Senin, 29 Mei 2017 | 08:55

Kasihan… Kanker Riyanti Makin Parah, Pemerintah Tak Serius Membantu

Riyanti hanya bisa terbaring || raden
Riyanti hanya bisa terbaring || raden

MUARABULIAN — Sejak pulang dari Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta, kondisi Riyanti Desriantari (10), semakin parah. Warga RT.05 Desa Tenam, Muarabulian, Batanghari ini menderita kanker di perut.

Ibu Riyanti, Suparti, mengungkapkan, anak bungsunya ini sudah keluar masuk rumah sakit. Namun pembengkakan di perutnya tidak kunjung sembuh.

Suparti menceritakan, bulan puasa lalu tiba-tiba saja timbul benjolan di perut Riyanti. Dia pun dibawa ke RSUD Hamba, Muarabulian. Benjolan itu terus membesar, sehingga Riyanti ke RSUD Raden Mattaher, Jambi.

Setelah dirawat selama 18 hari, benjolan itu tidak juga hilang. Akhirnya Riyanti dirujuk ke Jakarta, dibiayai oleh Pemkab Batanghari melalui dinas kesehatan (dinkes). Perawatan di Jakarta berlangsung selama 25 hari.

Di Rumah Sakit Gatot Subroto, tidak ada penanganan serius. Pihak rumah sakit cuma mengambil sample untuk dilakukan kemo. Sewaktu berangkat ke Jakarta, Riyanti didampingi Bidan Leni atas perintah Dinkes Batanghari.

Bidan Leni mendampingi Riyanti hanya tiga hari. Dia sekedar memberi petunjuk. Setelah itu pulang ke Jambi meninggalkan Riyanti.

“Kami telantar di Jakarta. Kami orang kampung, tidak mengerti apa-apa. Selama 25 hari itu tidak ada kejelasan dari pihak rumah sakit. Duit makin menipis, sementara perut anak saya makin besar,” ujar Suparti lirih.

Akhirnya Suparti memutuskan membawa Riyanti pulang ke Jambi. Dia agak kecewa pada pihak Dinkes Batanghari dan Rumah Sakit Gatot Subroto. Pasalnya, sepulang dari Jakarta, kondisi Riyanti malah makin parah.

“Perutnya semakin besar. Nafasnya sesak. Malam-malam tidak bisa tidur,” kisah Suparti.

Keluarga Suparti hanya bisa pasrah. Kondisi murid kelas 4 SD Negeri 110 Batanghari itu semakin memprihatinkan. Kanker ganas yang bersarang di perut Riyanti belum juga diangkat.

“Hanya diambil sample. Alasan dokter Gatot Subroto, kanker itu belum bisa diangkat, padahal sudah masuk stadium 3. Mereka bilang harus dikemo,” ujar Suparti.

Kabid Perlindungan dan Kesehatan Masyarakat Dinkes Batanghari, Asrofi, membantah Riyanti ditelantarkan di Jakarta. Semua telah sesuai SOP. Pendamping dari dinkes memang tidak lebih dari tiga hari.

Asrofi menjelaskan, pemerintah memberi dana pada pasien yang dirujuk ke Jakarta Rp 10 juta. Dana itu untuk transportasi, makan dan penginapan. Biaya perobatan ditanggung pemerintah.

“Untuk tindakan selanjutnya, karena pasien sudah pulang ke rumah, yang berwenang adalah Puskesmas Tenam,” kata Asrofi. (infojambi.com/D)

Laporan : Raden

Kategori Kesehatan

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.