Isra Mi’raj: Ketika Langit Menjadi Ruang Penghiburan, dan Bumi Dititipi Tanggung Jawab

Isra Mi’raj: Ketika Langit Menjadi Ruang Penghiburan, dan Bumi Dititipi Tanggung Jawab

Reporter: Opini | Editor: Admin
Isra Mi’raj: Ketika Langit Menjadi Ruang Penghiburan, dan Bumi Dititipi Tanggung Jawab
Agus setiyono, Sekretaris MPW Muhammadiyah Provinsi Jambi.

Oleh: Agus setiyono

Di antara deru zaman yang kian gaduh, Isra Mi’raj hadir sebagai peristiwa sunyi yang justru paling lantang berbicara. Ia tidak membawa keramaian, tidak pula menawarkan euforia seremonial. Ia datang sebagai undangan ilahi—khusus, personal, dan sarat makna—kepada seorang manusia agung yang tengah berada di titik paling getir dalam perjalanan hidupnya: Nabi Muhammad SAW.

Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan melintasi ruang dan waktu. Ia adalah cara Allah menghibur kekasih-Nya. Ketika bumi terasa sempit oleh penolakan, caci maki, kehilangan orang-orang tercinta, dan tekanan yang seolah tak berujung, langit justru dibentangkan sebagai ruang pemulihan. Rasulullah SAW dipanggil bukan untuk diberi gelar baru, melainkan untuk dikuatkan kembali hatinya.

Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus Sidratul Muntaha—sebuah titik yang bahkan malaikat pun tak sanggup melampauinya—Rasulullah SAW tidak sedang “melarikan diri” dari masalah dunia. Justru dari sanalah beliau kembali dengan membawa mandat yang paling membumi: *shalat*. Ibadah yang mengajarkan bahwa hubungan paling tinggi dengan Tuhan harus diterjemahkan dalam disiplin paling konkret di kehidupan sehari-hari.

Inilah ironi yang sering luput kita sadari. Kita memperingati Isra Mi’raj dengan panggung megah, spanduk berwarna-warni, dan jadwal acara yang padat, tetapi lupa menggali pesan sunyinya. Kita merayakan perjalanan ke langit, namun enggan menata akhlak di bumi. Kita terpesona pada keajaiban, tetapi abai pada keteladanan.

Padahal Isra Mi’raj adalah momentum untuk meneladani junjungan agung umat Islam sedunia—bukan hanya dalam ritual, tetapi dalam cara menghadapi cobaan. Rasulullah SAW tidak membalas luka dengan kebencian, tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk membenci dunia. Beliau justru semakin matang, semakin lembut, dan semakin teguh membawa misi kemanusiaan.

Dalam konteks hari ini, ketika bangsa sedang berduka oleh berbagai dinamika—ketimpangan sosial, kegaduhan politik, krisis keadilan, dan kelelahan kolektif—Isra Mi’raj semestinya menjadi cermin bersama. Bahwa tidak semua masalah diselesaikan dengan teriakan, dan tidak semua luka diobati dengan pesta. Ada saatnya kita berhenti sejenak, menengadah, lalu menata ulang niat dan arah.

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa *iman tidak lahir dari kenyamanan*, melainkan dari keteguhan saat diuji. Bahwa spiritualitas sejati tidak menjauhkan manusia dari realitas sosial, tetapi justru membuatnya lebih bertanggung jawab terhadap sesama. Bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan latihan harian untuk jujur, adil, dan berempati.

Ironisnya, kita sering ingin naik ke langit tanpa membereskan bumi. Ingin dekat dengan Tuhan, tetapi jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Padahal Rasulullah SAW, sepulang dari Sidratul Muntaha, tidak membawa simbol kemewahan, melainkan tuntunan kesederhanaan dan akhlak mulia.

Maka Isra Mi’raj bukan perayaan tahunan yang selesai ketika acara ditutup dan kursi dilipat. Ia adalah panggilan batin untuk terus memperbaiki diri. Sebuah pengingat bahwa ketika hidup terasa berat, bukan pelarian yang dibutuhkan, melainkan penguatan iman dan kejujuran langkah.

Jika Rasulullah SAW dihibur Allah dengan dipanggil ke langit, maka kita hari ini dihibur dengan warisan teladannya. Tinggal satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama:
apakah kita cukup bijak untuk mengambil maknanya, atau hanya sibuk merayakan kisahnya?

Sebab Isra Mi’raj sejatinya bukan tentang seberapa jauh Nabi Muhammad SAW naik ke langit, melainkan tentang seberapa dalam kita bersedia menundukkan hati—agar tetap manusiawi, adil, dan beradab di bumi yang sedang letih ini.
_Wallahu a'lam bishs hawab_

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya