Jambi Dihebohkan dengan Dua Binatang Paling Mengerikan di Dunia

Harimau Sumatera. Ilustrasi

Laporan: Rahmad dan Jefrizal

INFOJAMBI.COM – Warga Jambi dihebohkan dengan dua kejadian binatang buas paling mengerikan di dunia.

Mungkin tanggal 25 September bakal menjadi hari tak terlupakan.

Kejadian pertama di kawasan Desa Kebon IX, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi kembali mengevakuasi hewan pemilik gigi terkuat di dunia.

Dua ekor buaya berukuran hampir sama berhasil dievakuasi dari sarang, panjang sekitar 4,5 meter yang bobotnya berkisar 450 kilogram.

Buaya ukuran raksasa di kawasan Desa Kebon IX. (Ist)

Selain dibantu TNI-Polri, BKSDA Jambi meminta pertolongan dua warga Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Keduanya mahir menangani hewan buas seperti itu.

Ditangkap menggunakan tali dan tongkat. Setelah terjerat, buaya ditarik menggunakan tenaga manusia dan mobil.

Tangan buaya diikat dan mulutnya ditutup mengunakan karung.

Koordinator Penyelamatan Satwa BKSDA Jambi, Syahron menyebutkan, buaya yang harus dievakuasi berjumlah di atas 20 ekor. Usianya sekitar 20 sampai 30 tahun.

Menurut dia, penangkapan tidak mudah untuk dilakukan. Sehingga belum tahu kapan berakhirnya.

“Tidak bisa ditargetkan. Ini binatang yang ganas. Bisa jadi 10 hari prosesnya,” kata Syahron.

Amukan Berdarah Harimau Sumatera

Soal sepak terjang kucing besar memangsa lawan jangan diragukan, karena ukuran yang besar, serta gigi dan cakar yang tajam.

Kejadian ini terjadi di kawasan Batu Tunggal, antara perbatasan Desa Guguk Kecamatan Renah Pembarap dan Lubur Beringin Kecamatan Muara Siau.

Sidin (33) warga Desa Guguk, Kecamatan Renah Pembarap, Merangin, tewas diterkam seekor harimau Sumatera sepanjang dua meter.

“Laporan sudah kita dapatkan, untuk penanganan lebih lanjut kita sudah melaksanakan koordinasi dengan BKSDA dan TNKS,” ujar Kapolres Merangin Jambi AKBP Irwan Andy Purnama.

Informasi dirangkum Infojambi.com, Sidin tewas karena luka gigitan dan cakaran di tubuhnnya. Lehernya juga patah.

Amukan berdarah diduga Sidin dan kawan-kawan merusak habitat si raja hutan tersebut.

Selama ini hutan menjadi habitat untuk satwa-satwa liar.

Jika hutan rusak, maka satwa-satwa liar tersebut akan keluar mencari makan di tempat lain.

Kades setempat, M Hijazi menyebutkan, aktivitas mendulang emas tersebut memang berada di sekitar hutan adat yang ada aliran sungainya.

Sekitar jam 10 malam Sidin dan sesama temannya mencari emas ilegal di kawasan tersebut. Lalu beristirahat di pondok yang tak jauh dari lokasi.

Beberapa saat beristirahat, tiba-tiba seekor harimau datang dan menerkam.

Kejadian mengerikan di atas menjadi peringatan bahwa kita sebagai manusia tidak menganggap remeh.

Harus sangat berhati-hati!. Meski manusia bukan mangsa utamanya.

Tapi jangan macam-macam mendekat ketika sedang kelaparan, mereka akan menangkap makhluk apa pun yang berada dengan habibatnya.

Kebanyakan hewan yang menyerang hingga membunuh manusia hanya berusaha mempertahankan diri.

Berlawanan dengan itu, ada pula dengan tujuan untuk memangsa manusia.

Dibalik itu, mereka berfungsi menjaga kesimbangan eksosistem sehingga habitatnya harus dijaga dari berbagai ancaman.

Baiknya juga, mindset yang selama ini menganggapnya sebagai ancaman harus diubah.

Kategori Daerah

Tags: ,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.