Jambore PKK dan Keniscayaan Penguatan Kader

Oleh : Wirdayanti Romi

Tim Penggerak PKK Kabupaten Tanjab Timur, Sabtu (8/4) hingga Minggu (9/4) dini hari, melaksanakan Jambore yang diikuti seluruh jajaran pengurus kecamatan hingga dusun. Berbagai atraksi dan lomba pun digelar. Mulai dari kreasi sesuai potensi daerah asal, lomba – lomba jabaran tugas dan fungsi tiap Kelompok Kerja (Pokja). Antusias kader PKK utusan kecamatan, desa hingga dusun, begitu kental. Keseruan demi keseruan mewarnai perjalanan Jambore. Kesiapan panitia pelaksana dan kecukupan ‘bekal’ para peserta Jambore seakan berkolaborasi menunjukkan harmoni dalam tampilan rangkai kegiatan yang semarak meski sederhana.

Jambore sendiri, membawa pesan yang sangat kuat. Yakni pentingnya terus menerus mengasah pengetahuan, wawasan, keterampilan bahkan kepekaan intelegensia para kader terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Setiap kader PKK bukan hanya partner perintah, lebih dari itu, mereka adalah pilar benteng ketahanan masyarakat yang ada dalam skop terkecil organisasi PKK yakni Dasa Wisma, yang merupakan gugusan rumah tangga, tempat pertama segala potensi konflik bermula. Tanggungjawab para kader terukur, target kerja mereka terukur, dan peningkatan kompetensi kader adalah mutlak.

Berangkat dari pemikiran itu, tidaklah berlebihan jika kita berharap kader PKK ke depan akan lebih diperhitungkan. Sifat – sifat unggul dalam setiap pribadi kader PKK harus diupayakan menjadi motor perubahan bagi lingkungan sekitarnya. Peran tersebut sungguh keniscayaan. Tergantung pada sejauh mana tantangan yang tak ringan itu, dapat dimaknai sebagai sebuah pengabdian. Tentu, dinamika ‘persoalan’ yang dihadapi para kader sendiri sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari upaya menjalankan “pengabdian” itu.

Pun penulis, bukanlah insan yang terbebas dari dinamika itu. Kodrat penulis sebagai istri seorang pamong, yang harus berperan proaktif, serta tanggungjawab penulis sebagai ibu, menuntut penulis harus menjadi ‘super’. Membagi waktu, menempatkan prioritas persoalan dan mengambil keputusan yang tepat, adalah rutinitas yang nyaris tak memberi ruang lagi untuk sekedar memanjakan diri layaknya sebagian perempuan muda lain. Apakah ini bencana? Tergantung kita memaknainya. Sejauh ini penulis terus menerus bersyukur. Berusaha melihat dari perspektif yang diupayakan penulis sukai: pengabdian.

Penulis memaknai arti pengabdian itu adalah indikator kesuksesan dalam melaksanakan multi peran yang ‘dikodratkan’ NYA, sang Maha Kuasa, Perencana Terbaik.

Penulis tak bisa menyamaratakan, apalagi menggunakan posisinya selaku ketua TP PKK untuk mengharuskan semua kader berpikir sama. Namun, tentu tidak berlebihan jika penulis tegaskan bahwa semua kita bisa !

Upaya peningkatan peran dan fungsi kader PKK harus terus diupayakan. Tidak selalu harus dengan dukungan anggaran dan program kegiatan. Kemauan dan kepekaan kader adalah kunci utamanya. Kemajuan teknologi informasi misalnya, dapat mendukung peningkatan wawasan dan keterampilan kader. Kemauan melihat dan mendengar isu di sekitar, membuat kader sigap mendeteksi potensi masalah yang akan terjadi, serta mampu memposisikan diri sebagai bagian upaya penyelesaiannya.

Semestinyalah, para pengurus PKK tingkat pusat, provinsi, kabupaten hingga dusun, kian mempertajam program kerjanya. PKK harus lebih operasional. Penjabaran tugas dan fungsi Pokja I hingga IV harus kian relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Jambore PKK hanya sebagian kecil upaya penguatan kompetensi kader PKK dimaksud. Upaya kongkrit lainnya jauh lebih dibutuhkan. Tidak berlebihan pula jika partisipasi dan support Pemerintah sebagai mitra kerja PKK kian ditingkatkan pula demi optimalnya integrasi fungsi kemitraan tersebut. “Bersama Kita Bisa, Semoga PKK terus hidup dan Jaya “. (infojambi.com)

Penulis adalah Ketua TP PKK Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi

 

Kategori Opini

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.