Ketika Bank Menjadi Sarang Perampok

Oleh : Bahren Nurdin, MA

Dulu, berita yang paling sering didengar adalah bank dirampok sekelompok penjahat. Dunia kemudian makin aneh, saat ini ternyata bank itu sendiri yang menyimpan para perampok. Berdasi! Gak percaya? Coba telusuri beberapa berita yang berkembang tentang perampokan yang dilakukan oleh oknum-oknum pegawai bank terhadap uang nasabah. Kejahatan ini pun dilakukan dengan berbagai modus.

Saya memakai kata kunci “pegawai bank mencuri uang nasabah” di mesin pencari google.com, maka saya menemukan sederet berita yang mengejutkan. Ini beberapa kutipan yang mencengangkan. “Seorang pegawai BR* di Semarang, DBAW (25) ditetapkan sebagai tersangka karena mengambil uang ATM. Tindakan itu menyebabkan BR* Cabang Semarang Pandanaran mengalami kerugian Rp 1,39 miliar”. (news.detik.com)

Berita lain, “SD adalah salah seorang karyawan bank swasta di Indonesia. Modus pencurian yang dilakukannya adalah dengan tidak memasukkan dana nasabah ke tabungan deposito, tetapi sedikit demi sedikit dikirim ke rekening lain. Total uang yang dicuri SD yakni Rp 29 miliar” (kompas.com). Dan masih banyak lagi.


Terbaru, di Kota Jambi beberapa nasabah melakukan unjuk rasa ke sebuah bank swasta nasional (BC*) menuntut kepala bank tersebut ditangkap karena puluhan bahkan mungkin ratusan milyar uang nasabah hilang dari rekening. Rekening yang biasa gemuk, tiba-tiba kempes bak balon kehabisan angin. Nasabah panik dan naik darah. Bagaimana mungkin uang hilang dipenyimpanan.

Dikutif dari serujambi.com, “Kisruh di tubuh BC* Cabang Jambi makin meluas. Hilangnya uang salah seorang nasabah di bank itu senilai Rp 40 miliar, menjadi ancaman bagi dunia perbankan Indonesia. Apalagi, uang A, nasabah yang uangnya raib itu, juga hilang di 5 bank lain cabang Jambi. Total uangnya yang raib di enam bank, mencapai Rp 100 miliar! Bukan uang yang sedikit.” Wow, ini baru yang mencuat kepermukaan. Masih adakah yang tidak terbuka ke publik? Yakin, ada!

Jika sudah begini kondisinya, masyarakat bisa berbuat apa? Benarlah apa yang dikatakan oleh Christ Hedges, “Now we live in a nation where our banks destroy the economy” (kita hidup dalam suatau bangsa dimana perbankan sendiri yang merusak ekonomi). Istilah lain yang bisa digunakan, ‘gembala tu nian yang berubah menjadi srigala pemangsa ternak’.

Ketenangan dan kenyamanan masyarakat terhadap perbankan saat. ini memang sangat terusik dengan beberapa kasus seperti di atas. Kepercayaan masyarakat terhadap bank menghilang. Lebih menakutkan lagi, kasus-kasus perbankan yang sering terjadi, seringkali melibatkan para pimpinan bank itu sendiri. Hal ini wajar, karena sistem dan administrasi di perbankan tentunya sangat ketat dan rijit. Logika sederhananya, tidak mungkin pegawai rendahan mampu melakukan manipulasi data sehingga bisa ‘membobol’ uang nasabah puluhan milyar rupiah. Kecuali yang menggunakan linggis.

Jika begitu, para pemangku kebijakan atau otoritas keuangan republik ini bersama dengan aparat keamanan harus segera membersihkan para perampok yang sekarang mengenakan seragam di berbagai bank di tanah air ini. Mereka boleh saja saat ini mengenakan dasi di balik kursi dan duduk rapi, tapi sesungguhnya hanya menunggu waktu yang tepat untuk melakukan aksi; mencuri.

Memang hanya itu yang dapat dilakukan oleh masyarakat saat ini. Hanya berharap, waspada dan hati-hati. Selebihnya, pasti tidak bisa berbuat apa-apa. Atau, apa mungkin memakai cara kuno kembali menyimpan uang di bawah bantal? Dapat dibayangkan jika ada 40M di bawah bantal? Tidur di atas uang! Juga tidak aman.

Akhirnya, sekali lagi masyarakat menaruh harapan yang sangat besar kepada para pengambil kebijakan keamanan perbankan dan juga penegak hukum untuk betul-betul memburu para perampok di dalam bank ini. Siapa pun yang terlibat harus mendapat hukuman yang berat. Jika perlu, institusi banknya juga harus mendapat hukuman. Disamping kejahatan personal, dipastikan ada kelalaian manajemen, baik disengaja muapun tidak. Tangkap dan bersihkan sebelum masayarakat benar-benar kehilangan kepercayaan kepada bank!

Penulis adalah Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

 

Kategori Opini

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.