Kemarau Jambi dan Pentingnya Menjaga Air Sebelum Terlambat

Kemarau panjang mulai menjadi perhatian di berbagai wilayah Jambi

Reporter: - | Editor: Admin
Kemarau Jambi dan Pentingnya Menjaga Air Sebelum Terlambat
Ilustrasi by Gemini

Oleh: Ir. Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.

Kemarau panjang mulai menjadi perhatian di berbagai wilayah Jambi. Hujan yang semakin jarang, suhu udara yang terasa lebih panas, serta meningkatnya kebutuhan air menjadi tanda bahwa masyarakat perlu lebih siap menghadapi periode kering.

Kondisi ini bukan hanya persoalan cuaca sehari-hari. Fenomena iklim seperti El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) dapat membuat musim kemarau menjadi lebih kering dan meningkatkan risiko kekurangan air.

Bagi Jambi, persoalan tersebut menjadi penting karena air berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, pertanian, perkebunan, hingga keberlangsungan ekosistem gambut.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: dampak kemarau tidak hanya ditentukan oleh banyak atau sedikitnya hujan, tetapi juga oleh bagaimana kita mengelola air dan menata ruang.

Kemarau dan Ancaman Kekeringan

Jambi memiliki pola musim yang membuat sebagian besar wilayah mengalami periode lebih kering pada pertengahan tahun. Ketika kondisi tersebut diperkuat oleh El Niño dan IOD positif, peluang berkurangnya curah hujan menjadi semakin besar.

BMKG telah mengingatkan bahwa kemarau 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan kondisi rata-rata. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena semakin panjang periode tanpa hujan, semakin besar tekanan terhadap sumber-sumber air.

Dampaknya dapat dirasakan mulai dari rumah tangga hingga sektor produksi.

Masyarakat membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Petani membutuhkan air untuk tanaman. Perkebunan membutuhkan kelembapan tanah. Sementara ekosistem seperti gambut membutuhkan kondisi air tertentu agar tetap berfungsi dengan baik.

Karena itu, kemarau seharusnya tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam yang harus ditunggu sampai selesai.

Kemarau harus menjadi momentum untuk memperbaiki cara kita mengelola air.

Batanghari Sebagai Penyangga Kehidupan

Ketika berbicara mengenai air di Jambi, kita tidak bisa mengabaikan Sungai Batanghari.

Sungai ini merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat dan sistem lingkungan di Jambi.

Namun sungai tidak berdiri sendiri. Kondisinya sangat dipengaruhi oleh seluruh wilayah yang menjadi bagian dari daerah tangkapan airnya.

Jika kawasan hulu mengalami perubahan penggunaan lahan, daerah resapan berkurang, atau tutupan vegetasi semakin sedikit, maka keseimbangan air juga dapat terganggu.

Pada musim hujan, air dapat mengalir lebih cepat menjadi limpasan. Pada musim kemarau, cadangan air yang tersimpan di dalam tanah dapat lebih cepat berkurang.

Karena itu, menjaga Batanghari bukan hanya membersihkan sungainya.

Menjaga Batanghari berarti menjaga seluruh sistem yang memasok air ke dalamnya.

Pertanian Tidak Boleh Menunggu Kekeringan

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang paling cepat merasakan dampak kemarau.

Ketika hujan berkurang, kebutuhan irigasi meningkat. Jika air tidak tersedia, jadwal tanam dapat terganggu dan produktivitas pertanian dapat menurun.

Pengalaman di sejumlah wilayah Jambi menunjukkan bahwa lahan pertanian memang memiliki kerentanan terhadap kekeringan.

Karena itu, petani perlu mendapatkan informasi iklim yang mudah dipahami dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Informasi mengenai prakiraan hujan seharusnya tidak berhenti sebagai angka di laporan.

Informasi tersebut harus diterjemahkan menjadi keputusan sederhana: kapan menanam, berapa kebutuhan air, dan bagaimana menghemat air ketika musim kering berlangsung.

Gambut Jangan Dibiarkan Mengering

Persoalan kemarau di Jambi juga berkaitan erat dengan ekosistem gambut.

Kawasan seperti Muaro Jambi memiliki wilayah yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengelolaan tata air gambut.

Ketika muka air tanah turun terlalu rendah, gambut menjadi kering dan lebih mudah terbakar.

Karena itu, persoalan karhutla sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan pengelolaan air.

Selama ini pencegahan kebakaran sering dibicarakan dalam konteks patroli dan pemadaman.

Padahal ada langkah yang lebih mendasar, yaitu menjaga agar gambut tidak kehilangan air secara berlebihan.

Menjaga muka air gambut berarti juga mengurangi kerentanan terhadap kebakaran.

Pembangunan Harus Memberi Ruang bagi Air

Jambi terus berkembang. Permukiman bertambah, jalan dan infrastruktur dibangun, serta aktivitas ekonomi semakin meningkat.

Pembangunan tentu diperlukan.

Tetapi setiap pembangunan juga membawa perubahan terhadap siklus air.

Lahan yang sebelumnya mampu menyerap air dapat berubah menjadi bangunan atau jalan yang kedap air.

Akibatnya, air hujan lebih cepat mengalir menjadi limpasan.

Pada musim hujan, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko genangan dan banjir.

Sementara pada musim kemarau, berkurangnya infiltrasi dapat membuat cadangan air tanah tidak optimal.

Inilah mengapa banjir dan kekeringan sebenarnya dapat berkaitan dengan persoalan yang sama: bagaimana sebuah wilayah mengelola air.

Simpan Air Saat Hujan

Kita perlu mengubah cara pandang terhadap air hujan.

Ketika hujan deras datang, tidak semua air harus segera dibuang.

Sebagian harus ditahan dan disimpan.

Embung, kolam retensi, rawa, ruang terbuka hijau, kawasan resapan, sumur resapan, dan pemanenan air hujan dapat menjadi bagian dari solusi.

Konsepnya sederhana:

simpan air ketika berlebih dan manfaatkan ketika kekurangan.

Jika dilakukan secara konsisten, pendekatan ini dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber air ketika musim kemarau.

Saatnya Memperkuat Ketahanan Air Jambi

Pemerintah daerah perlu memperkuat pemantauan kondisi sungai, sumber air, air tanah, dan kawasan gambut.

Wilayah yang rawan kekeringan perlu dipetakan dan disiapkan lebih awal.

Sektor pertanian dan perkebunan perlu mendapatkan dukungan adaptasi terhadap perubahan pola musim.

Sementara dalam pembangunan, fungsi daerah resapan dan kawasan yang memiliki nilai hidrologis harus dipertahankan.

Masyarakat juga memiliki peran sederhana tetapi penting: menghemat air, memperbaiki penggunaan air rumah tangga, dan memanfaatkan air hujan jika memungkinkan.

El Niño dan IOD merupakan fenomena alam yang tidak dapat kita kendalikan.

Tetapi seberapa rentan Jambi terhadap kemarau adalah sesuatu yang dapat kita pengaruhi.

Kemarau pada akhirnya akan berlalu. Hujan akan kembali turun.

Pertanyaannya adalah: ketika hujan kembali datang, apakah kita akan kembali membuang air sebanyak-banyaknya, atau mulai menyimpannya sebagai cadangan untuk menghadapi kemarau berikutnya?

Jambi memiliki Sungai Batanghari, rawa, gambut, dan berbagai sumber daya air lainnya.

Tugas kita bukan hanya memanfaatkannya.

Tugas kita adalah memastikan sumber daya tersebut tetap tersedia untuk generasi berikutnya.

Karena ketahanan air tidak dibangun ketika krisis sudah terjadi.

Ketahanan air dibangun jauh sebelum kemarau berikutnya datang.

Tentang Penulis
Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen pada Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Memiliki bidang keahlian pada hidrologi dan sumber daya air serta aktif dalam penelitian mengenai pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, dan risiko bencana hidrometeorologi.

 

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya