Kepercayaan Pasar Jadi Kunci Stabilitas Rupiah, Intervensi BI Tidak Akan Cukup Tanpa Optimisme Investor

faktor paling menentukan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bukan semata-mata kekuatan intervensi pasar

Reporter: BB | Editor: Admin
Kepercayaan Pasar Jadi Kunci Stabilitas Rupiah, Intervensi BI Tidak Akan Cukup Tanpa Optimisme Investor
Ilustrasi by Gemini

INFOJAMBI.COM – Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai faktor paling menentukan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bukan semata-mata kekuatan intervensi pasar, tetapi bagaimana pemerintah dan otoritas ekonomi mampu mempertahankan kepercayaan pasar.

Menurutnya, pengalaman pelemahan rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026 menjadi pelajaran penting bahwa sentimen dan persepsi investor memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan mata uang.

Baca Juga: Melihat Performance Bank Jambi Dalam Indikator GRC

“Dalam ekonomi modern, nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh angka-angka fundamental, tetapi juga oleh psikologi pasar. Ketika investor kehilangan keyakinan, mereka akan mencari aset yang dianggap lebih aman sehingga terjadi arus modal keluar dan permintaan terhadap dolar meningkat. Inilah yang memberikan tekanan pada rupiah,” ujar Noviardi, Sabtu, 13 Juni 2026.

Ia menjelaskan, langkah Bank Indonesia melalui intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, hingga penguatan instrumen moneter memang penting sebagai peredam gejolak jangka pendek. Namun, tanpa adanya pemulihan kepercayaan investor, kebijakan tersebut tidak akan memberikan dampak yang berkelanjutan.

Baca Juga: Pesantren Disuruh Tanam Cabai Demi Tekan Inflasi, Noviardi Ferzi : Bukan Solusi

Noviardi melihat adanya sinyal positif ketika memasuki pertengahan Juni 2026, di mana rupiah kembali menguat ke bawah level Rp18.000 per dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut mengalami penguatan. Kondisi tersebut menunjukkan mulai kembalinya optimisme investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Pasar pada dasarnya sedang menilai apakah Indonesia tetap memiliki kredibilitas ekonomi. Selama kebijakan fiskal terjaga, APBN kredibel, regulasi memberikan kepastian, dan pemerintah mampu menjaga komunikasi ekonomi secara konsisten, maka kepercayaan akan pulih,” jelasnya.

Baca Juga: Pengaruh Suku Bunga BI dan Inflasi yang Semakin Tinggi

Ia menambahkan, secara fundamental Indonesia masih memiliki sejumlah faktor penopang yang kuat, antara lain neraca perdagangan yang masih mencatat surplus sekitar 4,17 miliar dolar AS, cadangan devisa mencapai 156,5 miliar dolar AS atau setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor, serta indikator risiko negara melalui Credit Default Swap (CDS) lima tahun yang masih berada pada level yang relatif terjaga.

Meski demikian, Noviardi mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan penguatan sementara rupiah. Menurutnya, menjaga kepercayaan pasar membutuhkan konsistensi kebijakan, transparansi pengelolaan fiskal, dan kemampuan pemerintah merespons dinamika ekonomi global.

“Stabilitas rupiah pada akhirnya adalah soal kepercayaan. Jika pasar percaya bahwa ekonomi Indonesia dikelola dengan baik dan prospeknya positif, modal akan masuk dan rupiah akan menguat secara alami. Tetapi jika kepercayaan terganggu, sebesar apa pun intervensi akan menghadapi batasnya,” tegas Noviardi.

Ia menilai tantangan pemerintah ke depan bukan hanya menjaga angka-angka makro ekonomi tetap sehat, tetapi juga memastikan adanya keyakinan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional berjalan konsisten dan mampu memberikan kepastian bagi pelaku pasar. ***

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya