Oleh : Agus Setiyono, Sekretaris PWM Muhammadiyah Jambi
INFOJAMBI.COM - Setiap tanggal satu Mei, dunia seolah serempak mengingat satu kata yang sederhana namun sarat makna: buruh. Hari itu dinamai Hari Buruh Internasional, sebuah penanda sejarah, sekaligus cermin yang seringkali kita enggan tatap terlalu lama.
Baca Juga: The Power of Wakaf
Pagi datang seperti biasa. Matahari tidak pernah menunda sinarnya hanya karena upah belum naik atau kontrak kerja tak kunjung jelas. Di sudut-sudut kota, sepatu-sepatu lusuh tetap melangkah, menembus debu dan harapan yang sering kali diparkir di pinggir jalan. Mereka yang disebut “pahlawan produksi” itu, justru kerap tak punya ruang untuk sekadar memproduksi mimpi.
Ada yang berangkat sebelum fajar benar-benar bangun, menggantikan suara ayam dengan deru mesin dan target harian. Ada pula yang pulang saat langit sudah lelah menatap bumi, membawa tubuh yang renta oleh rutinitas, namun tetap menyembunyikan letih di balik senyum yang dipaksakan. Ironisnya, mereka yang membangun gedung-gedung tinggi itu, sering kali masih harus menunduk di rumah sempit yang nyaris roboh oleh biaya hidup.
Hari Buruh, katanya, adalah hari perayaan. Tapi perayaan seperti apa, ketika sebagian hanya merayakan dengan spanduk dan orasi, sementara sebagian lain merayakan dengan lembur yang tak dibayar? Kita membuat panggung untuk mereka, namun lupa memberi mereka kursi. Kita memuji mereka dalam pidato, namun abai dalam kebijakan.
Sindiran paling halus adalah ketika kita menyebut mereka “tulang punggung bangsa,” tetapi memperlakukan mereka seperti bayangan, selalu ada namun tak pernah benar-benar dianggap. Kita berbicara tentang produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan ekonomi dengan bahasa yang begitu canggih, hingga lupa bahwa di balik angka-angka itu ada manusia yang menahan lapar, menahan lelah, bahkan menahan marah.
Dan lucunya, kita sering lebih cepat tersentuh oleh kisah-kisah dramatis di layar kaca, daripada realitas yang berjalan kaki di depan mata. Kita lebih sibuk memperdebatkan teori keadilan, daripada benar-benar berlaku adil. Seolah-olah empati pun kini harus melalui prosedur dan persetujuan.
Namun di balik semua itu, buruh tetap bekerja. Mereka tidak menunggu dunia menjadi ideal untuk tetap bertahan. Mereka tahu bahwa hidup tidak selalu menawarkan pilihan, kadang hanya menyodorkan kewajiban yang harus dijalani dengan tabah. Di situlah letak kemuliaan yang sering luput kita akui: keteguhan yang tidak meminta tepuk tangan.
Hari Buruh seharusnya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat yang menggugah. Bahwa keadilan bukan sekadar kata dalam undang-undang, melainkan sikap yang harus hadir dalam tindakan. Bahwa kesejahteraan bukan hadiah, melainkan hak yang seharusnya diperjuangkan bersama, bukan hanya oleh mereka yang tertindas, tetapi juga oleh mereka yang selama ini menikmati hasilnya.
Maka, ketika satu Mei kembali datang, mungkin yang perlu kita rayakan bukan hanya buruh, tetapi juga keberanian untuk bercermin. Sebab sering kali, yang paling keras bekerja bukanlah mereka yang bersuara lantang di mimbar, melainkan mereka yang diam-diam menahan dunia agar tidak runtuh.*****
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com