Rabu, 28 Juni 2017 | 14:21

Ini Nama-Nama dan Kondisi Korban “Kerusuhan Tamiai”

Warga memblokir jalan dengan tebangan pohon || foto : riko pirmando

KERINCI — Tiga unit rumah dengan kaca-kaca pecah dan Kantor Camat Batang Merangin rusak akibat kerusuhan di Tamian, Kecamatan Batang Merangin, Kerinci, Senin kemarin.

Selain itu, diperoleh data empat korban dalam kerusuhan itu. Mereka adalah :
1. Dedet Hariyono, umur 31 tahun, alamat Desa Koto Majidin Hilir Kec. Air Hangat Timur, mengalami luka pada pergelangan tangan kiri sebanyak dua buah, pada bahu sebelah kiri satu buah. Korban sudah kembali ke rumah.

2. Iperial, umur 45 tahun, alamat Desa Sungai Tutung, mengalami luka robek pada kepala sebelah kiri lebih kurang 2 cm, luka robek di atas pergelangan kaki kiri lebih kurang 2 cm, luka memar pada bagian leher belakang dan lecet pada bagian lutut sebelah kanan. Korban masih dirawat di Puskesmas Bedeng XII Kec. Batang Merangin.

3. Afrizal, umur 38 tahun, alamat Desa Sungai Tutung Kec. Air Hangat Timur mengalami luka robek pada bahu sebelah kiri. Korban sudah kembali ke rumah.

4. Uspandi, umur 40 tahun, alamat Desa Sungai Tutung Kec. Air Hangat Timur mengalamai luka tusuk pada bagian punggung kanan tembus ke perut. Korban dirujuk ke Rumah Sakit Bangko Kab. Merangin.

Paska kerusuhan warga Desa Tamiai, Batang Merangin dan Warga Peladang dari Sungai Tutung mulai kondusif. Namun, malam tadi jalur Kerinci – Bangko di Desa Tamiai masih diblokade dengan pohon yang ditebang.

Ratusan mobil dari dua arah masih tertahan, mobil travel menuju jambi dan sebaliknya tertahan. Hanya mobil ambulan yang boleh melewati jalur tersebut.

Pantauan INFOJAMBI MEDIA di lokasi, perundingan dilakukan antara Wabup Zainal Abidin dihadiri Kapolres Kerinci AKBP MA Hadinur, Dandim 0417 Kerinci di rumah Ketua Lembaga Adat Depati Muara LangkapTamiai, Helmi Abdul Muid. (infojambi.com/d)

Laporan : Riko Pirmando

Kategori Hukrim

Tags:

3 Komentar

  1. Dari tahun 80 han.
    Org muara pulau mencari nafkah.
    Dari hasil kopi dan kulit manis.
    Menjual ke saudagar di kalianggan atau jambatan payung.
    Selama 2 jam kopi di atas kepala mereka,dengan cata menjunjung untuk di bawa ke saudagar.
    Tpi sekarang sudah ada kemajuan semejak masuk masuk nya kendaraan roda 2 atau motor.
    Dengan mengadakan gontong royong 1 minggu 1 kali.
    Setelah itu,berganti nya tahun,muarau pula sudah bisa menghasil kan kopi dan kulit manis yg cukup lumayan banyak.
    Untuk menghidupi kelurga nya.
    Dan membiayai anak mereka sekolah.
    Tidak tau siapa yang salah.
    Dan siapa yang memulai.
    Seolah2 orang2 temiai ingin mengambil ladang mereka yg sudah menghasil kan.
    Apa kah itu pantas di sebut kemanusiaan.
    Dan kita harap,masalah ini bisa terselesai kan dengan baik.

    Balas
  2. okta widiantara

    Mohon maaf sebelumnya
    Kita ini hidup di negara kesatuan republik indonesia, dasar negara kita adalah pancasila
    BHINEKA TUNGGAL IKA
    Berbeda beda tapi tetap satu
    Tidak ada perbedaan antara suku, ras, agama
    Kita semua sama
    Untuk masalah bentrok kali ini yang terjadi di temiai antara masyakat temiai dan peladang yang berasal dari mudik saya berpendapat bahwa srmua masalah pasti ada jalan keluarnya, hadapilah dengan kepala dingin

    Bak kato adat kinci ngato

    Keruh ayi jingok kehulu, nyentung ayi jingok ke muaro

    Artinya
    dalam menyelesaikan masalah haruslah dilihat dari sebab musebabnya sehingga didapat penyelesaian dengan adil

    Damailah kerinciku
    Mari kita berdamai

    Balas

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.