang dipotong habis.
Razia semula berjalan lancar. Sampai akhirnya ada satu murid yang merasa dirinya superstar menolak rambutnya dipangkas. Bukan cuma menolak, mulutnya pun meluncurkan kata-kata kasar.
Refleks… Tri menepak mulut si murid. Tidak ada niat jahatnya. Hanya sekadar “mute button”. Tapi rupanya, orang tua si murid tidak terima. Laporan pun masuk ke polisi, dan Tri ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal perlindungan anak.
Lucu juga kalau dipikir. Rambut yang biasanya jadi urusan tukang cukur, kali ini bisa bikin guru berurusan dengan polisi.
Bagi anak, rambut panjang dianggap gaya dan rambut pirang itu keren. Tapi di sekolah, rambut adalah simbol disiplin. Murid harus tampil rapi.
Tegas itu bukan berarti galak. Tegas itu seperti garis tepi jalan. Jelas, tegas, dan bikin aman. Guru yang tegas membentuk disiplin. Siswa jadi tahu batas mana yang boleh dan tidak.
Guru yang tegas bertujuan memberi arah yang jelas. Seperti GPS, guru tegas membuat siswa tidak menyasar ke "jalan tol” malas belajar.
Ketegasan guru juga bertujuan untuk melatih mental. Siswa belajar menghadapi aturan, yang nantinya berguna di dunia kerja dan kehidupan sosial.
Bayangkan kalau guru tidak tegas. Kelas bisa jadi pasar malam. Ramai, seru, tapi tidak ada yang belajar. Siswa yang melakukan kekerasan terhadap guru itu seperti virus menyerang sistem pendidikan.
Sebaliknya, bagaimana dengan kekerasan siswa terhadap guru ? Ini yang bikin geleng kepala. Siswa melakukan kekerasan terhadap guru, ibarat penumpang bus yang tiba-tiba merebut setir.
Banyak sekali sisi negatifnya. Misalnya, hilangnya rasa hormat. Guru bukan lagi sosok panutan, tapi dianggap "lawan tanding". Selain itu, merusak iklim belajar. Suasana kelas jadi penuh ketakutan, bukan penuh semangat.
Parahnya lagi, siswa yang berani melawan guru menjadi cermin buruk bagi masyarakat. Ketika siswa berani memukul guru, bagaimana nanti mereka menghormati orang lain di luar sekolah?
Kekerasan itu bukan solusi, tapi jalan pintas yang bikin semua pihak rugi.
Di sisi lain, peran orang tua sangat penting. Mereka adalah co-pilot dalam perjalanan pendidikan anak. Kalau guru sopirnya, orang tua duduk di kursi depan, ikut mengawasi.
Sikap orang tua yang baik terhadap guru, antara lain mengajarkan hormat sejak dini. Anak diajari, bahwa guru bukan teman sebaya, tapi orang yang harus dihormati.
Orang tua juga mesti mendukung penuh aturan sekolah. Jangan malah jadi "pengacara" anak yang salah, tapi membantu anak memahami konsekuensi.
Komunikasi orang tua pun harus aktif. Jika ada masalah, orang tua bicara dengan guru, bukan langsung marah di media sosial.
Orang tua yang bijak tahu, mendidik anak bukan hanya soal nilai rapor, tapi juga nilai moral. Orang tua jangan jadi penonton, tapi harus jadi pelatih.
Orang tua punya peran amat penting. Kalau guru adalah wasit, orang tua adalah pelatih di luar ring. Ajarkan anak cara hormat sejak dini.
Guru memang harus tegas. Tapi, jangan sampai tegas berubah jadi keras. Siswa memang harus hormat, tapi jangan sampai hormat berubah jadi takut. Orang tua harus jadi jembatan, bukan jurang.
Peristiwa di Tanjung Jabung Timur adalah pengingat, pendidikan bukan hanya soal buku dan ujian, namun juga soal hubungan manusia. Guru dan siswa harus saling menghargai, orang tua harus ikut menjaga, dan masyarakat harus mendukung.
Saya rasa semua sepakat, sekolah bukan arena tinju. Sekolah adalah arena belajar, guru dan siswa sama-sama berjuang agar masa depan tidak berakhir di "pojok ring". ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com