Jamin Ketersediaan Pangan, Simontok Turun Tangan

Penulis: BS || Editor: RK

Diskusi Forum Merdeka Barat 9 atau FMB9. ISt

INFOJAMBI.COM – Pemerintah menjamin distribusi stok bahan pangan kebutuhan pokok menjangkau hingga ke daerah terpencil. Semenjak setahun belakangan, pemerintah melakukan intervensi secara intensif terhadap ketersediaan stok pangan di setiap wilayah.

“Intervensi terhadap ketersediaan bahan pangan tersebut dilakukan secara intensif dengan koordinasi dan menggandeng berbagai pihak terkait,” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriardi secara virtual saat diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk “Ketersediaan Pangan Jelang Ramadan dan Lebaran”, Senin (12/4/2021).

Menurut Agung Hendriadi, intervensi ini salah satunya guna memetakan titik ketersediaan kemungkinan kekurangan bahan pangan di setiap wilayah tanah air.

Sehingga pemerintah mengetahui secara mendetail di daerah mana yang mengalami kelebihan bahan pokok (surplus) dan daerah mana saja yang mengalami kekurangan (defisit) pangan.

Pemetaan itu, lanjut Agung, dipantau secara dalam jaringan atau daring dengan menggunakan aplikasi Sistem Monitoring Stok (Simontok). Melalui aplikasi tersebut, pemerintah dapat mengetahui kondisi sebenarnya bahan pangan di suatu wilayah.

“Kami punya peta mengenai ketersediaan pangan di tiap-tiap wilayah. Setiap pekan kami punya angka ketersediaan pangan di daerah terpencil,” kata Agung Hendriardi.

Berlandaskan data dari aplikasi tersebut, pihaknya kemudian melakukan intervensi distribusi bahan pangan dari daerah yang surplus ke daerah yang defisit.

“Sehingga, masyarakat di berbagai pelosok dijamin memiliki ketersediaan bahan pangan dalam setiap waktu, ” ujar Agung.

Dalam kesempatan sama, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengungkapkan jika permintaan produk pangan, khususnya produk olahan menunjukkan peningkatan di berbagai daerah, sejak Januari 2021.
Hal ini dinilainya menunjukkan ada perbaikan konsumsi masyarakat secara umum setelah sempat anjlok dihantam pandemic Covid-19.

Saat ini kontribusi pangan olahan terhadap pangan sekitar 34 persen. Sebanyak 66 persen berasal dari kontribusi pangan segar dan pangan rumah tangga. Dengan demikian, maka kenaikan permintaan makanan olahan berpotensi mengerek angka konsumsi pangan secara total.

“Kami merasakan permintaan produk pangan olahan meningkat sejak Januari kemarin dan kalau kita lihat globalnya serta konstelasi itu, industri makanan minuman mengalami peningkatan permintaan sejak Januari kemarin,” ujarnya.

 

Kategori Ekonomi dan Bisnis

Tags: ,,,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.