Ketika Relawan Covid-19 Bertaruh Nyawa Diruang Isolasi

Penulis : Raden Soehoer || Editor : Wahyu Nugroho

INFOJAMBI.COM – Siang itu, dengan cuaca yang sangat terik, penulis bertemu dengan Hasan yang merupakan relawan Covid-19 Kabupaten Batanghari Jambi. Hasan saat itu kebetulan libur kerja karena pergantian sift dengan relawan lainnya.

Tanpa basa basi penulis mengajak Hasan makan siang bersama dirumah makan yang tidak jauh dari tempat Hasan bekerja. Yang jelas tetap mengedepankan protokol kesehatan Covid-19. Setelah makan siang, kami memesan kopi hitam manis.

Sambil menikmati kopi, penulis menanyakan suka dan duka jadi relawan Covid-19. Dengan wajah yang murung, mata berkaca-kaca seolah tak sanggup bercerita, akhirnya Hasan menceritakan suka dan duka diruang isolasi Covid-19.

“Sebenarnya saya tidak sanggup mengerjakan pekerjaan ini mas. Tapi demi kebutuhan sehari-hari, saya akhirnya pasrah dan bertanggung jawab atas pekerjaan ini. Hari pertama kerja dengan melayani pasien Covid, rasa ketakutan akan menularnya virus terus menghantui,” kata Hasan.

Relawan yang satu ini mempunyai dua anak laki-laki. Satu sudah duduk di sekolah dasar kelas 5 dan satunya lagi masih berumur 4 tahun. Sedangkan istri Hasan hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Sejak bekerja sebagai relawan Covid-19 Kabupaten Batanghari Jambi, Hasan jarang sekali pulang kerumah karena harus mengikuti aturan. Jika rindu sama keluarganya, hanya dengan Video Call.

Untuk honor yang diterima Hasan hanya cukup buat memenuhi kebutuhan keluarga. “Honor saya Rp 1.500.000. Cukuplah mas buat kebutuhan hidup saya. Kalau tidak bekerja kami mau makan apa. Istri saya hanya seorang pembantu rumah tangga,” ungkap Hasan.

Ternyata tidak gampang menjadi relawan Covid-19, selain bertaruh nyawa karena sehari-hari bersama pasien Covid, Hasan juga merasa dijauhi keluarga. “Pernah saya pulang kerumah, tetangga dan keluarga takut dengan saya. Mereka takut kena Covid karena saya pengurus pasien positif Covid,” kata Hasan.

Bukan hanya Hasan, sejak dirinya bekerja sebagai relawan Covid-19, istri dan anak-anaknya juga dijauhi warga sekitar rumah. “Itulah sedihnya mas, saya yang bekerja, malah istri dan anak-anak saya dijauhi warga sekitar rumah saya,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah saat bekerja selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) ? dengan tegas Hasan mengatakan selalu menggunakan APD.

“Untuk APD nya lengkap mas, ketika gantian sift dengan teman, saya bergegas mandi bersih-bersih. Yang jelas sebagai manusia biasa saya juga takut mas. Tapi mau diapakan lagi mas kan sudah tanggung jawab saya,” katanya.

Hasan mengaku bersyukur mendapatkan kerja sebagai relawan Covid-19. “Cari kerjaan susah mas, apalagi dimasa pandemi ini. Iya syukuri sajalah mas yang penting halal. Selama saya menjadi relawan Covid, rindu dengan keluarga taj terbendung. Apalagi saat istirahat pergantian sift. Hanya melihat dari Handphone wajah anak dan istri. Alhamdulillah komunikasi dengan keluarga lancar dan keluarga saya sehat semua,” terangnya.

Lebih jauh Hasan menceritakan duka menjadi relawan Covid. Untuk serangan penyakit Covid-19 siapa yang tahu.

“Saya berserah diri dengan Allah SWT. Semoga dengan pekerjaan ini saya baik-baik saja. Kalau tuhan meridhoi kita, yakinlah akan baik-baik saja. Kalau dipikir-pikir mas, status OTG saja bisa kena Covid. Kalaupun saya nantinya kena Covid-19, saya pasrah saja karena nasip kita sudah diatur sama yang kuasa,” kata Hasan si Relawan Covid-19.

Perbincangan penulis dengan relawan Covid-19 Kabupaten Batanghari Jambi cukup alot. Hampir dua jam bercerita dirumah makan Muarabulian.

Usai menceritakan kisahnya sebagai relawan virus mematikan itu, Hasan langsung pamit pulang karena dua jam kedepan dirinya akan masuk kerja lagi. Sebelum pulang Hasan berpesan agar selalu mengikuti aturan protokol kesehatan Covid-19.

“Covid-19 jangan di anggap remeh. Ikuti aturan protokol kesehatan. Hanya dengan cara itu kita bisa memutus mata rantai penyebaran virus corona,” ungkap Hasan.***

Kategori Kesehatan

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.