Senin, 17 Desember 2018 | 14:57

Jangan Ada yang Merasa Paling Islam dan Paling NKRI

Penulis : Bambang Subagio
Editor : M Asrori S

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (tengah).

INFOJAMBI.COM – Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, menegaskan, jika sejak Indonesia merdeka para pendiri bangsa atau founding fathers, sembilan tokoh ini sudah sepakat untuk mempertahankan NKRI.

Sembilan tokoh itu, Sukarno selaku ketua, Muhammad, Hatta Ahmad Subarjo, Muhammad Yamin (Golongan) Nasionalis), Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakir, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim (Islam) dan A.A Maramis (Kristen).

“Sembilan tokoh itu, terdiri dari berbagai agama, suku, ras, partai, dan tokoh masyarakat. Tapi, tetap dalam kebhinnekaan. NKRI ini sudah mengalami banyak ujian. Dari resolusi jihad NU, 22 Oktober 1945 yang melahirkan pertempuran Surabaya 10 November 1945, hingga reformasi 1998,“ ujar Ketua FPPP MPR RI Arwani Thomafi dan pengamat politik dari Universitas Mercu Buana, Maksimus Ramses Lalongkoe di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Jumat (2/11/2018).

Padahal lanjut Arwani, Uni Soviet, sebagai negara daratan hancur tanpa peperangan, Yugoslavia juga sama.
“Hal itu karena kita punya landasan ideologi dan dasar negara yang kuat, teruji dan terjaga. Maka, tugas pemerintah dan DPR harus membuat kebijakan, untuk perkuat NKRI, demikian juga pers,” ujarnya.

Arwani Thomafi menambahkan, jika NKRI sudah teruji. Selain resolusi jihad, DI/TII sehingga ulama NU memberi gelar Bung Karno sebagai ‘Waliiyul amri al dharuri bissyaukah, yaitu pemimpin yang harus ditaati’. Selanjutnya G30S/PKI, dan terakhir reformasi 98, kita tetap NKRI,” katanya.

Saat ini menurut Waketum PPP itu, rakyat Indonesia menghadapi serangan hoaks di media sosial (medsos) yang juga mengancam NKRI.

“Banyak kebenaran semu yang dipahami rakyat. Karena itu, saya mendukung ditegakkan hukum, agar hukum menjadi panglima,” jelasnya.

Selain itu, dia meminta masyarakat tidak merasa dirinya paling Islam, dan atau paling NKRI, melalui praktek-praketk politik menghalalkan segala cara, hanya untuk kekuasaan.

“Karena hal itu yang bisa merusak komitmen kebhinekaan,” katanya.

Aktor politik juga diminta untuk menghentikan narasi politik SARA. Karena hal itu akan merusak keutuhan NKRI.

“Para aktor politik jangan demi kekuasaan buat narasi politik SARA, karena hal itu mengancam desintegrasi, persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Maksimus.***


Kategori Nasional

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.