Jumat, 16 November 2018 | 19:28

Islam sebagai Rules Of The Game (Aturan Main) dalam Kehidupan Ekonomi Zaman Now

Tugas Kuliah

PRAKTIK kecurangan yang merajalela menjadi tolok ukur semakin melemahnya nilai islam dalam kehidupan ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya para pelaku ekonomi yang cenderung berpendapat dalam menjalankan bisnis atau usaha yang paling utama adalah memperoleh profit (keuntungan) semaksimal mungkin. Karena ingin memperoleh profit semaksimal mungkin ini, para pelaku ekonomi menjadi gelap mata. Mereka tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq dan mana yang batil.

Sebaiknya mindset seperti ini harus diubah. Karena kecenderungan untuk mendapat profit semaksimal mungkin ini dapat membawa dampak yang buruk, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Maka penting bagi kita semua untuk menjalankan bisnis dan usahanya sesuai dengan ketentuan dan syariah islam. Lalu bagaimanakah praktik ekonomi yang baik dalam islam?
1. Praktik ekonomi yang membawa keadilan dan kesejahteraan bagi semua pihak.
2. Tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi, namun juga mementingkan kemaslahatan masyarakat.
3. Keuntungan dan keberkahan berjalan beriringan. Jadi para pelaku ekonomi tidak hanya mementingkan satu sisi saja tetapi juga mempertimbangkan sisi lainnya.

Selain itu Chapra (1993) mengemukakan bahwa tauhid (ketuhanan), khilafah (kepemimpinan), dan a’dalah (keadilan) sebagai prinsip dasar ekonomi islam. Menurut pemikiran penulis prinsip ekonomi yang dikemukakan oleh Chapra inilah yang menjadi rule of the game (aturan main) dalam menjalankan praktik ekonomi islam. Maka penting bagi kita memahami terlebih dahulu maksud dari tiga prinsip dasar diatas, baru kita dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan ekonomi kita saat ini.

1. Tauhid (ketuhanan), sendiri adalah konsep yang paling penting dan mendasar, sebab dasar pelaksanaan segala aktivitas baik yang menyangkut ubudiah/ibadah mahdah, mu’amalah (termasuk ekonomi), muasyarah hingga akhlak. Tauhid mengandung implikasi bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah Yang Maha Kuasa, yang sekaligus pemilik mutlak alam semesta ini. Segala sesuatu yang Dia ciptakan mempunyai satu tujuan. Tujuan inilah yang memberikan makna dari setiap eksistensi alam semesta dimana manusia merupakan salah satu bagian didalamnya. Maka setiap aktivitas yang kita lakukan harus bernilai ibadah. Dengan mengharapkan ridho dari Allah SWT.

2. Khalifah (pemimpin), manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Sebagai wakil Allah, manusia bertanggungjawab kepadaNya dan mereka akan diberi reward berupa pahala dan punishment berupa azab sesuai dengan perlakuan mereka selama di dunia apakah sudah sesuai atau bertentangan dengan ketetapan Allah SWT. Karena kelak manajemen alam dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

3. ‘Adalah (keadilan), penting untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat banyak.

Jadi dalam menjalankan bisnis dan usahanya harus memperhatikan prinsip tauhid, khalifah, dan ‘adalah karena ketiga prinsip ini harus diterapkan secara berdampingan guna mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang sejahrera.

Dari penjelasan-penjelasan yang telah disampaikan diatas, diharapkan para pelaku ekonomi menjalankan bisnis dan usahanya sesuai dengan ketentuan dan syariah islam dan menjauhi praktik kecurangan, bukan menuruti hawa nafsunya demi mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya hingga menerapkan prinsip 3H (halal, haram, hantam). Sehingga keuntungan yang didapatnya pun akan membawa berkah bagi kehidupannya, tidak hanya kehidupan didunia tapi juga diakhirat. Keberkahan ini menjadi penting, karena akan membawa ketenangan dan kesejahteraan baik jasmaniah (kehidupan yang baik) maupun rohaniah (sehat iman) bagi para pelaku ekonomi.

Penulis : Amirah Salwa, Dinda Anggraini, Okta Haviya, Dicko Dinantianto — Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jambi


Kategori Opini

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.